Homo moneta

Apa? Ini bukan tulisan saintifik yang akan membahas spesies baru. Tapi boleh juga disebut spesies baru.
Juga tidak bermaksud satir…susah bersatir ria…

Lupakan Homo sapiens! Sekarang sudah saatnya atau memang sudah eranya Homo moneta!! Spesies baru yang merupakan hasil evolusi dari Homo sapiens.

Perlu diingatkan tulisan ini sama sekali tidak menyinggung unsur sains.

Lalu apa Homo moneta? Ini istilah baru yang saya ciptakan untuk menyinggung kondisi sosial yang sudah sangat tercemar oleh uang.

Benar, U-ANG

Homo moneta apa itu? Baiklah biar saya jelaskan etimologinya.

Homo= manusia
Moneta= uang
Jadi, Homo moneta adalah manusia uang.

Tapi bukan manusia uang yang ini:


“Aku manusia uang. Aku kuat, keren, hebat, dan maha ganteng. Denganku semua bisa kukuasai.”

 

Jadi jelas bukan? Bukan membahas bagaimana cara menjadi manusia uang. Tapi sekali lagi mau membahas masalah sosial karena uang. Saya menemukan problematikanya cukup luas dan bisa saya kategorikan menjadi beberapa bagian. Ditambah bisa saya kembangkan menjadi pemikiran mandiri.

  1. Uang dalam Politik
    Terdengar familiar? Kalau Anda tinggal di Indonesia memang tidak salah kalau terdengar biasa. Karena faktanya memang inilah yang berjalan di Indonesia.
    Jadi sekedar pesan saja nih…

    “Lupakan demokrasi! Uanglah yang berkuasa! Tanpa uang Anda tidak akan bisa memimpin. Tanpa uang Anda akan digilas. Tanpa uang loyalitas bawahan akan mustahil!

    Bayangkan, tanpa uang. Darimana Anda bisa membayar dana kampanye? Dari mana Anda bisa membayar uang sogokan? Dari mana bisa membayar pembunuh bayaran untuk menggilas lawan politik Anda?!”

    Mengerti? Memang inilah yang mau tidak mau boleh Anda akui berjalan di Indonesia.
    Mau menjadi anggota dewan? Pastikan memiliki uang!
    Siapa yang duduk di kursi kekuasaan Indonesia kebanyakan? Para pejabat berdompet tebal tentunya. Mana ada pejabat yang ke kantor naik bus kota sambil berdesak-desakan. Gengsi kali!
    Gaji saya cukup untuk beli mobil mewah. Beli saja mobil mewah agar rakyat miskin segan pada saya. Buat apa membagi kekayaan suci saya dengan yang miskin? Mereka terlalu hina untuk menyentuh uang saya!
    Ada lawan politik? Berkualitaskah Ia? Kompetenkah Ia? Ia disanjung rakyat, banyak yang mendukung, hatinya bersih, pikirannya jernih, tapi miskin? Gilas! Tidak ada tempat untuk orang miskin di pemerintahan! Pejabat harus orang-orang borjuis yang suka pamer kekayaan! Kalau Anda merendah diri mana ada yang segan dengan Anda?

    Ah, cukup menyindir pemerintahnya. Tapi mau bagaimana? Memang seperti itu sih.
    Money politics istilah kerennya seolah sudah lumrah di sini. Mau kampanye siapkan uang untuk membayar massa. Beli suara mereka.
    Kita mau menolak juga susah. Masyarakat kita masih tergolong masyarakat parokial dalam partisipasi politik. Mereka masih banyak yang buta politik. Jadi mudah saja mereka dibeli suaranya.
    Bukan cuma money politics di kampanye. Uang juga menjajah pejabat-pejabat sehat berdana minim. Kenapa calon independen tidak ada di Pilkada Jakarta? Karena dana mereka minim sehingga tidak mampu mendanai biaya kampanye yang selangit. Mereka dua biji yang datang dari partai besar sih sudah kaya. Bisa membayar dana kampanye dan partai.

