Ditulis dalam Belajar Diajari, Curhat!, Kajian Dimensi Populer, Kata Berkata | yang berkaitan Dewa, FSRD, ITB, Marah, Ngoceh, Sialan | 3 Komentar »
Rasa-rasanya…semakin hari saya semakin mendekati padang rumput bernama ataraxia. Saya tahu mungkin itu semacam kesalahan di mata Anda. Semacam langkah salah menuju neraka menghancurkan diri sendiri. Saya juga tahu apa yang saya senangi belum tentu baik untuk saya. Tetapi juga belum tentu baik untuk Anda. Maka wajar saja seringkali Anda tidak menyukai apa-apa yang ada di otak saya, di ucapan saya, atau apapun. Hanya karena tidak menyukainya dan menganggap salah perkataan itu, mudah untuk tidak menyukainya. Akan tetapi saya bisa berbalik demikian. Saya tidak menyukai segala yang Anda katakan.
Saya jahat. Memang saya ini manusia rendah yang jahat. Saya bukan apa-apa. Saya hanya manusia yang kotor yang terbuat dari setetes air kotor yang keluar dari tempat yang hina. Sehingga saya tak punya kehendak apapun untuk sesuatu yang indah. Karena saya hanya seorang yang hina. Seekor babi tidak pernah diberikan kandang yang penuh dengan wewangian karena mereka menyukai kubangan. Maka apa bedanya saya yang seperti itu? Sehingga saya ini makhluk jahat yang kotor dan rendah. Dan saya tidak menyukai apa yang Anda katakan.
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Curhat!, Kajian Dimensi Populer | yang berkaitan Anime, Filsafat, Kebijakan, Kejahatan, Manusia, Renungan | 3 Komentar »
Apalah arti sebuah nama kebanggaan?
Ya, apa artinya? Jawabannya seperti ini:
Ulama mode: “kebanggaan di mata manusia tidak ada artinya dengan keimanan di mata Allah swt.”
Ksatria negeri timur mode: “kebanggaanku adalah diriku, pedangku, ikat rambutku. aku rela mati demi kebanggaanku.”
Manusia Rendahan mode: “jangan rusak imejku sebagai orang yang keren! aku ini terkenal karena gayaku yang keren tahu!”
Mode saya…
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Berbicara dengan Gaia, Kajian Dimensi Populer, Melirik Politik | yang berkaitan Filsafat, Manusia, Percikan, Renungan | 4 Komentar »
Bangsat itu nama hewan. Lantas kenapa? Hanya merasa kasihan dengan hewan itu, namanya dipakai untuk hal yang buruk. Tetapi apa si hewan yang meminta nama seperti itu. Kambing pernah salah sesuatu sampai-sampai ada sebutan kambing congek. Apa salahnya kalau si kambing tidak memperhatikan pidato karena toh di kambing, mana ngerti hal-hal begituan.
Siapa yang pintar akan menguasai dunia tetapi siapa yang menguasai dunia akan merusak dunia. Apa kesimpulannya siapa yang pintar akan merusak dunia
Tentunya akan ada gelombang protes bertanya kenapa yang pintar merusak dunia. Karena mereka pintar tentunya mereka akan merasa menjadi yang paling benar, karena pintar. Mereka yang bodoh salah karena mereka bodoh. Sederhana saja.
Siapa yang menguasai dunia akan mendapat kehendak atas dunia. Kehendaknya menjadi nasib dunia. Kehendaknya adalah nafsunya, nafsunya adalah sisi lainnya. Ketika kehendaknya mengubah dunia maka dunia akan rusak. Apa ini keputusan yang terlalu cepat? Memang.
Kerusakan hanya akan datang dari yang berilmu. Mereka yang bodoh tidak akan merusak karena mereka tidak tahu apa-apa. Karena ketidaktahuan mereka juga itulah ketakutan membuat mereka menjadi sempit. Mereka tidak berani melakukan sesuatu lebih jauh. Sedangkan mereka yang pintar akan dengan yakin melompat jauh dengan satu langkah kecil mereka. Satu lompatan besar itu akan memecah lapisan es yang rapuh. Tetapi satu langkah ketakutan mereka yang bodoh akan membuat retakan kecil yang membuat mundur si bodoh pengecut.
