update: perbaikan (seadanya) sesuai permintaan.
Sekuler, sebuah kata yang mungkin terbilang asing namun akrab. Seperti dekat tapi jauh. Sebuah istilah yang memang banyak dibicarakan terutama oleh negara yang memiliki basis agama. Meski pada akhirnya sekuleritas seringkali dianggap berbahaya. Namun sebenarnya apa sih sekuler itu?
mana saya tahu…duh, kamu ini gimana sih?
mau membahas tapi tidak tahu dasarnya.
kan, supaya terlihat keren saja
, buat judul yang ‘wuah!’.
…kamu ini.
Baiklah cukup main-mainnya. Sekuler dalam bahasa Indonesia sangat besar kemungkinannya bahwa adalah sebuah kata serapan dari kata Bahasa Inggris, ‘secular’. Di mana kata tersebut seperti yang saya lihat di kamus Oxford (American) pemberian Apple Computer di Dashboard saya artinya sendiri bermacam-macam. Namun saya menilik dua artian yang sekiranya paling mendekati pembahasan ini.
1. denoting attitudes, activities, or other things that have no religious or spiritual basis.
2. Christian Church. not subject to or bound by religious rule; not belonging to or living in a monastic or other order.
Rupanya artinya memang tak jauh-jauh dari apa yang dipahami selama ini.
Nah, maka biasa juga terdengar istilah-istilah, ‘kegiatan sekuler’, ‘apa-apa sekuler’, bahkan juga yang sudah akrab di telinga kita, ‘negara sekuler’. Negara yang (kata guru saya) memisahkan urusan agama denga urusan negara. Negara ya negara, agama ya agama. Bukan berarti ateis juga, lho…
Kemudian saya bertanya-tanya, “Indonesia itu negara sekuler bukan?”
Mau jawab? Silakan… Tapi saya mau berkicau dulu, yeh…
![]()
Kalau saya menanyakan pertanyaan ini ke guru saya, jawabannya sudah pernah saya dapat. Indonesia jelas bukan negara sekuler karena falsafah negaranya sudah menyebut agama dan mengakui Tuhan. Lalu saya diberi contoh negara sekuler itu Amerika Serikat. Ketika dulu saya masih SMP saya sih enjeh aja diberi jawaban seperti itu. Tetapi sekarang saya sudah kelas 12 dan makin mendekat ke filsafat UGM jadi bertanya-tanya. “Apa hanya dengan falsafah dasar negara kita menyebut dan meyakini Tuhan cukup menjauhkan kita dari label sekuler? Kalaupun kita memang negara yang beragama–bukan negara agama– agama apa yang kita pakai sebagai dasar, pembanding, penuntun, whatever you name it lah!”
Sekuler sendiri artinya seperti tadi adalah sebuah sifat memisahkan agama atau kepercayaan religius maupun spiritual dalam aktivitas. Apa yang ingin saya sorot kembali adalah mengenai pengertian sekuler itu sendiri terlebih dahulu.
Jadi bila mengacu pada pengertian di atas contoh tindakan sekuler adalah bisa jadi seperti, main Pe-eS, main internet (terus buka yang enggak-enggak), lalu membaca komik, buang-buang waktu, bahkan belajar dan bereksperimen pun bisa dibilang sekuler kan? Selama kita melakukannya tanpa amalan terhadap sesuatu yang spiritual maupun religius.
Lalu bagaimana bentuk negara sekuler itu sendiri? Kalau apa yang saya tahu dari guru saya, meskipun saya tidak yakin juga, adalah negara yang aturan, undang-undang, dan (mungkin) konstitusinya tidak banyak atau tidak sama sekali mengacu pada kepercayaan spiritual atau agama. Makanya memang sah saja dikatakan kalau Indonesia itu bukan negara sekuler karena jelas-jelas falsafah dasar kita berisi satu sila sakti, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Tapi apa itu cukup? Apa sebuah dasar/falsafah dasar cukup memberi bukti bahwa sebuah negara bukan sekuler? Bagaimana tindak ke depannya? Kalau Indonesia bukan negara sekuler kenapa ada sekelompok masyarakat yang protes mengenai kepercayaan religi atau kenapa sebuah RUU bisa menjadi sedemikian rumit sampai-sampai terlupakan. Manakala RUU itu mengambil dasar dari sebuah ajaran agama. Padahal kalau mengacu pada falsafah negara hal itu sah-sah saja. Mengambil ajaran agama untuk dijadikan sebuah Undang-Undang universal dalam lingkup domestik sehingga tidak untuk agama itu saja. Karena negara kita secara hukum adalah negara yang mengakui bahwa agama adalah sesuatu yang nyata dalam kehidupan. Tapi apa yang terjadi kalau Indonesia sendiri memiliki perbedaan agama–lebih dari tiga agama ‘besar’–yang kentara bahkan penganutnya cenderung agresif, entah kenapa Yerusalem muncul di benak saya.
