Pernyataan sarkas yang saya gunakan sebagai judul entry ini langsung terlontar siang itu. Benar-benar sebuah momen yang cukup menyebalkan selama 11 tahun pengalaman saya di dunia pendidikan Indonesia yang busuk.

Arvie: Kenapa ada gambar ini di sini?
Rey: Biasalah…
Saia: ~hanya bersiul…
Sekolah benar-benar mengesalkan. Apalagi sekolah zaman sekarang. Bukannya membuat siswanya pintar dan kreatif menurut saya justru sekolah adalah pembodohan masal yang pakai bayar mahal. Bayangkan saja betapa anehnya ketika siswa bukannya dituntut melakukan pengembangan diri justru dituntut memohon-mohon pada guru bermulut busuk untuk meminta perbaikan nilai. Kalau tidak mau akan dicap sebagai anak bodoh atau tidak patuh.
Lalu siswa juga bukannya dituntut menemukan cara atau mengembangkan kreatifitas sendiri justru disuruh mengcopy-paste gurunya sendiri. Bagi mereka yang lebih baik daripada guru akan dicap sebagai tidak patuh (lagi), sok tahu, atau bahkan disalah-salahkan. Walaupun sebelumnya diberi pujian palsu.
Begitulah potret singkat hubungan murid dan guru di Indonesia. Dari dua contoh di atas setidaknya saya bisamenarik dua kesimpulan.
- Budaya memvonis masih sangat lazim di Indonesia. Apalagi kalau dilakukan oleh mereka yang berkuasa di atas. Buktinya lihat saja di atas. Sedikit saja melakukan di luar keinginan guru langsung dicap tak patuh, bodoh, goblok, dsb. Apalagi kalau berusaha mengkritik atau melebihi guru. Bisa runyam karena bisa dicap sok tahu atau yang terparah adalah dibuat seolah-olah kita salah.
Guru zaman sekarang terlalu terlena dengan puluhan tahun memgang kuasa pembelajaran. Murid zaman dahulu mungkin bisa duduk diam mendengarkan apa yang mereka katakan. Tetapi zaman sekarang sudah tidak zamannya lagi duduk diam mendengar cuap-cuap geblek guru di depan. - Berkaitan dengan yang di ata, bahwa di Indonesia belum ada demokrasi. Meskipun pemerintah sudah teriak-teriak sampai dehidrasi bahwa demokrasi akan ditegakkan. Meskipun pemilos diadakan setiap tahun di sekolah-sekolah. Karena fakta bahwa yang di atas (guru) masih dengan mutlak menguasai yang di bawah (murid). Mereka (guru) sama sekali tidak boleh dikriti, mereka adalah dewa dan murid adalah budak yang sama sekali tidak pantas masuk dalam kasta. Murid hanya perlu diam mendengarkan guru. Mereka tidak perlu berbicara sehingga guru dapat bercuap-cuap seperti tadi di dalam kelas kuburan dengan murid sebagai tak lebih dari mayat. Guru adalah penggali kubur yang memasukkan murid-muridnya ke lubang gelap bernama kuburan kreatifitas.
Baiklah selesai pembukaan.
Arvie: Hah, sepanjang itu baru pembukaan??!
Saia: Kenapa terkejut?
Jadi begitu tadi pembukaannya. Memang begitulah yang saya rasakan dan perhatikan. Dari situ saya membuat dua lagi pernyataan besar sekaligus arogan dan sombong.
- “Aku tidak butuh guru!”
Sebuah pernyataan sombong eh? Tapi itulah yang saya rasakan kalau guru seperti di atas. Benar-benar membuang-buang waktu dan kepintaran saya kalau menghabiskan waktu dengan manusia bodoh macam itu. Lebih baik saya melakukan autodidak dan belajar dari guru yang semua orang punyadan gratisyaitu pengalaman.
Apa asal-usul pernyataan ini? Asal-usulnya karena guru-guru yang brengsek itu. Saya heran masih pantaskah mereka disebut guru ketika mereka menghindar ketika saya bertanya lebih jauh mengenai suatu topik pelajaran. Juga ketika mereka menghina-dina saya ketika nilai saya tak memuaskanbirahimereka.