Pertanyaannya sekarang, manakah yang lebih baik? Menjadi pintar dan merusak lebih banyak, menjadi bodoh tetapi pintar?
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Berbicara dengan Gaia | yang berkaitan Filsafat, Renungan, Percikan, Pintar, Bodoh | 6 Komentar »
Ini cuma iseng-iseng lantaran saya gemas melihat keberadaan deskripsi sebuah grup di fesbuk.
Awalnya ini diproteksi biar keren.
Nama grupnya…yah tebak aja dari yang saya utarakan. Saya cuma mau menyanggah deskripsinya yang menurut saya dibuat asal jeblak dan tak dipikir panjang. Apa cuma main-main atau serius saya kurang tahu deh. Mudah-mudahan sih cuma main-main karena ini juga main-main yang serius. Seperti main-main kompor spiritus di lab. biologi.
1. Kami lebih besar, dan merupakan negara terbesar di Asia Tenggara. (err…apakah itu menjamin kehebatan kita? besar tapi bodoh?)
2. Jumlah penduduk kami lebih banyak, dan kami bangga akan hal itu!!! (makin banyak penduduk bukannya makin susah, positifnya tentara mungkin lebih banyak. tapi masa kita cuma mau jago adu jotos doang.)
3. Ambil saja Sipadan dan Ligitan, kami masih punya puluhan ribu pulau…HAHAHA!!!, mau lagi, silahkan ambil… (kalo terus-terusan diambil sekalian aja ambil pulau Jawa.)
4. Haduh, kasian yah Malaysia, kagak punya tradisi tersendiri….uuppppssss, malah ambil Batik ama Angklung Indonesia….kami masih punya banyak kok di Indonesia…tenang saja…mau SOTO??, NASI GORENG??, RENDANG??…apa???…mau apa???…silahkan… (okeh, saya ngaku kalah kali ini….)
5. Tetangga kita itu PEMALAS!!!, so mereka sewa org2 Indonesia buat cuci piring, ngepel, dsb…(well, efek samping dari nomor 2. mungkin mereka semua yang sedkit itu sibuk di lab atau di depan komputer. kalo kita kan banyaknya sibuk di depan meja gaple)
6. Well, at least kita pernah ada Presiden Wanita..haha! (tapi apakah membanggakan?)
7. haduh, MALAYSIA itu d mana yah? (pernah belajar geografi enggak?)
8. liat aja nama Ibukotanya, wakakakaka… (nama “Jakarta” sendiri menurut saya terasa sedikit narsis)
9. Bahasa Melayu = Bahasa Indonesia yg salah!!! (jangan ditiru teman2!!!)…bayangin aja… pintu darurat di pesawat dinamakan Pintu panik-panik…wakakakaka (FYI Bahasa Indonesia sendiri merupakan gado-gado bahasa. Secara sebenarnya bisa dibilang juga Bahasa kita adalah penyempurnaan dari Bahasa Melayu. Mungkin kita bisa bilang Bahasa Melayu salah karena tidak sering diupgrade seperti Bahasa Indonesia. Tetapi saya rasa orang Inggris juga bakal tersenyum melihat kita menyerap bahasa mereka menjadi bahasa sehari-hari kita)
10. Bali di mana yaaa??? (ada di Indonesia memang…tapi orang kita juga banyak yang suka ke Malaysia. singkatnya semua punya kelebihan dan kekurangan tho?)