Nah, bila kembali pada pernyataan bahwa sah saja mengambil ajaran sebuah agama untuk dikembangkan menjadi Undang-Undang universal. Rasa-rasanya hal ini agak riskan karena bila tidak disampaikan dan dilakukan dengan benar yang akan terjadi justru mengarah pada bentuk pencampuran agama yang bisa dilihat sebagai betuk paham pluralitas agama. Karena agama–penganutnya– pada dasarnya memiliki sifat arogansi terhadap agama lain. Agama seringkali dijadikan sebuah tiket untuk melegalkan kekerasan atau membenarkan segala argumentasi yang cacat secara sosial, hukum, maupun sosial. Sehingga seperti yang kita tahu di Indonesia saja sudah berapa perbedaan pendapat yang membawa-bawa agama di dalamnya? Tidak sedikit rasanya.
Jadi pantaskah kita menjadi negara yang tidak sekuler? Ketika kita mengambil ajaran dari agama ini ada golongan dari agama itu sendiri yang menyangkal apalagi dari yang berbeda agama. Lalu ketika kita mengambil dari ajaran agama lain lagi ada sebuah ormas yang akan berkoar-koar atas-nama-Tuhan agar keputusan itu dibatalkan. Rasanya susah menjadi negara yang tidak sekuler bagi Indonesia, selama agama nomor satunya sendiri masih belum jelas. Juga selama toleransi antar agama sendiri masih belum bisa dilakukan oleh penganut agama di Indonesia.
Lalu apa kita harus menjadi negara sekuler? Memisahkan aturan agama dengan kepentingan kenegaraan dan sepenuhnya bergantung pada norma manusia untuk mengatur negara–manusia? “Apa kata dunia Marx?”
Ah, sebelum melanjutkan ber-sekuler-ria saya teringat sebuah pemikiran kuno tapi masih relevan (bahkan menurut saya hampir abadi) mengenai agama dan Tuhan. Tak tahu benar apa tidak bagi saya ini ada kaitannya dengan sekuleritas. Pemikiran Ibnu Rusyd mengenai kelogisan Tuhan dan sebuah teori paradoks omnipotensi (Omnipotence Paradox?). Sebuah teori tentang kelogisan Tuhan seperti mungkinkah Tuhan menciptakan sesuatu yang bahkan Ia sendiri tak akan mampu mengendalikannya? Anggap saja manusia, mungkinkah nanti suatu saat manusia sedemikian majunya hingga dapat mencapai Tuhan?
Namun bukan itu inti dari pemikiran yang saya ingat. Sesuatu yang lebih sederhana, tentang bagaimana nantinya kita menyampaikan Tuhan dan agama. Sekarang ini ilmu pengetahuan seolah sudah menempati setiap benak hidup kita, bahkan ketika tidur ada formula yang menghitungnya. Seolah ilmu pengetahuan adalah Tuhan. Namun bila kembali pada konsep Tuhan mungkinkah kita melogiskan Tuhan? Tuhan sanggup menciptakan keberadaan dari ketidakberadaan, sebuah konsep creation ex nihilo yang hanya dimiliki Tuhan. Sebuah konsep yang mustahil bagi dunia ilmu pengetahuan. Sehingga dari dulu sejak zaman keemasan Islam (atau bahkan sebelumnya mungkin?) hingga sekarang tak sedikit cedekia yang mempertanyakan kelogisan Tuhan. Apakah Tuhan perlu dibuktikan dengan ilmu pengetahuan atau diterima apa adanya? Apakah agama adalah sesuatu yang cukup diterima dan diamalkan tanpa dikaji?