Maka inilah cerita yang dari tadi ingin saya sampaikan:Sore itu bel pulang sekolah sudah berbunyi. Saya pun meninggalkan kelas dan berjalan-jalan menunggu ekskul dimulai (karena kebetulan itu hari ekskul). Sambil menghabiskan waktu iseng saya masuk ke laboratorium biologi. Satu-satunya ruangan berbau IPA yang saya sukai. Dengan bau air keras dari spesimen-spesimen tua yang berjejer di belakang hingga model tulang belulang dan otot manusia yang unjuk gigi di depan menjadi favorit saya. Saya pun memasuki ruangan tersebut tanpa ragu. Berkeliling sebentar dengan berusaha tidak mengganggu guru biologi yang sedang mengetik saya melihat-lihat isi ruangan itu. Sampai sini tidak ada masalah. Masalah muncul ketika perhatian saya tertuju pada sebuah buku. Buku itu terhimpit di antara buku-buku teks milik siswa yang tertinggal. Tetapi kesan resmi jelas terasa di buku itu, buku itu jelas bukan buku yang tertinggal. Buku mengenai pencemaran lingkungan, topik kesukaanku, itu pun tanpa ragu kuambil. Dengan harapan dapat kupinjam. Tetapi betapa marah, kecewa, dan jengkelnya ketika justru teguran yang kudapat. Bukannya meberikan tawaran agar bisa membaca dengan lebih baik aku justru diberi perintah untuk mengembalikan buku dengan wajah keras. Guru macam apa yang menghalang-halangi muridnya mendapatkan ilmu sendiri?Aku malas berdebat sore itu sehingga aku pun langsung meninggalkan ruangan dengan kesal dan meninju tiang di depan ruangan itu dan pulang begitu mengetahui tidak diadakan ekskul hari itu. Bahkan aku belum sempat membuka selembar pun buku itu.
- “Aku lebih baik dari kalian! Lihatlah! Aku lebih baik dari mereka yang kau banggakan!!”
Pernyataan ini berbeda dari sebelumnya. Tidak sepenuhnya antara guru dan murid. Tetapi murid-murid-guru. Aku hanya dapat menjelaskan singkat untuk yang ini. Aku 100% merasa bahwa aku jauh lebih baik dari mereka yang mendapat rengking satu di ujian semester bahkan menjuarai olimpiade sains. Sedangkan aku tak lebih dari murid belakang dengan nilai pas-pasan dan selalu dicerca guru. Sementar mereka dengan puas dan pongahnya mendengar pujian dari guru mereka. Tetapi setidaknya aku sudah membuang sampah organik di tempat sampah khusus organik dan non-organik di tempat sampah khusus non-organik. Tidak seperti mereka yang masih membuang gelas plastik air mineral dalam kemasan di tong sampah berwarna oranye yang bersebelahan dengan tong sampah berwarna biru.
—
Asal tahu saja…ng?
- Sekali lagi gambar Iwakura Lain boleh menemukan di komputer sekolah.
- Anda sudah pintar kok…
Eheheheee… Saya jadi ingat sama Kisah
PerguruanTiga Negara.Ah, begini saja…
1. Guru selalu benar.
2. Kalo guru salah, baca peraturan pertama.
Heheheee… Tulisan ini harus dibaca oleh Mr. kangguru, Mr. deKing, dan Mr. HelgeDuelBek, nih, serta anggota komunitas BlogGuru lainnya
Ahem, komen saya yang pertama dimoderasi nih… mtolong lepaskan dong~
Itu sih UU Raja zaman dahulu kala…
Heh, apa jadinya kalau guru yang membaca tulisan ini.
Barangkali, mungkin, bisa jadi, siapa tahu, ini sebabnya. Guru zaman sekarang (yang nota bene murid zaman dahulu) terbiasa dengan komunikasi satu arah antara guru dan murid…?
