Di sekolah saya sering ditegur karena sering tidur. Ketika ditanya kenapa sering tertidur saya jawab saja, “Karena saya mengantuk.”
Tapi lebih dari itu sebenarnya karena saya membenci sekolah. What the Heaven??!
Apa kau sadar apa yang kau ucapkan?!
Sangat sadar dan yakin. Karena memang begitu adanya. Ditambah saya berada di jurusan
yang salah makinlah saya malas (dan benci) untuk bersekolah. Masa bodoh dengan semboyan,
“Aaayooo sekolaaah~” selama saya tidak bisa bebas di sekolah.
Kalau Anda berniat melanjutkan membaca. Lanjutannya adalah yaa bisa dibilang sekilas kritik
saya terhadap pelajaran eksak di sekolah saya. Agak melenceng tapi bisa dibilang saya ingin
membuka dengan santai.
Begini tulisan saya berkaitan dengan itu…
Indonesia: Antara Budaya, Globalisasi, dan Remaja
Indonesia, negeri seribu budaya. Mungkin ucapan itu bisa dibilang konotasi yang hiperbola. Karena benar tidaknya saya tidak tahu, berhubung saya belum pernah menghitung jumlah aktualnya. Tetapi benar adanya Indonsia adalah negeri dengan aneka ragam budaya. Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau. Hidup beragam suku, agama, ras. Ditambah belakangan ini dengan isu-isu globalisasi memasukkan serta budaya asing. Tetapi karena sejak awal kepulauan ini telah beragam rupa maka dari dulu juga kita mengenal Bhineka Tunggal Ika.
Apa kaitan antara budaya dengan sejarah? Kemudian dari situ bisakah kita kaitkan dengan pendidikan di Indonesia, bisa. Isu utama mengenai budaya di dunia ini adalah globalisasi. Globalisasi membawa serta asimilasi global yang banyak ditakutkan oleh banyak orang memakan budaya-budaya lama. Menghasilkan satu budaya global yang memusnahkan budaya lama. Adakah kaitan ini dengan Indonesia? Isu di atas tentu cukup relevan di Indonesia. Kita ambil sorotan pada remaja Indonesia sekarang ini. Mereka jelas adalah unsur yang paling terpengaruh globalisasi sekarang ini. Mereka berlomba-lomba menyamakan diri mereka dengan artis-artis kesukaan mereka. Tak jarang yang mereka ikuti adalah artis luar negeri dengan kebudayaan asing bagi Indonesia. Sehingga tak jarang juga kita temukan fakta bahwa remaja kita lebih bangga menggunakan jeans ketimbang batik. Bahkan mengingat ucapan guru sosiologi saya fenomena hipster yang merambahi remaja kini pun salah satu bentuk betapa remaja kita telah meninggalkan identitas sebagai orang timur. Maka timbul satu pertanyaan yang sangat bagus. Ketika kita melihat remaja-remaja kita lebih berkiblat pada budaya barat dan meninggalkan budaya asli kita, inikah masa depan budaya kita?
Haruskah kita bertanya mengapa bila kita belum mengetahui apa yang ada di diri mereka. Menurut pendapat saya sebagai seorang remaja saya bisa menyimpulkan setidaknya 3 penyebab. Pertama adalah naluri remaja yang penuh rasa ingin tahu akan sesuatu yang baru. Kedua, berkaitan dengan sebelumnya, adalah tuntutan pergaulan. Sedangkan yang ketiga adalah karena pendidikan sekolah sendiri. Saya tidak bermaksud sarkas terhadap sekolah hanya karena saya tidak suka terhadap sekolah tetapi inilah kesimpulan saya.