Sehingga kembali pada teori sekuleritas tadi. Apa hubungan teori ini dengan pemikiran Ibnu Rusyd tadi? Dasar sekuleritas di zaman modern ini banyak disebut adalah ilmu pengetahuan. Dulu kita mengetahui bahwa bayi akan tercipta hanya dengan hubungan seksual dan agama mengatakannya namun sekarang ilmu pengetahuan telah bisa menciptakan bayi tanpa hubungan seksual. Ilmu pengetahuan telah menertawakan agama. Namun kemudian ketika ditanyakan apa yang ada di surga agama telah dengan berbangga menertawakan ilmu pengetahuan. Apakah mungkin suatu saat ketika sekuleritas telah benar-benar mendunia hingga para ilmuwan tak perlu lagi memikirkan agama dan Tuhan untuk mencari surga? Sekuleritas sendiri yang disalahkan pemuka agama sebagai musuh besar agama pada dasarnya adalah pembenaran agama atau pengulangan agama. Mereka mencoba mengulangi dan menafsirkan–dengan cara logis– apa yang ada di agama. Sebuah pengetahuan maka disebut ilmu pengetahuan. Seperti yang pernah saya pelajari bahwa pengetahuan hanyalah usaha mengulang dan menuliskan kembali kebenaran. Kebenaran sendiri melubangi pengetahuan karena kebenaran akan selalu maju dalam dimensi sekuleritas ilmu pengetahuan dan selama kebenaran itu terus dicari.
Lalu apakah ilmu pengetahuan harus bersikap sekuler? Haruskah berpikir sekuler untuk melogiskan Tuhan agar bisa diterima dengan lebih diterima bagi orang yang awam agama? Ilmu pengetahuan sendiri dalam konteks Ibnu Rusyd hanyalah ingin melogiskan Tuhan agar mudah diterima oleh orang yang awam terhadap agama. Bukan membunuhnya. Meskipun begitu apakah harus menjadi sekuler jawabannya, tidak. Kalau ilmu pengetahuan haruslah bersifat sekuler maka mengapa Baghdad dapat sedemikian maju secara ilmu pengetahuan dan agama? Karena seberapa hebat pun ilmu pengetahuan manusia adalah batasnya. Dalam filsafat dikenal istilah bahwa Tuhan adalah, “Tuhan para filsuf”, di mana akhirnya semua akan berhenti kepadanya atau mungkin sebelum mencapai teras Tuhan. Sehingga sekuleritas tak berarti harus dilakukan demi ilmu pengetahuan melogiskan agama. Tuhan adalah di mana semua bermula. Lalu bagaimana dengan teori Omnipotensi tadi? hal itu tanyakanlah sendiri pada Tuhan.
Maka kembali ke pertanyaan pertama, “apakah Indonesia negara sekuler?”
Saya sendiri menanyakan ini kepada diri saya sendiri maka setelah penelusuran mandiri yang telah saya jabarkan saya berusaha menjawab pertanyaan ini sendiri. Jawabannya adalah, “bukan, Indonesia bukan negara sekuler”. Karena apapun bentuknya Tuhan dan kepercayaan spiritual masih umum di Indonesia. Animisme, kendati tidak mempercayai Tuhan masih mempercayai kekuatan spiritual yang mengatur mereka. Lalu Indonesia sendiri dengan tingkat pendidikan yang masih di bawah rata-rata ‘bagus dan berkualitas’ masih cukup bodoh untuk berpikir rasional. Masih ada takhayul dalam masyarakat. Sehingga meskipun memang kualitas agama di Indonesia mungkin tak sebaik di Timur Tengah sana, masyarakat kita toh masih berkembang bersama takhayul-takhayul dan kepercayaan-kepercayaan mistis. Terlepas apakah itu bentuk bid’ah atau bukan pada faktanya bersyukurlah para ulama, pendeta, biksu, pendeta, dan kawan-kawan. Masyarakat Indonesia masih memiliki kepercayaan kuat pada hal-hal mistis dan kurang logis dalam kehidupan sehari-hari. Yang perlu dilakukan hanyalah mengarahkan mereka pada jalan yang sesuai dengan agama kalian masing-masing. Sehingga ke depannya janganlah sampai Indonesia menjadi negara yang terus-terusan bodoh. Atau memajukan pendidikan dengan bergonta-ganti kurikulum dan mengarahkan generasi muda kepada sekuleritas. Adalah sebuah pilihan bagi Indonesia sekarang.
