Saya Malass… [Perang Gila Episode 1: Virus Malas]

Ya, saya malas. Malas ngomong. Malas berpikir. Malas bernapas. Malas bergerak. Malas berkomunikasi. Malas ini-itu.

Kenapa malas? Karena saya malas… Karena saya malas jadi saya malas buat postingan belakangan ini. Malas onlain, malas menyalakan komputer, malas pulang ke rumah, malas pergi ke sekolah, malas jalan-jalan, malas tidur…

Malasologi

Lalu kenapa bisa semalas itu sih? Karena saya malas. Jangan tanya la… Saya malas jawabnya.

Bicara soal malas. Kenapa manusia bisa malas?

Karena manusia bisa jenuh. Kenapa bisa jenuh, terlalu banyak mengkonsumsi minyak tak jenuh bukannya baik? Mungkin karena otak kanan dan kiri berantem. Otak kiri bekerja konvensional sementara otak kanan bekerja main-main. Disatukan tapi berbeda, berbeda tapi satu.

Wuih, hebat! Cuma segumpal tali-temali syaraf tak berotak kok bisa damai ya? Padahal beda ideologi. Apa seharusnya manusia dibuat tak berotak saja biar bisa damai? Apa yang terjadi ya? Apa akan ada peradaban. Tanpa otak mungkin tulisan ini harus dibaca langsung di saya menggunakan bahasa tubuh. Atau bahkan tidak ada, tidak ada otak untuk memikirkan hal seperti ini sih. Hari-hari tanpa otak akan diisi dengan lamunan bak kambing di pinggir lapangan (sambil mengunyah rerumputan). Dipikir-pikir enak juga ya…

Kalau tidak punya otak tidak perlu sekolah. Selama tinggal matematika, bahasa, IPS, IPA. Tentu saja buang jauh-jauh buku-buku panduan Ujian Nasional itu. Tapi kalau tidak punya otak dan tidak bisa berpikir. Apa kita masih bisa memikirkan ‘doi’? Perasaan itu ada di otak atau di hati sih? Di hati kan ada glukagon atau glikogen, ada cacing hati juga mungkin. Juga beberapa batalyon virus hepatitis.

Mengingat perasaan. Saya juga malas ngomongin ‘doi’, padahal tidak punya ngapain dibicarakan. Buang-buang waktu, sudah tahu tidak punya harapan. Wong, tujuannya yang mana saja tidak jelas. Serasa berada di animanga harem, kok kayaknya banyak banget wanita cantik di sekitar saya. Meskipun tidak satupun yang bisa dibilang ‘ada harapan’. Kalau begini urusannya salah siapa yah? Terus mau diapain yah, diemin aja la… Saya kan malass… Malas memilih, lebih baik main saja, main pe-es.

Main DW, ternyata seru juga. Memang seru, cuma baru kali ini iseng keluyuran dulu sebelum nuntasin levelnya. Jadi sekalian main-main, kumpulin item langka. Gara-garanya jadi pengen baca Samkok. Nemu komiknya (yg novel juga) beberapa minggu yang lalu, tapi dompet saya gamau beliin apa boleh buat. Tambah lagi pengen beli V for Vendetta, trus pengen maen Ben 10 yang di PSP. Banyak yang saya inginkan. Lho? Katanya malas? Oiya, ya… malas…

Kenapa bisa malas? kenapa sampai main saja bisa malas? Karena pemalas kan…
Tidak pernah belajar dibilangnya malas. Jarang belajar di rumah saja dibilang serba-serba malas. Makanya malas saja semuanya sekalian. Malas makan, malas bernapas, malas bergerak. Tidak usah takut disalahkan. Kan malas, jadi ga usah la dibilang pemalas lagi.. udah jelas-jelas malas gitu.

Sesuatu yang sudah jelas ngapain lagi diulang-ulang. Lebih baik langsung saja dilanjutkan. Tidak perlu sampai setengah jam barang menulis actionscript Flash sederhana. Sesederhana “on (release)”, kok sampai setengah jam ya? Padahal tinggal diketik atau pakai saja assistant, mudah. Entah memang susah, gurunya yang payah, muridnya yang goblok, atau kurikulumnya yang ngaco. Bicara kurikulum. Katanya sejak tahun 90′an taksonomi tidak memakai yang dibuat Empu Whitaker lagi, yang sistem 5 kingdom itu. Tapi saya baru belajar taksonomi kelas 1 SMA (2005), kok masih pakai yang 5 Kingdom yah? Padahal kurikulumnya baru (yang 2004, sekarang kan udah KTSP) waktu itu. Namanya saja yang baru, isinya sih kayaknya masih sama dengan zamannya sepupu saya yang sekarang sudah lulus kuliah beberapa tahun lalu. Jadi yang salah kurikulumnya atau isinya? Atau kembali lagi ke guru yang payah dan murid yang goblok?