Btw, itu ‘kebanyakan’, ya
Bukannya generalisasi…
Ya saya hadir hehehe…
Lho emang gitu ya? Wah berarti saya kurang pergaulan nih krn saya tidak tahu kalau hal tsb terjadi…
Kalau saya sih selama ini tidak pernah menuntut siswa untuk melakukan perbaikan nilai apapun karena saya selalu menekankan pada siswa kalau apapun yang mereka lakukan itu hasilnya untuk mereka sendiri…bukan untuk saya (sebagai guru)…jadi silakan mau santai2 atau mau serius…
Semua manfaat maupun kerugian sebenarnya mereka yang menanggung
Tetapi sepertinya dalam hal mengembangkan kreativitas maka pendidikan jaman sekarang sudah lebih baik…hal tsb ditunjukkan dengan dimulainya kegiatan presentasi siswa, dimana kegiatan tsb bisa mengembangkan kemampuan siswa untuk mengemukakan pendapat dll…dan ini juga merupakan langkah awal proses belajar mengajar dua arah
KAlau di beberapa tahun yang lalu siswa benar2 hanya duduk diam dan mendengarkan…
Bukankah peningkatan tsb (adanya presentasi) sudah merupakan langkah perubahan menuju pengembangan kretivitas?
Lho kok kesannya membela pemerintah yang sudah meneriakkan demokrasi tetapi menjelekkan para guru yang belum bisa menerapkan demokrasi yang diterapkan pemerintah…
Emang pemerintah juga sudah menerapkan demokrasi yang sebenarnya?
Lho? Ini pengalaman pribadi ya? Wah kalau begitu sepertinya masih terlalu dini untuk melakukan generalisasi tuh
Last remark…
Tulisan ini bagus….:)
walau pakai gaya satire tapi kalau bisa penggunaan kata guru brengsek sebaiknya diganti.
Ini bukan karena saya kebetulan seorang guru…bukan sama sekali bukan
Ini karena saya tetap menganggap guru2 saya adalah orang yang layak kita hormati karena bagaimanapun juga banyak yang saya peroleh dari beliau2…terlepas dari bagaimana cara yang mereka gunakan…
Sekali lagi ketidaknyamanan saya atas penggunaan kata “guru brengsek” bukan karena saya guru…saya lebih memilih kata “Pak deking brengsek” daripada “guru brengsek”. Yang artinya hanya saya saya sebagai seorang individu yang dibrengsek2an …
Wew, saya tidak mengatakan pemerintah sudah melakukan demokrasi sebenarnya. Buat apa mendukung pemerintahan borjuis seperti itu padahal mereka sama sekali belum demokratis? Lihat saja, yang bisa bermain hanya yang punya (tampang) dan uang. Jadi ungkapan “sampai dehidrasi” maksudnya ungkapan teriak2 hal penting tapi tidak berguna karena tidak dilakukan.
Kalau soal sebutan saya mohon maaf sebesar-besarnya…sungguh! Tapi yaah begitulah anak muda kadang suka lepas kendali sendiri.
He? Apakah saya melakukan generalisasi? Waduh lupa…kelewatan deh jadinya. Sebenernya sih tidak maksud melakukan generalisasi sampai keseluruhan. Mungkin sebatas guru-guru yang sudah saya alami, perhatikan, dan dengarkan. Termasuk kisah-kisah dari orang sekitar.
Presentasi? Memang peningkatan dan saya mendukungnya. Tetapi ada yang lebih menurut saya penting daripada sebats presentasi. Oke presentasi memang baik, apalagi kalau dibebaskan membuatnya dengan cara apapun (dan deadline lebih panjang)
.
Tetapi yang mengesalkan adalah ketika pembatasan berimajinasi, umunya sih saya (dan teman saya alami) ketika pelajaran kesenian dan bahasa.
ttk hbs (gaya telegram ya?):lol:
hoiiiiii!!
saya sudah membuat blog!
berusahamembuat di wordpress waktu itu, tetapi passwordnya hilang entah kemana!
tak dinyana saya menguprgrade henpon saya, sehingga semua yg terdapat di dalamnya terhapus.
untunglah, saya menemukan sebuah web baru yg gak ribet!
kunjungi saya
^^^ Wah, agak spam ^^^
Hmm.. soal guru-guru ini, saya tidak tahu persis kondisi di kelas Ilmu Alam, tapi yang saya tahu guru-guru Ilmu Sosial serta guru-guru yang pernah mengajar saya lebih terbuka.
