Bukan rumus…ngapain saya ngucapin istilah haram itu di sini.
Sementara itu, saya kembali berbahasa Indonesia! Bahasa Nusantara!
Sebenarnya saya kesambet setan koboi ksatria mana sih jadi banyak ngoceh pakai bahasa Pangeran Charles belakangan ini? Cuma gara-gara sebuah game. Sebuah game pun bisa mengubah pikiran bocah ini. Betapa lugunya kau ini, Nak…
Kalau sudah begini kasusnya saya bisa-bisa saya dicap begini sama golongan bernama orang dewasa, guru, ilmuwan, dan orang-orang tukang berpikir haram. Bakalan nasibnya dibilang begini,
orang tua: “kalau belajar aja malas! main terus kamu!”
guru: “mau jadi apa kamu?!”
orang pintar (ngarep menang nobel fisika): “buang-buang waktu saja kamu, bukannya baca buku pelajaran”
orang entah dari mana: “kafir kamu!”
Lha, apa salah saya? Saya tidak membuat anak kecil menangis dengan tatapan membunuh saya, saya tidak memecahkan kaca jendela dan menuduh Nobita yang melakukan, dan yang terpenting saya tidak mengakibatkan kematian seseorang.
Tapi mereka akan tetap berkilah dengan ucapan ini,
semua (kayaknya): “sebagai pelajar wajib belajar! supaya bisa berguna di masa depan”
Yah, mau gimana lagi kalau saya berkata…
sekali lagi… “habis gamenya bagus”
Saya tidak bilang seru, tapi bagus. Kalau seru yah seru kalau bagus yah bagus. Kenapa bagus? karena di situ saya juga belajar, tapi bukan belajar kata mereka.
Apa yang saya pelajari dari game itu?
- Ternyata Agama memang sangat panas.
- Ternyata politik lebih kejam dari saudara tiri.
- Ternyata ceritanya bagus.
- jadi semangat belajar bahasa Inggris yang Inggris ditambah bantuan Dicitonary di dashboard jadi memperkaya pembendaharaan kata.
- dan yang saya pahami dari cerita itu…
Hmm, apa sebenarnya yang saya pahami dari game itu?
Kalau saya rangkum saja jadi setidaknya beberapa kalimat pendek berbahasa Indonesia,
“terkadang kekuatan menciptakan sebuah kepercayaan. maka pada saat itu kepercayaan hendaknya dibalas dengan kekuatan. tetapi seringkali kekuatan dipandang remeh oleh kepercayaan yang menjadikannya ada. begitu pula kekuatan yang memisahkan diri dari kepercayaan yang menjadikannya tiada. namun, ketika kekuatan dan kepercayaan berada di dua arah maka yang terjadi adalah sebuah kepercayaan akan kekuatan.”
Jadi apalah sebenarnya kekuatan dan kepercayaan itu? Kalau di manga-manga atau game-game pada umunya biasanya kekuatan ada karena kepercayaan. Tapi yah, kembali ke ringkasan saya tadi.
lalu masalah bahasa. kenapa saya kembali lagi…?
- Karena sudah tidak ada ide.
- Karena permintaan
fansorang lain. Teman saya protes, dikatanya saya pamer. Karena sudah tamat.“Masa bodo! Biar kata udah tamat semangat War of the Lions tetap hidup!”
Jadi intinya sekian saja.
Sebelum itu…buat orang-orang yang nantinya mengecap saya goblok (secara tersirat dan tidak mau mengakui).
“Saya masih belajar. Ilmu ga cuma ilmua alam kok, saya memilih ilmu yang ga perlu ribet seperti yang kalian bilang ilmu. Apa menurut kalian bahasa dan sastra itu bukan ilmu? Apa filsafat itu bukan ilmu? Apa bahasa dan sastra hanya sekedar hobi? Kenapa penting? Apa filsafat bukan ilmu? Kalau begitu kenapa Phytagoras disebut sebagai filsuf?”
FFT memang game FF terbagus, tuan.
(tapi konon katanya plot dan storyline game ini bikin deja vu sama Tactics Ogre lho, wong apa itu….ah, lupa istilahnya… adalah tim yang sama)
..karena itu saya juga dulunya ketagihan sanfadh dengan game ini.
paling enggak belajarlah matematika sebentar. matematika itu dasar semua ilmu. tapi yang lebih mendasar lagi ya ilmu agama. coba cari game yang berhubungan sama agama… ehehhee…
@roze:
yah, namanya yg bikin satu tim *kalo ga salah*
memang keren gamenya…storinya mantap, tapi kalo gameplay saya masih lbh suka FFXII
@niez:
matematika? apaan tuh?
Ahahaha, aku juga sering bilang, “Maen game bagus juga buat latihan bahasa Inggris, menyenangkan lagi, daripada baca buku novel Inggris tebel-tebel yang gak menarik itu…”
Eh, belakang-belakangnya kena marah… Katanya ngelawan, wakakakak
Ngomong-ngomong…
Apa hubungannya judul sama tulisan?
@Dream Maker:
. Novel bahasa Inggris sih saya masih suka, pokoknya selama tidak ada hubungan sama sekolah la!
Memang betul itu apalagi kalau gamenya ini
senasib…senasib
ga ada hubungannya…kecuali Anda mengerti sifat dan maksud saya sebenarnya.
Jadi alim bentar…
…
…
…
Iqro! Bacalah! Setiap kesempatan lebih baik selalu gunakan untuk ‘membaca’. Kita melihat batu, melihat pemandangan, bermain game, dan melihat hal-hal lainnya, cobalah untuk di’baca’. Dipikirkan. Maka setiap detik kita akan selalu ‘belajar’. Belajar tidak harus melalui cara formal. Belajar bisa lewat apa saja, kapan saja, dimana saja, selama masih ada kemauan untuk berpikir.
