
“our so-called hero…”
versi singkat entry ini bisa dibaca di halaman prenster saya.
Hari ini saya terkejut ketika membaca koran. Sebenarnya rasa terkejut ini sudah dimulai dari kemarin. Tidak lain tidak bukan karena pernyataan sangat mengejutkan dari orang paling tenar di Jakarta, Sutiyoso atau yang akrab dipanggil Bang Yos.
Pernyataan fenomenal momen ini. Bang Yos yang sebentar lagi meninggalkan singgasana gubernur mengatakan bahwa dirinya siap untuk menantang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menantang apa? Jelas bukan untuk gulat. Jelas menantang untuk pemilihan presiden 2009 nanti.
Padahal SBY sendiri, melalui apa yang didapat dari A. Malarangeng, belum memastikan langkahnya untuk Battle Royal 2009 nanti.
Apakah ini sebuah langkah yang tepat?
Tepat apa tidak belum bisa kita tentukan sekarang. Masih ada dua tahun untuk persiapan toh. Persiapan untuk mental, program dimantapkan, ijazah dipalsukan, uang ditabung, dan lawan disingkirkan.
Meskipun begitu komentar dan kritik sudah bisa dilontarkan bukan? Cukup menarik juga karena kita sebagai calon pemilih nanti jadi punya kandidat baru untuk dicaci-maki disandingkan dengan calon-calon lama yang akan maju kembali. Dan menjadi bahan omongan baru juga untuk saat-saat kritis seperti sekarang ini.
Menurut pengakuannya saat ini Ia-Bang Yos- saat ini konon Ia lebih memilih pasang badan. Menunggu untuk parpol yang sudah ada memungutnya untuk dijadikan capres. Menarik pernyataannya sebelumnya bahwa Ia akan menjadi calon independen. Ia sama sekali tidak berniat untuk membuat parpol sendiri. Berbeda dengan Wiranto yang sudah membangun Hanura.
Lalu soal lima langkah yang Ia utarakan itu sih menurut saya. Bukannya mengecilkan atau meremehkan. Tapi rasanya terbilang rasa lama dan seperti yang lainnya juga, bersifat Omong Doang. Terlebih lagi ada yang rasanya terkesan sombong.
Merasa sudah mengetahui masalah tiap-tiap daerah dan mampu mengoptimalkan otonomi daerah? Dengan memberi kewenangan dan dana kepada pemda?
Walah, belum tentu Anda mengerti apa kata warga daerah kan? Berbeda lho, perasaan pemda dengan wara daerah. Kalau hanya mengerti kepentingan pemda itu sih justru makin menyuburkan praktik korupsi di kalangan birokrat daerah. Kalau mau demokrasi seharusnya selami juga warganya, jangan hanya pemerintahnya. Dangkal banget, deh…
Lalu apakah Anda yakin? Anda merasa siap dan cukup dengan hanya menjadi gubenur untuk 5 presiden. Cukup siap untuk memperbaiki dan bekerja lbih baik dari 5 presiden sebelumnya? Padahal Anda ini gubernur metropolitan yang relatif lebih maju dari daerah terpencil. Jujur saja kalau Anda yakin dengan pengalaman Anda mengurus Jakarta saya justru ragu apakah Anda bisa mengerti bagaimana mengurus daerah tertinggal.
Ditambah Anda pun terlihat kurang memperhatikan nasib menengah ke bawah. Padahal hanya untuk skala Jakarta saja Anda bisa mendapat “Penggusuran Award”. Sekaligus disumpah-serapah oleh para korban penggusuran dahulu.
Mungkin Anda tertarik membuat Proyek Busway Keliling Indonesia. Ini bisa menjadi proyek yang cukup down to earth yang bisa Anda buat. Lumayanlah bisa menjadi solusi masa-masa mudik.
Sudah siap mentalkah? Apakah dengan menjadi gubernur di Jakarta berarti Anda siap mengurus Indonesia yang seribu kali lebih ruwet dari Jakarta.
Kembali ke pernyataan bahwa Bang Yos siap menantang SBY. Rasanya sikap ini memang mungkin saja diutarakan olehnya. Didasari rasa kekecewaan karena dirinya tidak jadi dipilih menjadi Mendagri menggantikan M. Ma’ruf.
Apa alasannya kecewa? Keputusan presiden. Bukannya mengkultusindividukan SBY. Tetapi siapa tahu SBY memang merasa Bang Yos kurang cocok menempati posisi itu. Meskipun memang secara politik dan militer Ia lebih dekat dengan SBY.
Tetapi, sekali lagi, apakah dengan Ia menjadi gubernur Jakarta berarti Ia pantas mengurus Indonesia? Langsung tanpa persiapan yang lebih matang. Juga apakah dengan Ia menjadi purnawirawan TNI berarti Ia lebih pantas dipilih oleh SBY? Lho, mau menghidupkan budaya Pak Harto lagi?
Meskipun bagitu memang tak diragukan ada sifat Bang Yos yang diperlukan oleh negeri ini.
Ketegasannya, diperlukan oleh kita. Meskipun apakah Ia benar tegas atau tidak. Kita mungkin butuh pemimpin yang cukup keras kepala untuk tidak mendengarkan kritik pedas warga tentang proyek yang dirasa olehnya sangat dibutuhkan khalayak umum.
Contohnya seperti kasus penggusuran yang mengantarkannya ke anugerah Penggusuran Award. Atau yang sedang hot saat ini adalah masalah Busway di Pondok Indah.
Lalu mengenai sikapnya yang Ia sebut pasag badan. Makin menunjukkan bahwa dirinya sangat sombong. Sudah cukup dengan rasa percaya dirinya yang tinggi dengan merasa pede menjadi presiden setelah dua kali menguasai Jakarta. Ditambah sikap pasang badan yang yakin bahwa akan ada parpol yang memungutnya.
Tapi memang membuahkan hasil. Konon PAN dan PDI-P sudah melirik dirinya.
Akhir kata…
Seperti waktu yang masih tersisa. Bang Yos masih memiliki dua tahun untuk memperbaiki diri dan memantapkan program yang akan Ia umbar dalam kampanye. Terutama perbaiki diri. Dengan sikapnya yang sekarang ini Bang Yos terlihat seperti masih mengekor tren jadi presiden yang masih marak di Indonesia. Belum jelas apa dasar falsafah dirinya. Terlebih dilaksanakan dengan sikap yang cenderung takabur dan kelewat yakin.
Tetapi memang perlu diakui bahwa Bang Yos telah membawa angin segar. Kita belum tahu kualitasnya ketika Ia memimpin sebuah negara. Kendati belum diketahui benar kualitasnya tetap patut kita beri kesempatan. Kita adalah negara demokrasi yang tidak menghalang-halangi orang untuk mencoba. Karena siapa tahu saja Bang Yos dapat menemukan tempat yang tepat untuknya.
Artikel yang menjadi dasar entry ini bisa dibaca di sini atau Kompas edisi Selasa, 2 Oktober 2007.
penulis adalah seorang siswa kelas 12 pendidikan dasar di sebuah sekolah swasta di DKI Jakarta yang belum memiliki kartu pemilih. penulis juga 100% bukan pendukung Sutiyoso.
Saat inipenulis sedang disibukkan oleh UTS dan pemikiran mengenai IBGW.
males nyari trekbek!
0 Tanggapan ke “Busway Koridor XCIX: Solusi Mudik dan Arus Balik”