11. haduh, siapa org Malaysia kagak taw Sheila On 7, Ungu, Padi, Krisdayanti, Agnes Monica, Titik Puspa, dll…dan kita hanya tau Siti Nurhaliza…wakakakaka (ah, musik ya? tidak mau komentar deh…kebetulan saya sendiri cuma suka Nidji sama Letto [Padi lumayan suka sih sama kayak Sheila on 7 juga lumayan suka])
12. oia, kami itu INDONESIA, bukan INDON, jadi STOP PANGGIL KAMI INI INDON!!! (supaya adil…hentikan penyebutan Malingsia atau Malon dong. Sekalian berdamai)
13. Coba hitung negara d dunia yg d dalam benderanya ada bulan / bintang, dan bandingkan negara di dunia yg merah putih (hmmm….cuma Indonesia & Monaco tuh!!!)..HAHA! (FYI Polandia juga meskipun dibalik…Belanda juga ada merah putihnya…halah)
14. Udah berapa banyak situs Malaysia yg dibajak org Indonesia?…
(wadehek?)
Bukannya saya pro Malaysia atau tidak Nasionalis lho. Nasionalisme dan Patriotisme kan juga punya mata, yang tidak punya mata kan hukum.
Kenapa saya bisa kepikiran seperti ini? Cuma untuk menunjukkan harga diri Indonesia kok. Meskipun saya ini bukan tipe orang yang Nasionalis tapi soal harga diri saya memegang paham Samurai. Habisnya kok mau “mengganyang” malah menjatuhkan harga diri sendiri [mengganyang diri sendiri?].
Ditulis dalam Curhat!, Kajian Dimensi Populer, Santai Sejenak | yang berkaitan Facebook, Iseng, Malaysia, Ngoceh | 5 Komentar »
Pertama-tama, saya mau menyampaikan permohonan maaf kepada Ujang. Berhubung saya telah memakai namanya secara sepihak untuk beberapa hal dalam tulisan kali ini.
Tulisan kali ini, seperti yang terjadi bulan lalu, tulisan penuh rasa iseng tanpa keinginan yang besar. Setelah dipikir-pikir rasanya saya sudah tidak memiliki keinginan besar lagi sejak beberapa bulan lalu. Saya sudah tidak ingin menjadi seorang polisi lagi. Saya sudah tidak ingin menjadi programmer lagi. Juga sudah lepas keinginan saya menjadi artis terkenal (bukan pemain film, apalagi di Endonesia. habisnya artis jadi memiliki konotasi jelek gara-gara pemain sinetron dan selebritis goblok itu). Apa yang tersisa hanya keinginan mencari kebijakan. Tapi sudahlah…
Kisahnya begini, bulan April lalu UN sudah saya lewati. Begitu pula Ujian Sekolah. Tanpa terasa juga rupanya Ujian Mandiri UGM pun sudah saya lakoni. Kemudian beberapa hari yang lalu Ujian Saringan Masuk FSRD ITB baru saja saya lewati, tak lupa Ujian Mandiri Bersama akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Seluruh ujian itu bisa dibilang ritual wajib anak kelas 3 SMA zaman sekarang. Banyak rupa-rupa ujian kita temui, dengan beragam mata pelajaran pula. Dari yang paling rumit seperti Fisika sampai paling tidak jelas seperti Agama atau Komputer. Satu kesamaan dari semuanya adalah seluruhnya adalah ujian tertulis, ujian tertulis yang tertutup. Tidak jelas seberapa transparan dan betapa lama menunggu hasilnya. Nah, ada apa sampai-sampai rasanya seluruh itu sakral sekali saya tulis? Lanjutkan saja.
Ditulis dalam Belajar Diajari, Curhat!, Tanpa Makna | yang berkaitan Ngawur, Pendidikan, UN | 5 Komentar »
[TULISAN ORANG GILA, JANGAN DIANGGAP SERIUS]
Yakin sudah membaca tulisan merah yang ada di atas? Kalu sudah, silakan lanjutkan. Selamat datang di dunia penuh kegilaan tanpa aturan.
Bebrapa waktu yang lalu, waktu saya sedang penasaran dengan yang namanya film FITNA. Saya melintas pada sebuah pendapat di dunia blog WP yang cukup menarik. Tapi mungkin juga pendapat ini bisa ditelajangi oleh pihak-pihak yang getol banget menyiarkan Islam di bumi Indonesia yang berwarna-warni ini. Pendapatnya sederhana dan memang ketimbang bersifat agamis lebih bersifat humanis. Tidak bisa dibilang berorientasi pada kemenangan suatu agama, hanya berorientasi untuk kerukunan dan perenungan perspektif.
