Berandai…

Berandai…

Sebenarnya ini adalah efek lanjutan dari kata-kata Death Berry. Memang dasar saya ini gebleg kalau disuruh membayangkan sesuatu pasti jadinya ngelantur ke mana-mana.

Ada yang berandai tentang status kita. Ada lagi yang bisa-bisanya berandai kalau Islam tumbuh di Jepang.

Saya berandai seandainya…

“kita dapat memundurkan waktu…”

 

Jadi…

Bayangkan Anda sedang berjalan-jalan. Di tengah jalan Anda bertemu kakek tua bertudung hijau. Kakek tua itu sedang kesulitan menyeberang. Kemudian anggaplah Anda memilih untuk menyeberangkannya. Kakek itu berterima kasih pada Anda dan sebagai balasannya Anda diberikan sebuah jam yang sudah rusak, jarumnya sudah berhenti berputar.

Kakek tersebut menjelaskan pada Anda bahwa jam itu sudah memang sudah mati. Tetapi bisa diputar kembali cukup dengan menyetel jarum jam itu. Labih lanjut kakek itu menjelaskan bahwa jam itu bukan jam biasa. Tidak ada istilah jam itu terlalu cepat atau terlalu lambat karena jam itu adalah jam dunia. Anda bisa saja menyetel jam berapapun dengan konsekuensi waktu di dunia berubah total. Dengan kata lain Anda bisa mempermainkan waktu, memajukan dan memundurkan.

Tapi sayang jam yang diberikan itu punya keterbatasan. Namanya juga jam tua jadi jam itu hanya bisa diputar sekali dan hanya bisa memutar mundur. Masa depan belum terjadi jadi Anda tidak bisa mnyetel jam tua itu lebih jauh daripada waktu sekarang. Singkatnya Anda hanya bisa memundurkan waktu.

Karena yang Anda ubah adalah waktu jadi tidak usah khawatirkan paradoks. Anda bisa merubah masa depan sesuka hati Anda karena toh tidak akan kembali ke masa depan di mana Anda menolong kakek itu.
Jadi apa yang Anda lakukan? Waktu dunia di tangan Anda…

kalau saya…

“…I’d chose not to know her any further. Cause it already hurts when I do…”

11 Tanggapan ke “Berandai…”


  1. 1 Dreamer Juli 29, 2007 pukul 7:54 pm

    [anak kecil mode : on]

    hooo~ waktu yah~

    kalo saya sih mau mundurin waktu, ke saat… 2 SD?

    soalnya cukup menyesal gak menggunakan kepintaran maksimal, makanya jadi begini, reputasi jelek di mata ortu :(

    [anak kecil mode : off] [orang males mode : on]

    yang berlalu biarlah berlaluuuuu~~~~ saya setuju sama anda~~

    eniwei, lam knal, walopun seforum [gotei] tapi gak pernah ngobrol sbelomnya :P

  2. 2 89 Juli 29, 2007 pukul 9:17 pm

    wah wah, saya akhir^2 ini sering menemukan pengandaian semacam ini juga…

    yang [tidak] penting,
    “kenapa harus kakek^2?” :P

    yang [sok] penting,
    “pengennya sih bisa memutar waktu ke SD, biar bisa main, hehe”

    yang [maunya sih] penting,
    “Then have you ever stopped to think how the ‘her’ you meant would feel when she reads this?” (maaf, gramar jelek)
    ———
    (kk D.A, sy jg anak gotei, tp jarang ketemu. lam knal.)

  3. 3 azizahtn Juli 30, 2007 pukul 9:56 am

    wah seandainya wkt bisa mundur sy pengen bisa kembali wkt pertama masuk kuliah, kali aja skrg msh jdian ma mantan kan ude tau alesan knp qt bisa putus hehehe..let it be……….!!!!!!!

  4. 4 Kopral Geddoe Juli 30, 2007 pukul 1:16 pm

    Bukannya secara teori memang bisa? :?

  5. 5 Dreamer Juli 30, 2007 pukul 7:19 pm

    @om geddoe

    muterin jam? :D [ditimpuk]

    eangnya secara teori gimana? memundurkan waktu yang kuliat di sini sih yah… kembali ke tahun2 lalu

    salah ga? :P

  6. 6 Xaliber von Reginhild Juli 31, 2007 pukul 9:57 pm

    @Kopral Geddoe: Teori Wormhole maksudnya?

    Kalau saya ingin kembali ke masa dimana Jerman menghadapi PD II dan membuat Axis menang perang. :evil:

    …meskipun rasanya memang banyak hal yang ingin diulang di masa lampau, tapi kalau menurut cerita guru Sosiologi saya, hal itu harus dianggap sebagai suatu proses pembelajaran.
    Seperti kisah seorang panglima yang selalu mengatakan bahwa inilah yang terbaik baginya, apa pun yang terjadi.

    *selengkapnya tanya Pak Marsono* :mrgreen:

  7. 7 Kopral Geddoe Agustus 1, 2007 pukul 10:34 am

    Tergantung, perspektifnya presentis apa bukan? Kalau presentis, malah menganggap masa lalu dan masa depan itu nggak ada :lol:

  8. 8 yang punya tempat lewat HP Agustus 1, 2007 pukul 11:23 am

    Wah-wah… Kok jadi ngalor ngidul?Menggunakan teori kalau tidak salah yg benang2 bintang hidrogen atau apa gitu yaa..? Lupa.. Lupakan sains…

  9. 9 unknown Agustus 30, 2007 pukul 7:27 am

    saya datang dari masa depan.

  10. 10 Xaliber von Reginhild Agustus 31, 2007 pukul 11:47 pm

    Kopral Geddoe:
    Kalau begitu, yang dimaksud di komentar sebelumnya apa? :P
    Eternalis?

    unknown:
    Kok… saya juga datang dari masa depan. :D


  1. 1 Kecewa « Deathlock Lacak balik pada Desember 15, 2007 pukul 5:57 pm

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.