Jadi begitulah akhirnya saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan menanyakannya pada diri saya sendiri.
wah, menarik juga ya seperti ini?
memang, jadi bisa memberikan banyak waktu untuk berpikir.
lain kali kita coba lagi yuk! apalagi pertanyaannya?
kita pikirkan lain kali. sekarang aku cape..pe..pe…
Tapi saya agak ragu. Keraguan itu justru kembali pada pernyataan yang pertama kali saya sebut di entri ini. Konon katanya ideologi Indonesia–Pancasila– itu tidak sekuler. Tapi rasanya entah kenapa justru terkesan sekuler modern, sekuler yang lebih spesifik dalam menjadi tandingan agama.
sekian. Lemon S. Sile©2008
nyolong, hajar!

Sudahlah, nggak usah dibahas panjang lebar. Sebenarnya kalau suatu negara nggak berbasih salah satu agama, itu sudah bisa disebut sekuler.
Perbaiki paragrafnya, aku ngadat di tengah-tengah.
Denger-denger sih Indonesia itu sekuler setengah hati.
aihhh……endonesa emang negara yang “sekuler”, tapi masyarakadhna itu lho…
*geleng-geleng kefala*
fercuma dijejali berbagai teori, pendapat atau ofini. kalo yang dijejali makanan lezat kaya gitu cuma segerombolan kaum primitif yang berpikiran sempit.
btw, bener kata si gun, dirapiin dikit lagi, jadi enak mbacanya. abis fanjang sangadh
*ditendang*
Artikel yang bagus, terlihat jelas kepedulian pemuda pada negerinya. Pernah ada pembahasan soal sekuler yang agak mirip-mirip di sini
URUSIN DIVISIMU, WAHAI TAICHOU!
Dan saya satu suara dengan Bang Goen.
Sementara nunggu paragrafnya dibetulin, ada beberapa yang perlu di-clear-kan. Tapi ini sejauh pengetahuan saya aja sih.
Sekuler, sekulerisme, dan sekuleritas itu kayaknya memiliki 3 arti yang rada berbeda (tapi mirip).
Sekuler, seperti yang sudah dibilang di tulisan itu, bisa berarti hal-hal yang “tidak berhubungan dengan agama” atau “ireligius/tidak mau berhubungan dengan agama”. Referensi saya juga dari kamus.
Kalau sekulerisme lebih merujuk ke paham politik untuk memisahkan agama dan negara. Jadi dalam sistem pemerintahan perlu ada pemisahan antara urusan beragama sama urusan bernegara. Ini rujukannya dari guru (dan pengetahuan umum).
Menyoal sekularitas, beda lagi. Mirip-mirip ke arti dari istilah sekuler, tapi lebih merujuk ke istilah ireligius itu sendiri. Yaitu tindakan-tindakan yang ngga menunjukkan sikap religius atau ngga tampak seperti beragama dengan benar. Mungkin semacam orang Islam yang ngga pernah shalat. Sekularitas lebih merujuk pada keadaan sebuah individu.
Lalu apakah Indonesia negara sekuler?
Kalau menurut saya, tergantung konteksnya. Apakah negaranya yang sekuler, atau masyarakatnya yang sekuler?
Kalau negaranya, IMO dia bukan sekuler dan bukan pula penganut sekulerisme. Selain karena alasan ideologi Pancasila yang membawa-bawa agama, daerah-daerah yang mendapat hak otonomi juga masih menerapkan unsur keagamaan yang lumayan kuat, kan?
Kalau masyarakatnya, nah ini sangat bervariasi. Mereka ngga mungkin menganut sekulerisme karena mereka bukan negara, tapi mungkin bisa jadi cenderung ke pengusung sekuleritas.
Indonesia sekuler atau Tidak!
1. Indonesia adalah pembawa ilmu pengetahuan agama ajaran Adam 10.000 tahun yang lalu sesuai Al Baqarah (2) ayat 30,31,32,33,34,35,36,37,38,39 (sorga perdamaian agama dahulu sesuai An Nahl (16) ayat 93).
2. Indonesia adalah pembawa ilmu pengetahauan agama ajaran Adam millennium ke-3 masehi sesuai Al A’raaf (7) ayat 27 dan Thaha (20) ayat 117 (sorga perdamaian agama sekarang sesuai An Nahl (16) ayat 93).
