[TULISAN ORANG GILA, JANGAN DIANGGAP SERIUS]
Yakin sudah membaca tulisan merah yang ada di atas? Kalu sudah, silakan lanjutkan. Selamat datang di dunia penuh kegilaan tanpa aturan.
Bebrapa waktu yang lalu, waktu saya sedang penasaran dengan yang namanya film FITNA. Saya melintas pada sebuah pendapat di dunia blog WP yang cukup menarik. Tapi mungkin juga pendapat ini bisa ditelajangi oleh pihak-pihak yang getol banget menyiarkan Islam di bumi Indonesia yang berwarna-warni ini. Pendapatnya sederhana dan memang ketimbang bersifat agamis lebih bersifat humanis. Tidak bisa dibilang berorientasi pada kemenangan suatu agama, hanya berorientasi untuk kerukunan dan perenungan perspektif.
Yang mau saya utarakan di sini adalah yaa… masalah perspektif itu. Perpsektif apa yang kita gunakan ketika dihadapkan pada sebuah masalah mengenai kerukunan antar agama dan kekuatan (kemurnian, keabsolutan, apapun Anda menyebutnya) suatu agama. Apakah itu? Mungkin lebih mudah jika langsung disebutkan kasusnya.
Kasusnya (dan juga secara implisit bisa ditelaah apa pendapat yang pernah saya temukan itu):
Dalam kasus film FITNA kemarin kita tahu banyak yang berpendapat bahwa film itu dibuat oleh “Barat” (Pak Geert Wilder lebih tepatnya) untuk menginjak-injak Islam. Menyikapi itu banyak ormas Islam yang memboikot Pak Geert di Indonesia, ada pula yang naik darah setinggi-tingginya karena sesuatu yang disebut penghinaan itu. Katanya itu adalah penghinaan terbesar yang pernah dilakukan.
Lalu coba kembali beberapa tahun yang lalu. Saya akan mencoba menggali sedikit ingatan saya yang bobrok ini ke masa-masa SMP dulu (rasanya saya sudah tua sekali). Sekolah saya pernah mendatangi seorang penceramah, saya ingat siapa beliau tetapi saya tidak mau menyebutkan siap demi alasan nam baik. Beliau adalah seorang mualaf dan kebetulan ceramah beliau berkisar pada kisah bagaimana beliau meninggalkan keyakinan lamanya dan menjadi seorang ahli agama Islam. Tidak terlalu pentinglah bagaimana kisah itu, yang menarik adalah pesan yang beliau tinggalkan setelahnya. Mengenai isu kristenisasi Indonesia. Dari yang diberitahu beliau kabarnya umat Kristen di Indonesia mengarahkan kristenisasi Indonesia dengan cara-cara yang sepintar dan secerdik mungkin untuk mencapai target 40% (kalau tidak salah) Indonesia akan memeluk Kristen di sekitar akhir dasawarsa pertama abad ke 21. Informasi ini sudah cacat karena termakan waktu di neuron otak saya, jadi maaf kalu ada kesalahan. Ini juga tidak dimaksudkan untuk memojokkan pihak Kristiani (itu pun kalau saya benar menyebutnya). Maka dari itu diharapkan kesetiaannya untuk membaca sampai habis.
Baiklah, dari kasus/masalah/kondisi tadi bisa mengerti apa maksudnya? Kalau saat ini Anda adalah seorang muslim dan menggunakan perspektif Islam agaknya akan wajar jika Anda terbawa suasana “jihad” untuk meluruskan dan menyebarkan agama Allah. Tentu saja sembari melawan segala bentuk ancaman yang merugikan agama Allah yaitu Islam tercinta dan penuh cinta ini. Itu wajar, berhubung memang Tuhan Islam, Allah SWT, memerintahkan hal itu pada umatnya. Sebagai agamis hal inilah yang terjawab. Namun sebagai humanis yang menyempatkan diri melihat sesuatu dari arah lain terasa sesuatu yang janggal di sini. Ada sebuah paradoks jika mengingat keberadaan Dajjal, Imam Mahdi, dan kiamat.
Paradoks yang dimaksud adalah. Jika memang Allah SWT memang sudah menjanjikan kemenangan umat Islam di hari akhir kenapa saat ini Beliau masih memerintahkan perintah seperti itu?–menyebarkan ajaran-Nya–
Sebelum itu kembali ke masalah perspektif. Bila Anda muslim, membaca kisah dari pencermah tadi mungkin wajar. Kemudian menunjukkan kemarahan ketika menonton FITNA dan mencaci-maki Pak Geert mungkin wajar. Tetapi pernahkah terbayang bagaimana bila Anda bukanlah seorang muslim dan membaca kisah seperti tadi. Di lain saat Anda marah-marah ketika George W. Bush menvonis Islam sebagai agama teroris dan pernahkah terbayang bagaimana perasaan umat Kristiani yang mendengarkan penceramah masjid menghina-dina agama mereka (dan segala usaha “kristenisasi” mereka). Saya tidak membela umat Kristiani dalam hal ini. Saya hanya menjadika diri saya seorang manusia yang egois dan jujur. Menghendaki dunia yang jujur tanpa perselisihan belakang. Alangkah lebih baiknya jika segala sesuatu bisa dilakukan sesederhana mungkin dan tanpa harus menikam dari belakang.
