Setelah selama hampir satu setengah tahun terjebak di sebuah penjara realitas fakta ilmiah dalam paket kelas ilmu alam. Untuk pertama kalinya saya merasa bangga, bangga menjadi seorang siswa kelas ilmu alam.
Judul entry ini harusnya bukan ini. Karena perlu diketahui saya akan kembali ke persona lama saya.
Bagaimana bisa?
Biasalah, ini sebuah kisah tentang dialog antara guru dan murid. Hanya saja akan lebih pas dibilang kalau ini adalah dialog tentang guru dan kelasnya.
Kisahnya bermula dari sebuah UTS. Berlanjut ke sebuah apa-yang-saya-sebut sebagai konspirasi, kesalahan, kebobrokan, atau apapun lah bahkan korupsi di kalangan atasan sekolah.
Awalnya bermula dengan kisah yang serupa namun dengan akhir berbeda (karena berbeda lokasi dan kelas). Mengambil waktu pada masa-masa pendinginan pasca UTS dan libur puasa+idul fitri kisahnya pun mengambil masa.
Guru sejarah saya masuk ke kelas.
Seperti biasa guru sejarah saya pun menyapa kelas. Menyapa sebagai pembuka atau sebagai formalitas ketika formalitas sebagai pembuka. Kebetulan hari itu beliau akan menggunakan komputer jinjing untuk pengajarannya maka mau tidak mau Ia harus menggunakan proyektor yang tergantung di langit-langit kelas.
Ia meminta tolong kepada saya dan seorang teman saya untuk menghubungkan kabel proyektor ke komputer jinjingnya. Meskipun pada akhirnya teman saya yang mengaturnya tapi saya masih bantu-bantu sedikitlah…
Pengajaran dimulai. Hanya kilas balik mengenai apa yang dicapai di bab 1 pelajaran sejarah.
Selesai pengajaran (yanga hanya berlangsung beberapa menit karena pelajaran sejarah di IPA hanya mendapat jatah satu jam pelajaran) beliau mulai membahas mengenai UTS kemarin. Dibuka dengan sebuah pernyataan mengejutkan–bagi saya.
Begini katanya,
tampaknya sistem pengajaran seperti ini sudah tidak bisa kita lakukan lagi. Mau tidak mau kita hars kembali ke sistem pengajaran lama dimana aspek kognitif yang diutamakan.
Reaksi utama siswa sekelas seragam. Heran. Wajar saja karena sekonyong-konyong bicara seperti itu membuat murid heran dengan apa yang dimaksud oleh si guru. Beberapa siswa melontarkan pertanyaan.
Setelah dijawab barulah siswa mengerti apa yang dimaksud. Beliau memaksudkan bahwa sistem pengajaran–dan ujian– pelajaran sejarah akan dikembalikan ke sistem lama, alias menghapal. Perlu diketahui karena untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya baru ujian kemarin pada pelajaran sejarah murid disuruh membuat esai.
Kesan pertama saya,
Ah, sh*t! Kenapa harus balik lagi sih?! Padahal udah enak kayak gitu juga! A***ng! (diucapkan dalam hati tentunya)
Jujur juga saya pikir seisi kelas yang selama ini saya pandang sebagai kumpulan beberapa orang berotak dangkal dengan pemikiran dan falsafah hidup yang murahan akan bersorak gembira mendengar kabar ini.
Namun, betapa terkejut ketika mendengar realita yang saya dapati.
Umumnya mereka berujar seperti ini,
Yah, kenapa? Padahal udah enak begitu, Bu! Susah kalo disuruh ‘ngapal lagi… (yang ini tidak diucapkan dalam hati)
Terkejut. Saya terkejut mendengar ini, apalagi mengingat saya sudah terlebih dahulu mendengar cerita Xaliber tentang apa yang terjadi di kelasnya. Tetapi yang lebih utama adalah karena bagi saya orang-orang berpikiran dangkal seperti mereka akan sulit berkomentar seperti ini. Sudahlah.
Usut punya usut, setelah ditanya-tanyai oleh murid sekelas sang Guru menjelaskan sebab-musababnya. Konon menurut cerita beliau hal ini terjadi karena dua faktor utama, yaitu:
- UN/UAS berupa PG, ini adalah perintah pemerintah.
- Permintaan/Perintah dari kepala sekolah dan wakilnya.