  2. Bukan Dunia Orang Miskin
    Bagian ini terinspirasi oleh tulisan Xaliber tentang anak gaul.
    Apa sih? Uang dalam lifestyle, eh, uang adalah lifestyle. Apa maksudnya?
    Sadari saja sendiri. Anda mau diterima leh komunitas populer Anda harus bisa gaul, bisa tampil. Bagaimana caranya tampil?
    Bergaya. Bergaya butuh uang. Uang Anda sedikit gaya Anda minim maka sulit untuk tampil. Semua butuh uang!
    Kecuali Anda bisa berkreatif ria sehingga bisa menemukan cara bergaya yang minimalis. Tapi secara dasarnya penduduk Indonesia yang dangkal masih melihat sesorang dari taraf kekayaannya. Yang tampak luarnya miskin atau pas-pasan dinomorduakan dengan yang tampak luarnya kaya. Yang tampak luarnya kaya dihormati.
    Kesimpulannya….gaya saja dulu! Yang penting Anda terlihat kaya! Tapi tetap semua butuh uang kan?
  3. Mau sekolah? Harus kaya!
    Kisahnya tentu sudah masuk ke pikiran. Di Indonesia kalau mau sekolah harus kaya! Harus punya uang untuk bayar biaya buku, seragam, gedung, iuran ini-itu, iuran WOTK, iuran POMG, dst…dst.
    Panjang kalau saya sebutkan semua.
    Melihat banyaknya iuran itu tentu saja kalau mau sekolah harus punya dompet tebal. Yang miskin hanya bisa berangan-angan untuk sekolah menuntut ilmu. Heran, kok mau pintar harus pusing memikirkan uang?
    Solusinya?
    Tidak usah sekolah! Buat apa sekolah? Kumpulkan uang susah-susah hanya untuk dimarah-marahi oleh guru. Hanya untuk diperbudak oleh guru. Lebih baik belajar sendiri, gratis!

Oke selesai pembukaan…

Arvie: Lagi-lagi kamu membuat pembukaan yang panjang…
Saia: Biar saja…

Sekarang ke topik masalah. Apa yang mau saya bahas? Masalah uang. Dari contoh-contoh kasus di atas sudah mengerti duduk permasalahannya?
Manusia sudah diperbudak oleh uang?

Sebenarnya apa sih uang?! Cuma benda kecil saja kok bisa menguasai dunia?
Coba kita tilik sejarah uang perekonomian. Agh, aku benci ekonomi!!

Sudah menjad rahasia umum kalau awal-awalnyakita manusia hanya berusaha memenuhi kebutuhan sendiri. Tidak ada itu kerjasama, gotong royong, tukar-menukar. Zaman dulu serba individualistis. Tapi sesuai perkembangan fisik manusia dengan bertambahnya kemampuan komunikasi. Diikuti berkembangnya struktur sosial. Mulailah ada spesialisasi, ada yang ahli peralatan, ahli masak, ahli berburu, ahli ini-itu. Dengan timbulnya sifat terspesialisasi itu mulailah timbul interaksi sosial yang lebih mendalam. Mulai timbul saling membutuhkan dan sistem paling dasar dalam ekonomi yaitu barter.
Sampai sini belum titik balik tapi sudah bagian penting. Barter menjadi momen penting. Di sini mulailah timbul kejadian-kejadian, momen-momen ekonomi. Kita fast forward lama kelamaan sistem barter menjadi dirasa kurang praktis. Teran saja, masa untuk menukar sebuah palu saja Anda harus membawa seekor sapi? Dimulailah sistem uang.
Awalnya uang bisa benda apa saja. Ambil batu bisa jadi uang, ambil kerang bisa jadi uang. Sekedar info di Cina dulu pada umumnya kerang dijadikan uang, makanya kanji ‘beli’ mengandung kanji ‘kerang’. Tapi bayangkan kalau sampai sekarang kerang masih dipakai sebagai uang?! Wah, pasti mudah menjadi orang kaya!
Maka dikembangkanlah sistem uang. Uang menjadi lebih spesifik, harus tidak mudah didapat, memiliki nilai setara, dan lainnya. Saya lupa. Sudah cukup sampai sini sudah jelas kan?

UANG jelas diciptakan manusia. Uang bukan Tuhan yang menciptakan alam. Tapi kenapa manusia bisa diperbudak?

Silakan tebak sendiri…


Asal tahu saja…ng?

  • Terinspirasi oleh artikel Kompas di rubrik Humaniora-Teroka tanggal 30 Desember 2006.
  • Gambar dari hasil googling.
  • Bukan pakar ekonomi maklum kalau teorinya ngelantur.

15 Tanggapan ke “<em>Homo moneta</em>”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Juni 18, 2007 pukul 10:04 pm

    Pertamax..!