3. Artinya Indonesia adalah pembawa HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB memenuhi Al A’raaf (7) ayat 52,53.
Apakah isi dari HARI TAKWIL KEBENARAN KITAB itu, kami telah menerbitkan buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
berikut 4 macam lampiran acuan:
“SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)”
hasil karya tulis ilmiah otodidak penelitian terhadap isi kitab-kitab suci agama-agama selama 25 tahun oleh:
“SOEGANA GANDAKOESOEMA”
dengan penerbit:
“GOD-A CENTRE”
dan mendapat sambutan hangat tertulis dari:
“DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA” DitJen Bimas Buddha, umat Kristiani dan tokoh Islam Pakistan.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
sebenernya saya juga AGAK sekuler.. tau sendiri kan?
@Mardies:
Berarti secara politik kan? Tapi biarlah, saya ga maksud serius soal ini kok…
@Gun:
Sudah (seadanya).
@danalingga:
Sepertinya sih memang begitu. Indonesia kan hebat.
@Hoek:
apa yang enak? dan kenapa pakai ‘kutip’ ?
@jepits:
Saya ga peduli-peduli amat. Padahal ngurusin diri sendiri aja belum beres.
@Xaliber (1):
bacot, lu!
@Xaliber (2):
Kalau dipaham-pahami pendapat situ justru mengedepankan bahasa, lho… kekuatan bahasa dalam mengubah arti. Jadi kalau hal itu seperti itu seharusnya disampaikan dalam konteks pembahasan bahasa…
@Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi. (panjang bener nih nama):
apaan sih?
@Aya:
Apa? Nilai agama situ jelek? Sini juga.
sebenernya bukan lebih ke nilai agama jelek. memang nilai agama jelek tapi jauh lebih jelek di prakteknya sehari-hari. yaitu saya rada memisahkan kehidupan sehari-hari dengan agama. saya khawatir bakal jadi konyol karena terlampau polos seperti pak taslim atau jadi menyebalkan seperti bu eri agama atau jadi sembarangan men-judge orang (based on Al-Quran katanya) seperti bu husna.
terus saya juga lihat di tabloid realita yg dibeli ibu saya.
“ada seorang remaja Islam yang taat terkunci di kamarnya sendiri padahal kamarnya selama ini tidak pernah dikunci. lalu dia meminta ibunya mengambilkan buku doa-doa. di buku doa tersebut tertulis ‘doa jika terkunci di ruangan’. doanya adalah baca Al-Fatihah 100x kemudian baca lagi 3x lalu niscaya pintu akan terbuka. dan di cerita itu dengan ajaibnya pintunya kebuka. tetangganya yg datang bawa linggis, palu, dll cuma terpana.”
astagah.. meskipun katanya itu kisah nyata tapi…….. bagaimana ya? sulit buat percaya karena itu tidak make sense at all.
kalo itu benar, apa gunanya kunci? maling bisa masuk dengan mudahnya pakai Al-Fatihah dong..
situ percaya ga sama cerita ini?
saya jadi penasaran. pak taslim yg polos itu percaya tidak ya?
kalo masalah “apakah Indonesia kita tercinta ini negara sekuler atau tidak?” saya jawabnya tidak.
lihat saja asal-usul pancasila. tadinya kan tidak diusulkan keTuhanan Yang Maha Esa, tapi something yg ada syariat Islamnya. itu kan sudah menjurus ke agamis. menurut saya, negaranya tidak sekuler, tapi sebagian masyarakatnyalah yang sekuler.
bagaimana?
@Aya:
Butuh pemahaman yang rasional dalam memahami agama.
[/nyela]
@Lemon S. Sile:
Memang secara bahasa. Tapi artinya bisa beda.
Sekularitas memiliki arti lebih sempit. Yaitu terbatas pada hal-hal yang menunjukkan ketidakbaikan dalam beragama. Contoh mudah: saya orang Islam. Saya jarang solat. Berarti saya bisa dibilang orang yang sekuler dan melakukan sekuleritas dalam beragama. Tapi sekuleritas bukan berarti “pemahaman rasional dalam beragama”. Sekuleritas, sejauh yang saya tahu, cuma terbatas pada — kasarnya — buruknya seseorang itu dalam melakukan ritual agama.
Singkatnya, yang ga solat Jum’at berturut-turut selama 3 kali itu bisa dibilang telah melakukan sekularitas dalam beragama.
