UPDATED
Ketika dibingungkan oleh peraturan duniawi haruskah kita dibuat bingung karenanya?
Ketika keinginan riuh menimpa kemampuan kita haruskah kita tertimpa karenanya?
Ketika sendiri haruskah kita membuat ramai sekitar kita?
Ketika dunia berputar haruskah kita ikut berputar?
Kalau saja bisa kudengar. Apalah isi percakapan burung dengan langit? Apakah sama dengan perkataan kosong yang kuteriakkan pada langit di atas?
Perlukah burung itu berteriak pada langit? Begitu jauh aku berdiri di bawah langit sementara mereka di seberang lautan telah menembus langit menuju surga.
Kupalingkan kepalaku ke bawah. Apakah yang dikatakan cacing pada tanah? Ketika kuinjak tanah kotor di bawah sepeatuku di sana mereka telah menembus wajah bumi.
Aku mendengar mereka menceramahiku.
“Kejarlah mereka! Ikuti mereka! Jadilah seperti mereka!”
Tanya aku diri sendiri. Haruskah aku ikut terbang ke surga? Haruskah aku menembus wajah bumi?
Ke mana diri pergi. Ke tempat ramai tua nan lapuk di sana? Ke tempat sepi di tanah gersang di belakang rumah? Tetap berdiri di dalam teduh atap. Karena aku sempatkan berpikir.
Sempat lihat burung yang terbang meninggi.
Sempat lihat cacing yang menetap melingkar di tanah.
Sempat kulihat warna palsu langit surga.
Sempat kulihat bening tanah.
Sempat juga kurasa tenang di permukaan.
Aku tidak mau. Aku tidak berlari seperti mereka. Aku berjalan ke tengah harum bunga. Menikmati harum bunga.
Aku tak ingin terbang ke atas surga dengan mereka.
Karena diri ingin terbang bebas bersama kupu-kupu.
…biarkan aku terbang!
bisa dibilang ini adalah masalah memilih jalur yang akan ditempuh ke depan. bisa dalam jurusan, cita-cita, karier, dan sebagainya. Hidup adalah pilihan.

Jangan keseringan terbang, bro, jetlag..
Suka-suka.
haruskah? engga harus sih, karena itu ada ditangan diri kita sendiri, mhuehuehu
tafi…
ini maksudna afa sih?
*ditendang*
ah ya, salam kenal !
@qzink: Jetlag?
@rozenesia: suka-suka apa? Saya sih emang suka-suka.
@hoek:
Pahami sendiri lah, salam kenal juga.
Masih berkisar tentang x+y=z nih?
Puisi yg hebat. ><
ng… Guru Gun, apa ini bisa dikategorikan puisi? *wajah polos*
@Miyu:
SUdah tahu maksudnya kan?
Puisi? Walah, aku justru ngeliatnya sebagai prosa yang dibalut kata-kata bersayap.
Hidup adalah pilihan? Suka-suka kan? Makanya aku bilang suka-suka. Terbanglah!
Ngerti kok.
@Guru:
Nah, kan… Saya juga tidak memaksudkan ini sebagai sebuah puisi.
Tapi suka-suka tidak bisa suka-suka…susah
jangan terbang seperti burung bersama para burung ketempat yang kau sebut-sebut surga palsu
karena suatu saat kau pasti harus turun kembali ke bumi juga
jangan menembus bumi seperti cacing bersama para cacing
karena pada akhirnya akan berakhir di permukaan juga.
jangan juga terbang bebas bersama para kupu-kupu di antara bunga-bunga.
karena kau tidak akan tahu apa yang sebenarnya mereka cari disana.
berjalanlah dengan kedua kakimu ketempat yang ingin kau tuju.
kau tidak butuh sayap untuk terbang.
tidak perlu menjadi siapapun
kebebasan yang sebenarnya bukanlah seperti itu, bukan melakukan segalanya dengan bebas sesuai keinginanmu
kebebasan bukanlah saat semua yang kau inginkan dapat kau lakukan.
tapi ketika hati merasa lega atas jalan yang kau tempuh
seburuk apapun perjalanannya
separah apapun lukamu nantinya
segagal apapun hasilnya
yang terpenting adalah seberapa banyak hal yang bisa diambil kedalam hatimu
yang terpenting adalah seberapa lapang hatimu ketika menerima semua itu nantinya
karena didunia ini tidak ada kebetulan
semuanya sudah digariskan.