    Tapi bukan manusia uang yang ini:

    “Aku manusia uang. Aku kuat, keren, hebat, dan maha ganteng. Denganku semua bisa kukuasai.”

    Jujur saja, ini benar-benar bikin saya tertawa :mrgreen:

    ———–

    Sebenarnya kalau mau dilihat, yang korup tidak semuanya pejabat-pejabat yang berstatus tinggi. Kalau menurut teorinya, ‘kepala’nya sebenarnya tidak korup, tapi leher, tangan, kaki, dan sebagainya yang korup. Masalahnya ada di batang, bukan di akar. Walaupun bukan berarti tidak ada akar yang korup.

    Mengenai teori uangnya sendiri, saya rasa uang itu menggambarkan ‘nilai’ dari suatu karya, budaya, atau kebutuhan manusia. Jadi pada dasarnya manusia sejak awal, sejak mengenal kebutuhan atas manusia lainnya itu sudah harus memperebutkan sesuatu satu sama lain. Uang lah yang menjadi ‘objek’ dalam perebutan tersebut.

    Baidewei, tambahan saja, setelah uang kertas dan logam, masih ada tahapan uang bank (cek) dan uang kredit (kartu kredit) :mrgreen:

    Agh, aku benci ekonomi!!

    Sama..!

  2. 2 Rizma Juni 18, 2007 pukul 10:06 pm

    tapi Ma suka uang,,

    pengen cepet kaya,, biar ga harus khawatir ga punya uang,, :P

  3. 3 D.A. Juni 19, 2007 pukul 6:37 pm

    Memang. Di Jakarta misalnya yang masalah bukan di birokrasi tingkat atas, tapi justru birokrasi tingkat bawah. Yang paling dekat dengan rakyat.

    Haha, jadi byk ngomongin uang eh? Padahal maksud awalnya saya ingin membahas ketamakan dalam diri manusia. Saya yg ngelantur…

  4. 4 Death Berry Ille-Bellisima Juni 20, 2007 pukul 3:43 pm

    Tapi bayangkan kalau sampai sekarang kerang masih dipakai sebagai uang?! Wah, pasti mudah menjadi orang kaya!

    Setelah itu, kerang punah selamanya. :D

    Bukankah hal di atas adalah ‘penyelewengan kegunaan uang’…?

    Kegunaan uang kalau tidak salah :

    1. Sebagai alat tukar
    2. Alat penimbun kekayaan
    3. *Lupa*

  5. 5 D.A. Juni 21, 2007 pukul 7:20 am

    Yang mana penyelewengan?

    Alat penimbun kekayaan dalam konotasi apa nih?

  6. 6 Death Berry Ille-Bellisima Juni 21, 2007 pukul 10:11 am

    Baidewei, tambahan saja, setelah uang kertas dan logam, masih ada tahapan uang bank (cek) dan uang kredit (kartu kredit)

    Dan masih ada Debit Card dan Traveller’s Cheque.

    Yang mana penyelewengan?

    Yang tidak termasuk dalam daftar.


  1. 1 Pesan Terakhir « Deathlock Lacak balik pada Juli 3, 2007 pukul 9:36 pm
  2. 2 Sindrom Kepahlawanan « Sweet Lemon Tea on an Empty Table Lacak balik pada Juli 5, 2007 pukul 2:51 am
  3. 3 On the Way to a Smile « ka mo shirenai shi, chigau ka mo Lacak balik pada Juli 5, 2007 pukul 7:49 pm
  4. 4 Jadi Pintar itu Mudah! « Deathlock Lacak balik pada Agustus 8, 2007 pukul 2:59 pm
  5. 5 Menuntut Sekolah « Angel’s Tea House Lacak balik pada Agustus 12, 2007 pukul 1:28 am
  6. 6 Hidup Ini Mau Jadi Apa? « Deathlock Lacak balik pada April 24, 2008 pukul 8:24 pm
  7. 7 “Jadi Pintar Itu Mudah” « Dessypermata’s Blog Lacak balik pada Februari 15, 2009 pukul 12:14 pm
  8. 8 Cara Biar Pintar « Tiyo44’s Blog Lacak balik pada Februari 16, 2009 pukul 8:37 am
  9. 9 jadi pinter itu mudah koQ………………….!!! « AD3 Laskar SMANSA Lacak balik pada Maret 23, 2009 pukul 8:53 am

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.