Memang tak bisa dipungkiri bahwa remaja adalah masa-masa di mana kita mencari sesuatu yang baru. Saya pun mencari sesuatu yang baru ketika remaja. Tetapi saya bersyukur apa yang saya pilih adalah ketertarikan terhadapa literatur dan budaya ketimbang hal-hal mode. Akan tetapi tak sedikit yang karena pengaruh pergaulan dan informasi di era keterbukaan ini justru seolah tenggelam dalam pengaruh barat. Padahal kita tahu budaya barat sangat bertolak belakang dengan budaya timur. Sebut saja pakaian terbuka, pergaulan bebas, terkadang menjurus ke borjuis dan hedonis. Meskipun begitu kita tetap tidak bisa menghindari bahwa barat juga memberi kemudahan dengan perkembangan teknologinya. Tetapi seharusnya kita juga memilah mana yang baik dan mana yang buruk. Janganlah kita menerima mentah-mentah seluruh adat-istiadat yang mereka bawa. Tetapi sayangnya tidak semua remaja bisa berpikir seperti ini. Mereka butuh bimbingan dalam menerima hal baru ini. Tetapi kurangnya bimbingan, tuntutan pergaulan, dan sebab-sebab lainnya membuat mereka justru menikmati budaya baru ini. Mereka terbuai dan akhirnya mereka mencap bahwa budaya lama mereka hanya sebagai sejarah. Lebih parah jika melupakannya, bisa-bisa budaya kita musnah. Untuk menghindari naluri alamiah mungkinlah amat sulit. Tetapi setidaknya kita, sebagai remaja, belajarlah memilah. Berusahalah mencintai negeri sendiri karena masalah budaya ini bisa dibuilang salah satu bentuk masalah nasionalisme.
Sudah disebut sebelumnya akibat perkumpulan remaja yang penasaran timbullah satu komunitas yang mereka sebut solider. Kemudian ketika ada seorang remaja lain masuk dalam komunitas itu mereka mau tidak mau mengikuti apa yang komunitas itu lakukan agar diterima. Haruskah seperti ini? Maksudnya haruskah kita menanggalkan identitas kita hanya untuk diterima dalam sebuah komunitas. Memang kita harus menyesuaikan diri dengan komunitas tetapi apakah kita harus melakukan sampai sana. Pergaulan remaja mungkin adalah sesuatu yang rumit mereka banyak menuntut ketika seseorang berusaha masuk ke dalam lingkaran mereka. Sehingga tak jarang pergaulan itu justru menjadi sebuah simbiosis parasitisme. Seorang dari mereka sampai rela mengorbankan waktu dan harta mereka hanya demi diterima. Bahkan sampai melepas identitas tanpa pikir panjang.
Lalu apa yang membuat remaja seolah tidak memiliki rasa cinta terhadap budaya mereka? Menurut saya penyebab terakhir dan utama bermula pada sistem pendidikan. Budaya adalah bisa dibilang peninggalan sejarah. Tetapi kenyataannya siswa remaja sekarang lebih sibuk mengurusi pelajaran eksak atau ekonomi dalam pelajaran mereka. Tak lain hanya karena mata pelajaran sejarah tak diujikan dalam UN. Sehingga timbul pada mereka perasaan meremehkan pelajaran sejarah. Mereka mengganggap bahwa pelajaran sejarah itu tidak perlu. Salah satu pernyataan yang sangat keras dari mereka adalah, “Kita hidup untuk masa depan. Untuk apa belajar masa lalu?”. Terlebih lagi pernah juga saya mendengar komentar mengenai pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, “Kita orang Indonesia, buat apa belajar bahasa Indonesia?”. Seperti kita tahu bahas, budaya, dan sejarah cukup berkaitan. Mengapa bisa seperti ini?
Menurut saya penyebabnya adalah karena pelajaran mereka. Semenjak kecil mereka seolah mendapat kesan bahwa eksak adalah penting. Kemudian seiring timbulnya ketertarikan akan eksak yang notabene cukup berbau barat mereka jadi berpikir futuristik. Tetapi sayang pikiran futuristik yang ada di dalam pikiran mereka adalah pengaruh dari barat. Sekali lagi ini kembali pada sifat remaja yang mudah terpengaruh. Karena pikiran futuristik-barat itu sehingga tak aneh kalau mereka bisa menerima begitu saja kebudayaan barat dan meninggalkan budaya asli mereka yang anggap kuno. Seharusnya selain fokus pada pelajaran yang diujikan dalam UN sistem pendidikan Indonesia juga harus memberi penekanan lebih banyak pada pelajaran sejarah. Sungguh ironis kalau kita berteriak-teriak lestarikan budaya sedangkan untuk belajar sejarah saja kita enggan.