Selebihnya setuju sama Pak deKing.
Tidak semua murid benar-benar rajin dan kreatif
Ada saja yang buatnya di
hari-hari terakhirjam-jam terakhir, serta murni copy-paste dari Wikipedia dan ditempel di Microsoft Powerpoint tanpa hiasan sama sekali~Memang tuh… Kasih “warn pts.”
Heheh, kalau dari wikipedia sih masih lumayan. Kalo cuma co-pas dari catatan (yg belum tentu lengkap) lebih parah.
Berhubungan dengan itu saya jadi ingin membahas masalah di siswanya juga. Tertarik membantu? Biasanya Anda banyak bicara…
hmmm sayangnya anda banyak benarnya
salam
Hmm….sekarang saya terpaksa mendengar ocehan guru demi mengejar status mahasiswa….
Terkadang diakibatkan oleh ucapan guru yang hanya lebih mengandung nasehat daripada pelajaran.
Sulit sekali mengimplementasikan ucapan Gie di zaman ini,
“Guru bukan dewa dan murid bukan kerbau !”
Memang.
umh.
ok.
smua disini yg terhormat,,
spertinya emg banyak guru yg kurang ajar di dunia ini.
tapi bagi saya, banyak juga kok guru yg bener.
kalo lo mo ngomong ‘gak perlu guru’,, dont go to school.
takut di cap buruk?
gak usah takut. kan loe sendiri yg bilang.
lo gak perlu, ya udah.
kalo menurut gue,
sekolah itu emang cuma formalitas biasa ok. tugas guru itu membimbing.
gue gak pernah ngerasa disuruh macem2 sama guru gw. so, bagi gw, sekolah itu adalah PENGALAMAN yang berharga.
ok. untuk posting 1:
hey, smua orang butuh ijin. kalo lo seenaknya ngambil terus baca, jelas marah lah!! ini sama kejadiannya kalo lo:
“eh, bagi makanannya y, gue laper…”
dan langsung ambil tanpa dibolehin. org yg lo bagi marah? ya jelas.
dan terus, lo kayak bilang… “kenapa sih? gue kan laper! itu hak gue kalo mo makan!!”
gak bisa gitu kan, sob?
posting ke 2.
hey, bukan cuma lo doang kok yg buang sampah di tempatnya. gue. keluarga gue. temen2 gue.
ngapain lo banding2in mereka yg keterima olimpiade? apa mereka ngebanding2in?
kelebihan kita kan bukan satu2nya yg harus dibanggakan, dan kelemahan org bukan satu2nya yg harus dibanding2kan.
see?
kalo lo mo ngerubah cara mereka… coba ubah dengan cara yg lebih ‘logis’…
Apakah Anda paham arti membuang sampah yang saya bahas di sini?
Oke, kalau soal tidak usah saya tidak mau sekolah sih saya mau… Masalahnya kalau saya putuskan seperti itu sih di rumah saya sudah siap guillotine.
Sepertinya kalau sekolah itu hanya mengejar sertifikasi. Kalau di dunia tidak butuh begituan, saya siap tidak sekolah. Langsung saja cari kerja.
Masalah…? Boleh.
Sekolah yang dikejar sekarang hanya nilai saja, pada kebanyakan orang. Ilmunya sebagai pelengkap saja. Karena rata-rata bilangnya “Wah, gimana nih kalau nilainya jelek?” bukan “Wah, gimana kalau ngga mengerti pelajarannya?”
Yup, tul itu… Tapi sayang semua sudah terlanjur diracun oleh pemikiran itu.
Itulah yang membuat saya kesal terhadap sekolah. Makanya maksud saya menyinggung tong sampah adalh itu.. Think!
Tapi kita cuma budak yang tidak bisa memprotes yang di atas…
tulisan yg bagus dari seorang anak muda pemberontak
yang kurang dimengerti lingkungannya karena cara berpikirnya yang sudah di atas sana untuk orang seumurnya.
Kalo di kampus senirupa, kami (sbg pelajar) justru diberi kebebasan untuk berekspresi, bercipta, berkarya, dan berhak untuk kontroversial!