Terinspirasi puisi Master Li yang berjudul Kami Dipertemukan oleh Dua Layar Kaca. Lalu seusai ceting dengan seseorang akhirnya saya kembali terinspirasi berpuisi cinta.
Bukan puisi yang menyenangkan.
Cenderung menyedihkan bagi saya.

“ah, puisi ini ditambah gambar di atas. Benar-benar…seandainya…”
Mungkinkah di Antara Dua Dunia
Mungkin aku bukan yang terbaik
Mungkin aku bukan yang pantas
Mungkin aku bukan yang kau harap
Memang kita berbeda dunia
Ku tak pernah pahami duniamu
Kau tak pernah pahami duniaku
Kita berbeda dunia
Tapi kita dipertemukan oleh ikon
Kita mempererat dengan kata-kata
Kita tak pernah bersuara
Akankah ku masuk ke duniamu?
Atau kau akan masuk ke duniaku
Aku tidak bisa masuk ke duniamu
Kau tak paham duniaku
Seperti diriku yang tidak memahamimu
Kita berbeda dunia
Kita berbeda
Kita jauh
Aku menangis
Aku mencinta
Aku ingin di dekatmu
Bisakah kita berdiri antara dua dunia
Antara dunia rasionalmu
Antara dunia irasionalku
Adakah pembatas
Agar kubisa meletakkan perihku
Agar bisa kusandarkan tubuhku yang pedih
Agar kau bisa genggam diriku
Agar kau bisa peluk diriku
Agar kita rasakan hangat bersama?
Dua dunia yang dingin
Akankah bertemu
Akankah cintaku bertemu
Di duniamu yang tak kupahami
Akankah kau lihat secercah cahaya
Di dunia gelapku
Antara dua dunia
Tak adakah pembatas?
Yang pertemukan kita berdua
Yang satukan kita berdua
Apakah kita bisa berdampingan
Dengan dua dunia
Dua dunia yang jauh berbeda
Akankah cinta menjadi jembatan?
—
Asal tahu saja…ng?
- Ini memang curehatTM online.
- Gambar didapat dari hasil googling.
Hmmm….curehat™…?
Ah, asaku untuk membuat puisi cinta sudah lama hilang…
Nas…
Kalau dilihat dari segi sastra dan gaya bahasa sih bagus. Rapih dan testruktur, maknanya juga gampang ditangkep…
Nah itu dia masalahnya, maknanya adalah, terlihat seperti anda yg sedang curhat! seperti putus asa karena tidak bisa mendapatkan si ‘dia’ (hm.. siapa ‘dia’ yg dimaksud? saya juga gak tau –a)
Jangan buat saya sedih, Tuanku.
…saya jadi kehilangan semangat sesaat.
ha? Kenapa sedih, Guruku?
Saya hanya ingin bersedih sendiri. baidewei menurut saya memilih gambarnya tepat juga.
Haaa… Lupakan. Mungkin cuma kesedihan sesaat.
Gambar mencerminkan lebih dari seribu kata, Tuanku.
bagus nas.
great poetry.
tpi kok sedih ya.
kyk curhat.
hhe.
Tapi di kenyataan posisinya harus ditukar. Habis sepertinya ‘dia’ lebih jantan dari saya.
He? Ini puisi ke ‘dia’ yang mana? Oh! Yang itu kan… Ok-ok..
Sangat menjiwai, Nas. Bagus!
hik hik
syaorannya cakep amat,,
*ngelap air mata*
puisinya juga bagus,, ’sarat’ akan cinta,,
haha
Ah, terima kasih. *ada pengunjung baru harus disapa.
itu adek Ma lhoo,,
maniak Syaoran,,
hehehe,, OOT!
hoho,, sama2, hanya mengungkapkan kesan saja,,
*ikut2an OOT deh*
ga usah dengerin kk Ma,,
Sara ga maniak Syaoran koq,, cuma cinta saja,,
hahaha
Puisi yang bagus.
Tapi, mirip komentar dari Ash dan Death Berry, mirip curehat™.
Baidewai, bukankah harusnya Deja vu?
Thx pemberitahuannya. Bukannya mirip, tapi memang itu maksudnya…
Bagus? Baru kali ini Anda punya selera…
Selera..? Tentu harus punya, kalau tak ada selera tak bisa makan.
Bukannya robot tidak punya rasa cinta.
Robot pun punya jika diprogram.
…begitulah.