Sehingga pada akhirnya seluruh pelunturan budaya dalam negeri ini mengacu pada dua hal. Globalisasi yang didominasi barat sehingga justru lebih pantas disebut Baratisasi. Sedangkan hal lainnya adalah ujian bagi remaja tentang rasa nasionalisme mereka. Karena saya juga tak jarang menemukan ucapan bahwa remaja kita sekarang lebih bangga terhadap bangsa asing. Contoh mudahnya adalah ketika mereka mengumbar produk made in… mereka tetapi sama sekali diam ketika membicarakan produk made in Indonesia. Padahal toh kalau saja mereka tahu sejarah budaya kita mereka akan tahu bahwa sebenarnya sejarah kita juga memiliki banyak unsur asing.
Annas A. Azis
Jakarta, 2 Mei 2007
00.26 WIB
Protes!
Judulnya tidak sesuai dengan tulisan yang mengagumkan ini.
*Cekikik sambil melongo [gimana caranya?]
Aih, sangat tidak nyambung memang. Saya mengakuinya. Meskipun menurut saya masih menyinggung sedikit.
Alasannya:
Judulnya mengatakan saya gila. Karena ketika menulis saya merasa menjadi orang gila yang terlalu banyak protes kosong.
Yah, intinya karena pemikiran seperti dalam tulisan inilah saya dibilang gila oleh beberapa teman saya. Juga guru secara tidak langsung dan orang tua.
Dasar Gila! Orang gila kok nulis gila?!!
Gak deng… Cuma bercanda kok.. Lagian lo kan ga gila… Masa cuma tidur di kelas dibilang gila.. Kalo lo tidur, lo bukannya gila, tapi ngantuk…
Masalahnya memang ada guru yang berpikir seperti Anda?
Guru-guru terlalu naif dengan segala kebusukan mereka (waduh, kalo I**n baca gimana nih?).
Ohohooo… Seorang revolusioner, awalnya dibenci, dijauhi, diremehkan, dicaci, diblablabla… Tapi begitu ia meninggalkan dunia ini, dia akan dikenang sebagai tokoh besar.
Hmm.. akhirnya sempat baca
Setuju. Solider yang seringkali diungkit-ungkit (terutama yang kebetulan di lingkungan sekolah saya) hanyalah omong kosong. Sekedar alat untuk mencapai tujuan mayoritas yang tidak benar-benar diinginkan oleh semua elemen kelompok.
Seperti pada contohnya, kasus pensi (mengambil contoh di sekolah saya). Dikatakan kalau ngga membantu ngga solider. Apa kaitannya dengan kebersamaan kelompok, solidaritas yang sebenarnya? Kalau mau ditanya, siapakah yang benar-benar menginginkan adanya pensi? Sebagian besar hanya menjawab “Biar solider”, atau semacamnya. Hm.. saya tahunya justru solder. Yang menginginkan pensi sebenarnya hanya sedikit, tapi karena ‘pengaruh’nya yang luas maka dia bisa membentuk kelompok mayoritas.
Wah, jadi panjang
Ditunggu tulisannya lagi.
Weleh…kok jadi luas ya?
numpang baca, lagi blog walking, tulisan yang bagus
I was full of curiosity while reading your blog… and being speechless for admiring it…
Two thumbs up, even four (with my feet’s thumbs). I am proud of you (always, if you want to know more). It seems that it was genetic that we find a lot of difficulties to express our feeling….
Forgive us if you think that we are never exist, but I want you to know that you are always one of our beloved nephews, however you are ……
All the best !!!
Life is a struggle, and it won’t stop there…..
hai temennnn!!!!klo pusing dengan bangsa ini,pindah minggat aza………………hee.klo memeng km perduli ma bngsa ne coba buktiin apa yang km uda klakuin untuk memperbaiki negara ne….apa???????????????klo belum da.sabar-sabar aza lah bro.santai aza .perbanyak aza amal mu.ingat tuhan…..