Dasar goblok! Sudah jelas malas, goblok, masih ngatain orang goblok. Mau jadi apa kamu ha?!

Suka-suka la… Kucing saya saja yang sudah jelas-jelas kucing masih suka saya katain pemalas, padahal jelas-jelas itu hewan kerjanya tidur doang di rumah. Apa ga kurang bego saya? Mengulang hal yang sudah jelas. Diulang terus sampai lapuk dan ga jelas maknanya. Sebagaimana ulang-ulang terus x tambah x sama dengan 2x padahal gimana sejarahnya belum tentu saya tahu, bapak tahu ga? *bertanya pada guru* Tanya guru sejarah aja…jangan guru matematika. Sama aja dengan minta surat pakai bahasa Inggris jangan mintanya ke guru bahasa Indonesia. Terus kalau mau minta sesuatu jangan cuma bicara doang, ga ada bukti. Buat surat dulu, tanda tangani, kasih materai kalau perlu, baru kasih. Padahal yang diminta cuma fotokopi rapot sama surat keterangan barang berapa kalimat tapi prosesnya sampai berhari-hari. Gimana kalau saya minta inventaris sekolah ya? berapa bulan menginventaris ulangnya lagi? Inget juga, sebelum masuk ruang TU bawa karet gelang ikat di tangan. Begitu masuk dan dijutekin sama pengurus TU, daripada marah-marah malah ga diurusin (trus diancem macem-macem yang mengancam masa depan). Tahan amarah dengan karet gelang tadi. Caranya? Terserah, mau dipecut-pecutin ke tangan atau dimain-mainin juga bole… Asal jangan dijepret ke pengurus TUnya, apalagi ke kepsek.

Nah, ini namanya Malasologi… Apanya yang malas kalau begini? Malas bacanya? Saya sih malas memang malas…


Doodling mural dalam bentuk tulisan, beginilah hasilnya.

Kemiripan istilah, nama, atau kalau-kalau ada yang merasa tersinggung. Sungguh itu adalah hal yang disengaja.

Lemon S. Sile (c)2008

10 Tanggapan ke “Saya Malass… [Perang Gila Episode 1: Virus Malas]”


  1. 1 Goenawan Lee Februari 25, 2008 pukul 11:25 pm

    KONAAAAAAAAAAAAAAA……..

    *save gambarnya, terus Ctrl + W*

  2. 2 Lemon S. Sile Februari 25, 2008 pukul 11:28 pm

    menyesal pasang gambar Kona…

    kutu.

  3. 3 Xaliber von Reginhild Februari 26, 2008 pukul 6:55 pm

    Kapan Anda akan malas menggerakkan jantung? Dan kapan akan malas hidup? :P

    Oh, dan topik pada entri kali ini terlalu banyak… dasar abstrak! :evil:

  4. 4 Xaliber von Reginhild Februari 26, 2008 pukul 6:56 pm

    Tapi kalau tidak punya otak dan tidak bisa berpikir. Apa kita masih bisa memikirkan ‘doi’? Perasaan itu ada di otak atau di hati sih?

    Tidak, tidak… segalanya digerakkan dengan otak. Hail rationalism!

    *ngawur*

  5. 5 Lemon S. Sile Februari 26, 2008 pukul 10:42 pm

    @Xaliber:
    Wah, itu saya harus mendoktrin otot-otot jantung saya dulu. Belajar sama Merah. :lol:

    Makanya saya bilang ini doodling dalam bentuk tulisan. :D

  6. 6 Xaliber von Reginhild Februari 27, 2008 pukul 12:10 am

    Jangan sama Merah, nanti dananya merah. :|

    Malasologi = bikin orang malas baca. :twisted:

  7. 7 17406008 September 18, 2008 pukul 11:47 am

    hebat… malas tapi masih bisa nulis artikel lumayan panjang….

    —————–
    permisi semua teman2… SILAHKAN KUNJUNGI LINK SAYA…..

    Saya juga menerima pesanan desain grafis, spesialisasi desain layout, corporate identity, ilustrasi vektor, dan autorun multimedia cds…. Portofolio sementara ada di link saya….

    terimakasih… :D

  8. 8 Anak Singojuruh September 18, 2008 pukul 9:12 pm

    Malas berkomentar……
    tidur aja dah!zzzZZzZzZZz
    Kalo mimpi malas gak ya?

  9. 9 Mega Anak'e Karyono Singojuruh September 18, 2008 pukul 9:17 pm

    Iya tuhhhh….Bilange males tapi kok nulisi buanyak buanget.
    Males dech baca.

  10. 10 cojones November 23, 2008 pukul 8:36 pm

    besok mo ujian…

    malas belajar….. :|


Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.