Yang mau saya utarakan di sini adalah yaa… masalah perspektif itu. Perpsektif apa yang kita gunakan ketika dihadapkan pada sebuah masalah mengenai kerukunan antar agama dan kekuatan (kemurnian, keabsolutan, apapun Anda menyebutnya) suatu agama. Apakah itu? Mungkin lebih mudah jika langsung disebutkan kasusnya.
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Kajian Dimensi Populer | yang berkaitan Paradoks, Perspektif, Renungan | 10 Komentar »
Sebuah kutipan dari Kakek Einstein,
I do not know with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones.
Nonton berita di televisi belakangan ini. Sering dijumpai berita antara topik pemblokiran situs-situs atau film FITNA. Penasaran sama keduanya, dan kebetulan ada kaitannya juga dengan Youtube yang diblok gara-gara film itu. Makinlah penasaran, telusur punya telusur sampailah pada berita di Antara soal FITNA dan Youtube di Indonesia.
Ditulis dalam Berbicara dengan Gaia, Kajian Dimensi Populer, Melirik Politik | yang berkaitan Blokir, Indonesia, Krisis, Opini, Pemanasan Global, Perang, Skenario | 14 Komentar »
Lagi pusing.
Terlalu banyak pikiran. Memikirkan mau pergi ke mana setelah lari dari rumah. Mencari cara agar orang bisa mengerti dan orang bisa melihat saya apa adanya. Bisa membuat semuanya berubah.
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Sureal, Tanpa Makna | 5 Komentar »
Ya, judulnya mirip sama judul entri saya dulu. Tapi ini hal yang berbeda.
Jum’at (29/2) kemarin, ada kerabat saya yang meninggalkan dunia ini. Karena sakit, gagal ginjal menurut dokter. Sudah terlambat sejak dibawa ke rumah sakit 10 hari yang lalu. Kebetulan saya yang mengantar ke rumah sakit, kebetulan juga itu kali terakhir saya melihatnya. Selama dirawat saya tidak sempat menjenguk gara-gara disibukkan sekolah.
Lalu? Ini kesekian kalinya saya mengalami kejadian seperti ini. Kerabat dekat harus pergi mendahului saya. Tapi baru kali ini saya mendapat pelajaran. Sesuatu mengenai kematian dan kenangan. Ketika jenazah sampai di rumah saya tidak berada di rumah, sehingga saya harus menunggu sampai malam (karena macet di Pulo Gadung) untuk sampai di rumah. Karena kabar saya dapat saat maghrib ketika saya berada di Kelapa Gading. Sesampai di rumah, saya memutuskan tidak mau melihat jenazah. Karena anggapan saya biarkan saja kenangan terakhir saya tentangnya adalah saat terakhir saya mengantarnya ke rumah sakit, karena itu saat di mana (terakhir kalinya) saya melihat kehidupan dan keinginan hidup sewajarnya makhluk hidup. Maka saya memutuskan untuk mengingat saat-saat terakhirnya adalah saat-saat terbaik terakhirnya, agar saya tidak sedih dan merasa kehilangan. Meskipun tentu saja ada kesedihan tetapi saya tidak boleh selalu mengingat kesedihan dan kematian itu. Ingat kehidupannya ketika mengingat kerabat dekat kita yang sudah mendahului kita.
Maka begitulah kematian untuk saya.
p.s. yang mati itu kucing saya, namanya Sapi bin Fulan. dan saya baru aja nonton Ayat-Ayat Cinta Sabtu kemarin, bagus. Apalagi… (kyaa…!)
Ditulis dalam Belajar Filsafat, Curhat! | yang berkaitan Ajaran, Curhat, Duka Cita, Manfaat | 7 Komentar »



