Sepulang dari sebuah tes saringan masuk universitas swasta saya melewati sebuah jalan. Jalanan di daerah Klender dekat-dekat Pondok Bambu. Di sana di kegelapan malam yang tertahan oleh kaca mobil saya melihat dan seolah mendengar.
Apakah terdengar tangisan pohon-pohon itu?
Di jalanan sempit itu tergerai ranting-ranting. Mulai dari seukuran pensil hingga seukuran pipa air di gorong-gorong. Diselimuti daun-daun kering yang menempel di tubuh ranting mati itu.
Apakah ranting-ranting itu mati? Pohon-pohon tempat ranting itu hidup meratapinya di atas. Pohon-pohon gundul yang dicabuti daunnya itu menangis kehilangan jiwanya, kharismanya, kemampuannya, dan kehidupannya.
Apa kesalahan pohon itu? Salahkah Ia berdiri di sana? Karena musim hujan tiba?
Kudengar-dengar, banyak sahabat lainnya ditebang karena musim hujan. Karena musim hujan pohon ditebang. Demi keselamatan manusia katanya.
Ah, licik manusia itu! Karena tak mampu meredam yang kuasa Ia jatuhkan yang tak kuasa! Padahal siapa yang akan melindungimu darisang kuasa yang telah kau buat marah karena kau habisi temannya di seberang lautan sana!
Jahat manusia itu! Hanya demi keselamatan diri Ia korbankan yang lebih rendah darinya! Siapa yang memberinya kehidupan? Ia korbankan juga!
Padahal sudah berapa abad manusia itu membunuh demi kenyamanan dan kehidupan diri mereka?! Meskipun tak pernah sekalipun mereka menyanggah perbuatan yang mereka alami.
Kini mereka menangis. Wahai manusia! Dengarkah engkau tangisan itu?
Mereka menangis…
menangis…
menangis…
mengais…
mengais sisa-sisa tubuh sahabat mereka demi kehidupan mereka. Semua itu demi kalian juga manusia.
Merekalah para pelindung yang berlinang air mata. Merekalah para prajurit diam yang meneriakkan isak tangis.
Kendatipun raksasa besi telah menginjakkan kaki di bumi. Mereka tetap sama seperti dulu, demi bumi. Demi manusia yang membantai mereka.
eh, sekarang tanggal 26 ya? Ah, baru saja datang sudah momen seperti ini…
fiuwh… hmmm..
mampiiir
kenapa? ga boleh mampir doang. Bayar!
bercanda…salam kenal.