Kalau Freethought, atau pemahaman rasional dalam beragama, atau lain-lainnya, kayaknya lebih pas dibilang sekuler aja.
Dan paragrafnya kok masih begitu?
Mana line-break-nya?
Coba lihat perbedaannya disini:
Paragraf tanpa line break:
http://i29.tinypic.com/1z5hy6x.png
Paragraf dengan line break:
http://i32.tinypic.com/2guwls6.png
Mac ngga bisa ngasih line break ya?

*kabur sebelum bala bantuan dari planet Nuhmac datang*
Siyal, yang satu lagi kena moderasi gara-gara ada link. Tolong dibebaskan dong.
*hettrik; salahkan Akismet
*
@Aya:
Pendapat situ agak muter balik…
@Xaliber:
Tapi tetep aja agak kurang pas mempermasalahkan perubahan arti di sini. Lagian saya cuma menitikberatkan kata sekuler.
Kalau ukurannya 2 : Sekuler atau Agama, maka Indonesia sebenarnya bisa dikatakan negara sekuler (penganut paham sekulerisme).
Tapi masalahnya, dalam pemahaman tentang sekulerisme, sangat banyak rentangnya mulai dari yang hard core sampai yang soft-core (istilah pribadi).
Saya ambil contoh saja Turki dan Meksiko. Kedua negara ini menganut sekulerisme yang sangat keras. Lambang/panji agama, kegiatan ibadah keagamaan, dan hal-hal lain yg berhubungan dengan agama, dilarang tampil di ruang publik. Turki sampai melarang pemakaian jilbab, sementara Meksiko melarang ibadah keagamaan di ruang umum (lapangan terbuka, dll).
Amerika dan kebanyakan negara Eropa itu sekuler, tapi masih mengijinkan lambang-lambang agama hadir di depan publik. Indonesia sebnarnya sama saja dgn AS tapi karena nggak mau disamakan jadinya mereka bilang bukan sekuler dan bukan negara agama.
Sekulerisme [spt yg dibilang Deathlock diatas[ memang memisahkan secara tegas urusan/urusan, wewenang, dlsb agama dan negara. Agama tidak mencampuri urusan negara dan negara tidak melakukan penetrasi pada urusan agama.
Tapi persepsi “mencampuri” ini yang bisa dibedakan.
Ngeri kita sekuler ….. apa iya ya? iya kali….
@Pyrrho:
Secara konteks sekulerisme sih tampaknya sekilas memang Indonesia tampak sekuler. Meskipun terkadang ada kasus-kasus yang menurut saya pemerintah agak bikin bingung dalam hal-hala keagamaan. Tapi masyarakatnya sih kayaknya sama sekali ga sekuler deh.
Dipikir-pikir Indonesia sebagai negara (yang katanya) demokrasi jadi agak rancu dong. Katanya tidak menganut sekulerisme tapi rakyatnya (dan pemerintah?) tidak sekuler. Sebuah pemikiran yang rancu.
@TH:
Seberapa dosanya untuk menjadi sekuler?
[hus, jangan ketawa!]
kalau bukan negara sekuler dan agama lantas inonesia nagara apa?
Buku panduan terhadap kitab-kitab suci agama-agama berjudul:
“BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoeosoema
Tersedia ditoko buku K A L A M
Jl. Raya Utan Kayu 68-H, Jakarta 13120
Telp. 8573388
sekuler… tanya kenapa
permisi semua teman2… SILAHKAN KUNJUNGI LINK SAYA…..
Saya juga menerima pesanan desain grafis, spesialisasi desain layout, corporate identity, ilustrasi vektor, dan autorun multimedia cds…. Portofolio sementara ada di link saya….
terimakasih…
Buku “BHINNEKA CATUR SILA TUNGGAL IKA”
Penulis: Soegana Gandakoesoema
Penerbit: GUD-A CENTRE
Bonus: “SKEMA TUNGGAL ILMU LADUNI TEMPAT ACUAN AYAT KITAB SUCI TENTANG KESATUAN AGAMA (GLOBALISASI)” berukuran 63×60 cm.
Tersedia ditoko-toko buku distribusi tunggal
P.T. BUKU KITA
Telp. 021.78881850
Fax. 021.78881860
Salamun ‘alaikum daiman fi yaumiddin, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.