Tidak ada masalah dengan nilai karena–di luar dugaan juga– nilai murid IPA terbilang bagus. Maka yang ingin saya garis bawahi adalah faktor kedua. Seperti sebuah dosa yang menyenangkan, saya merasa kesal namun juga senang.
Guru saya berkata bahwa beliau mau tidak mau harus mengembalikan pengajaran menjadi seperti dulu karena perintah langsung dari wakil kepsek dan kepsek. Entah itu perintah atau permintaan menurut saya sama-sama bodoh. Baik perintahnya maupun kepseknya. Memang sih guru saya juga salah karena tidak bilang-bilang dulu.
Tapi tetap saja, ini UTS bukan UAS nasional yang resmi. Lagipula setahu saya sekolah saya ini sekolah swasta. Agak aneh juga di saat sekolah swasta yang lain menggelar pengajaran sangat cepat dan terkesan sangat swasta sedangkan sekolah saya menolak sebuah perubahan menuju yang lebih baik.
Ingat saya pernah bilang betapa bencinya saya pada kepsek saya. Ditambah sekarang kepsek bidang akademis yang juga saya benci. Sangat cocok, kepsek bidang akademislah yang bersama kepsek menyuruh secara tidak langsung melakukan pembodohan dan penyebaran doktrin sejarah. Membuat saya berpikir–dan berpikir– bahwasiapa tahu ada benarnya juga kalau kepsek saya itu mangkir dari pekerjaan jabatannya.
Akhir kata…
Saya tidak mau berbicara terlalu rumit (lagi). Kebencian yang terlalu memuncak pada membuat saya menjadi seperti Aya dalam sintetron Para Pencari Tuhan, “…saya sudah tidak marah lagi tapi saya sudah tidak peduli lagi denganmu…”.
Sehingga hanya dua pesan saya. Tampaknya memang benar kalau kepsek saya dan Depdi(c)knas secara nasional tidak pernah belajar dari sejarah. Penasaran apakah mereka tahu dua kutipan ini apa tidak,
Tanpa revolusi tidak akan dicapai kemajuan. (Mori Arinori)
No real social change has ever been brought about without a revolution…. (Emma Goldman)
Revolusi adalah sebuah perubahan.
Pesan kedua saya. Tampaknya memang sudah saatnya kita berhenti menyebut tes sebagai ulangan. Sebutan ulangan memberi arti tes hanya dugunakan untuk mengulang, hanya mengulang tetapi tidak mengembangkan. Sudah seharusnya kita menyebutnya sebagai ujian, sesuatu yang menguji kemampuan berpikir dan falsafah seseorang.
p.s. entry ini sangat membosankan bukan?
Benar! Saya pun salut mendengar kelas IPA yang konon tidak suka akan Sejarah mendengar hal ini. Sebaliknya, kelas IPS 1 justru senang kembali ke metode hapalan. Dan lebih parahnya lagi, satu-satunya kelas yang setuju dari 6 kelas!
Mikir apa sih mereka.
Ayo ajukan protes ke para penguasa diatas sana.
*pertama kalinya ketua kelas akan ditendang keluar dari kelas, seperti afa kata Anda*
Btw kampanyenya gimana?
Oh ya.
Soal ini, memang agak membingungkan. Kita tahu UN akan bertambah menjadi 6 pelajaran. Tapi untuk kelas Ilmu Sosial, rumor pertama bilang UN-nya adalah Bahasa Indo, Bahasa Inggris, Ekonomi/Akuntansi, Sejarah, Geografi, dan Sosiologi.
Sedangkan rumor kedua bilang UN-nya adalah Bahasa Indo, Bahasa Inggris, Ekonomi/Akuntansi, Matematika, Geografi, dan Sosiologi.
Dan katanya rumor kedua yang lebih benar. Kalau memang begitu, harusnya kelas IPS 1 ngga ada alasan untuk setuju dengan metode kuno.
Lupa bunyinya, tapi kira-kira begitu.
Btw, hettrik.
Kenapa nggak bergerak?
Saya jadi teringat bagaimana kami dulu semasa kelas XII, menumbangkan seorang guru Fisika… Semuanya mudah karena bersatu.
…sayangnya, persatuan itu sulit di saat begini. Cih…
@Xaliber:
Sialan, hetrik…
Kamfanye? Hayuk lah, hari senin omongin. Kita pake gerakan selebaran dulu kayak lembar dakwah di masjid-masjid.
@Rozenesia:
Sedang memulai pergerakan, Guru. Sehubungan dengan itu bagaimana kalau guru memberi nasihat kepada kami?