Menuntut Sekolah

Apa topik ini perlu ditutup ya?

Tidak!! Namanya gila ngapain ditutup-tutupi?! Orang gila saja dengan berani jalan-jalan keliling kota!!

Baiklah! Benar-benar edan!!! Yang namanya sekolah @#$! dasar edan gara-gara kepala sekolahnya @#&%!!!

Lanjutkan kegilaan?

SPP sekolah EMPAT RATUS RIBU RUPIAH untuk kelas dua belas dan LIMA RATUS RIBU RUPIAH untuk kelas akselerasi. Perlu diingat bahwa kelas dua belas kebagian jatah SPP “paling murah”.
Suka-duka sekolah swasta di Jakarta memang begini. Biaya mahal tidak terkira, cukup untuk beli mobil kalau ditotal. Dasar edan!!! Tapi namanya dunia duit mengenal prinsip, “ada harga, ada kualitas”, tentunya tidak perlu kaget dengan harga mahal. Tapi jangan salah kaprah…

Oohohoho, prinsip tadi itu perlu dibeginikan di sini:

“ada harga, ada kualitas”

Prinsip tadi hanya menjadi istilah bullshit di sini. Kalau mau pintar memang dengan uang, sekarang zamannya dunia uang. Mau pintar harus punya uang. Mau ke sekolah harus punya uang. Mau pulang sekolah harus punya uang. Mau belajar di kelas harus punya uang.
Maklum kalau SPP bisa melambung sampai ke langit…

Tapi asal tahu saja… Di sini memang cuma duit yang bicara! Harus punya duit buat sekolah. Meskipun tidak jelas duitnya ke mana… SPP EMPAT RATUS RIBU RUPIAH YANG PALING MURAH untuk sekolah yang SANGGUP MEMBAYAR NATIVE SPEAKER saja hasilnya begini:

  1. AC rusak tidak pernah diperbaiki dengan baik.
    Ada sekitar 20 ruang kelas di sini. Lengkap dengan minimal dua buah AC di tiap ruangan. Bagus, enak untuk siang hari yang panas. Tapi berhubung sekitar 30-45% masih berupa AC udzur…alhasil tidak ada gunanya. Meskipun sudah diprotes berkali-kali sama murid tetap saja kebiasaan pejabat yang katanya wakil rakyat rupanya sudah turun ke sekolah.
  2. Software di komputer sekolah 99% bajakan.
    SPP sebegitu mahal tapi semua bajakan? Ke mana anggaran untuk ruang pelajaran komputer? Mau anak didik maju tapi dikasih software bajakan. Man ditambah lagi pelajaran komputernya tidak niat lagi! nih, buktinya
  3. Mau studi tur masih bayar SETENGAH JUTA??!
    Saya saja yang statusnya anak murid saja kaget dengarnya… Apalagi orang tuanya. Lagipula ini waktu bagian saya dulu, tidak terbayang untuk adik kelas saya entah berapa lagi bayarnya.
    Itu pun dengan fasilitas yang masih tidak sepadan dengan harga yang dibayar.
  4. Buku pelajaran harganya 898.000??!
    Masalah klasik… Tentang buku pelajaran memang sudah banyak kontroversi. Jadi yah ini tidak terlalu khas…

Sudahlah…capek…

Ke mana semua SPP itu? Entahlah. Kalau dihitung-hitung jumlah yang didapat…

Jumlah siswa kelas dua belas ada sekitar 240 anak.

240*400.000= 92.000.000

untuk segitu saja mungkin cukuplah untuk cicilan mobil atau rumah. Dipikir-pikir kata teman saya ada benarnya juga. Katanya kalau SPP itu harganya setiap tahun semakin mahal itu wajar karena harga mobil juga naik setiap tahun.

Sekian…
Lain dengan sebelumnya. Kali ini saya tidak ada maksud menyinggung guru dengan kasar. Cuma kesal sama SPP yang makin nggilani… Ditambah lagi SPP tidak jelas juntrungannya.

SPP mahal bukannya dipakai untuk memperbaiki sekolah. Malah digunakan untuk sesuatu yang tidak jelas dan tidak terlalu penting, memperbaiki lobi.
Memperbaiki lobi memang bagus untuk memperbaiki imej dari luar. Tapi kalau dalamnya rusak yaa tidak ada gunanya dong. Singkat kata tuntutannya seperti ini:

  1. Perbaiki ruang kelas
  2. Perbaiki perpustakaan
  3. Perjelas hak internet dan r. komputer bagi murid
  4. Beli software legal (jangan ajarkan pembajakan pada murid)
  5. Subsidi kebutuhan sekolah (memang cuma rakyat yang butuh subsidi?)

Haha, saya jadi ingat Tritura kalau seperti ini. Tapi tetap saja kalau sendirian sih tidak bakal berpengaruh. Jadi untuk khususnya anak SMA Labschool Jakarta, ada yang mendukung?

4 Tanggapan ke “Menuntut Sekolah”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Agustus 12, 2007 pukul 2:01 am

    Hmm… katanya sih semakin ke atas tingkat pendidikannya, ruangan kelasnya makin diperbaiki. Supaya meninggalkan kesan terakhir yang bagus sebelum didepak keluar sekolah. :mrgreen:

    Soal komputer, setuju saya. Masa bajakan, sih? Kacau saja… Mana materinya itu-itu aja lagi–desain grafis.
    Kalau menurut saya sih, daripada pakai program bajakan gara-gara belajar desain, lebih baik belajar scripting atau bahasa pemrograman. :mrgreen:
    Resiko jadi pendosa kan lebih sedikit, lebih berguna pula.
    *meskipun saya yakin komputer bakal jadi ujian yang penuh dengan kata-kata ‘keramat’ :lol: *


  1. 1 Mau Sukses Kok Repot? « Deathlock Lacak balik pada September 30, 2007 pukul 3:31 am
  2. 2 Kamera, Foto, dan Narsisisme « Deathlock Lacak balik pada November 7, 2007 pukul 1:52 am

Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.