…
…
…
*stop alim mode*
Ha, terinspirasi dari kakek saya.
Well, respon terhadap beberapa paragraf terakhir… tidak ada ilmu, pengetahuan atau ilmu pengetahuan yang tidak berguna. Yang ada hanyalah yang sekunder. Selama kita masih bisa menyerap ilmu itu, kenapa tidak? Kenapa harus menolak? Image is nothing, thirst of knowledge is everything, kutipan dari salah satu pengguna Wikipedia.
—-
Btw, game-game taktik PSX jaman dulu memang sarat politik (kayaknya semua game taktik ‘generasi emas’ memang begini semua ya) dan agama. Vandal Hearts, FF Tactics, Tactics Ogre, Ogre Battle, de es be… sudah saya babat semua! Hahaha!
*bangga*
@Xaliber:
saya ndak menolak ilmunya. saya cuma menolak mempelajarinya.
sesuai kata-kata Anda, segala sesuatu harus dilihat ada untungnya apa engga.
dan…survey membuktikan
BUAT SAYA BELAJAR FISIKA DAN KIMIA ITU GADAGUNA!
Semua ilmu ada gunanya. Tak ada ilmu yang ga berguna, adanya ilmu yang sekunder. Kalau ilmu bisa ngga berguna, kenapa dia ada?
*ngotot*
Buat saya, Fisika setidaknya bisa membantu saya mikir
hal-hal ga pentingdi saat senggang, meskipun cuma Fisika dasar.Berguna dalam batasan kehidupan saya, bang…
Yah, situ kan mikirnya begitu. Kalau saya mikirnya bagaimana caranya terbang tanpa sayap. Di mana Tuhan menyimpan hartanya. Atau ngayal yang aneh bin ajaib. ga ada rumus2an…
Saya juga ngga pakai rumus.
Paling banter rumus kecepatan aja buat memperkirakan kapan orang bakal datang.
Lebih enak mikir teori-teorinya.
*Hoho.. kalau buat sesama orang Indo(terutama saya) pakai bahasa Indo saja, nas.. kalau buat yang laen-laen silakan atuh pake Bahasa Inggris..*
Wow, rupanya argumen para gamer kalau ditanya orang tua tidak jauh berbeda ya
saya juga berkata ‘buat belajar Bahasa Inggris, Bu!’ ketika Ibu saya mengeluh karena saya terlalu banyak main game.. akhir-akhir ini beliau sering berkata pula, ‘mana, katanya main game buat belajar Bahasa Inggris, kok nilai kamu segini-segini aja!’
wew..
Yah..susah lah kalau orang sudah tidak tertarik kemudian disuruh belajar..
Kalau saya pribadi sih, saya suka Matematika, Kimia, dan komplotannya itu. Menarik. Tidak kalah menarik dari belajar Bahasa atau yang lain, menurut saya.
Ya..meskipun saya berkata demikian, bukan berarti nilai Matematika saya dll bagus.. tapi saya tetap menyukainya..
Kalau dunia tidak ada matematika, apa jadinya? Kalau tidak belajar angka, apa jadinya?
Memang semua Ilmu bisa didapat di mana saja sih.. nggak harus dari lembaga formal. Saya setuju banget kalau soal ini
@Xaliber:
Anda, rajin.
Saya, malas.
@Ash:
Sini juga nilai bahasa Inggrisnya jelek kok. Tes Harian cuma 62.
Kenapa? Karena pelajarannya ga ngebahasa sastranya sih… saya lebih suka sastra drpd belajar bahasanya.
Saya suka belajar sambil senang-senang. Sambil tidur, sambil makan, sambil main. Saya suka seni dan filsafat. Tapi ga dipelajari di sekolah…gimana tuh?
Saya pribadi ga benci matematika. Bahkan ada sukanya juga karena ada filsafat matematika. Tapi kalo suruh belajar, ogah.
Guru terbaik setelah pengalaman adalah diri sendiri dan alam.
Wow..dasar filsuf (duh, apaan sih kata pelakunya filsafat? filsuf bukan?)
Belajar memang lebih menyenangkan kalau santai.. mengingat sekolah ada tekanan yang bernama ‘nilai’.. tapi mau bagaimana lagi, kalau mau cari kerja harus ada ijazah sih, dan perusahaan maunya cuma kalo ijazahnya tertera nilai2 bagus.. entah NEM kek.. IP kek.. jadi mau gak mau harus belajar di sekolah/kuliahan ya..
Tapi sekolahan bagi saya menarik juga.. meski banyak praktek-praktek gak bener di situ (ex:mencontek) seenggaknya sekolah termasuk ladang ilmu yang luas.. tergantung bagaimana kita melihatnya sih.. *sok tahu*
makanya ga usah kerja yang kayak gitu. jadi pekerja pribadi/pelajar seumur hidup.
jadi penulis kalau mau keliatan agak pinter. tapi kalau mau seneng jadi cergamis/pekerja desain grafis.
atau jadi apapun yang ga perlu pake nilai. jadi org bebas
cita-cita saya.
@Leom S. Sile:
Kalau saya rajin, harusnya kartul saya sudah selesai sekarang.
Betewe, argumen ’sambil belajar Bahasa Inggris’ kayaknya lebih mutakhir kalau dilakukan sambil buat game.
bagus bagus…..
permisi semua teman2… SILAHKAN KUNJUNGI LINK SAYA…..
Saya juga menerima pesanan desain grafis, spesialisasi desain layout, corporate identity, ilustrasi vektor, dan autorun multimedia cds…. Portofolio sementara ada di link saya….
terimakasih…
AAAAHHHH!!! semenjak kuliah gak pernah sentuh PS!!!!
habis ujian, maen lagi!!