Memang umat Islam diperintahkan untuk menyebarkan agama Allah. Saya pun yakin setiap agama yang yakin bila agamanya itu adalah kebenaran memiliki pemikiran yang sama. Karena manusia selalu memiliki keinginan untuk kebenaran. Di sisi lain manusia pula adalah makhluk aneh yang memiliki ketertarikan pada kebenaran dan mengetahui apa yang salah atau berbahaya Kembali ke pembicaraan sebelumnya mengenai paradoks. Di sini saya mengambil perspektif umat Islam.
Dalam paradoks yang saya utarakan tadi tidak ada maksdu dari diri saya untuk membiarkan saja Islam dihina-dina. Islam memang ya tetap perlu ditegakkan sebatas kebenaran dan memang itu adalah agama yang benar. Tetapi apakah perlu hingga mencaci-maki agama lain? Dari tadi saya selalu menjauh dari paradoks, sekarang saya coba kembali.
Disebutkan tadi bahwa untuk apa susah-susah menybarkan agama Islam kalu toh Allah SWT sudah menjanjikan kemenangan? Memang logikanya kemenangan akan mustahil kalau umatnya sudah terlanjur musnah. Tetapi bukankah karena itu Tuhan ada? Tuhan memiliki konsep creatio ex nihilo, kenapa berpusing-pusing kalau toh Tuhan memiliki kemampuan itu. Tidak usah khawatir kalau ternyata Islam “gagal” bertahan sampai akhir zaman karena Tuhan memiliki kemampuan itu. Tuhan bisa dengan mudah memunculkan Islam kembali dan menepati janji-Nya. Tuhan memiliki kemampuan apapun (omnipotensi) dan Tuhan telah menjanjikan kemenangan.
Maka dari itu mengapa harus sebegitu besarnya rasa ngotot yang dimiliki radikalis Islam Indonesia dalam menyebarkan Islam? Islam juga menghendaki cara yang damai, tenang, dan bersahabat dalam penyebaran. Dalam sejarahnya pun Islam menyebar di muka Indonesia (dengan sukses?) karena pendekatan yang cerdik dan damai. Melihat penyebaran Islam sekarang rasanya tidak lebih dari usaha brutal dan pemaksaan kehendak. Saya tidak bermaksud menyindir, tetapi apa yang saya kira beginilah penyebaran Islam di Indonesia sekarang. Juga saya tidak mengharapkan sikap pasif terhadap usaha luar untuk mengganggu ketenteraman beragama. Apa yang saya utarakan adalah penciptaan kerukunan beragama dengan mewujudkan adanya kesadaran untuk tidak melakukan pemaksaan kehendak atau cara-cara licik dalam penyebaran “kebenaran”.
Sekianlah. Apapun yang diutarakan di atas murni hanya pemikiran gila seorang yang bahkan tidak tahu tentang dirinya sendiri. Sebelum berpendapat, ada baiknya dicerna baik-baik secara utuh. Dikunyah minimal 27 kali lalu telan pelan-pelan. Jangan dikunyah sambil bicara atau melakukan hal lain, nanti bisa tersedak.
Karena Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mengubahnya sendiri?
Atau kalau mau coba dengan fatalisme sederhana, maka tindakan para Islam garis keras itu sendiri adalah kejadian yang diinginkan Tuhan.
Omnipotens to?
@Xaliber:
Nah, kalau begitu Tuhan tidak sepenuhnya baik ya? Lantas kenapa kita memuja Tuhan sebagai si Maha Baik? Kenapa ada setan yang dijadikan simbol kejahatan?
Hemm…
Karena Tuhan ingin menguji makhluk ciptaannya? Mungkin dengan adanya setan Tuhan ingin melihat bagaimana manusia meresponnya.
Karena kalau dengan asumsi ‘baik’ seperti yang ente maksud, bias-nya berarti sebaiknya Tuhan juga menghilangkan hawa nafsu?
Karena dibalik X bisa jadi ada Y yang membawa ke sesuatu yang lebih baik. Semacam strategi yang kompleks…
Begitu cukup bisa diterima. Tetapi yang dijadikan pertanyaannya kenapa Tuhan harus menjadi Maha Baik?
Sebagai zat yang dianggap yang sempurna, dan apalagi sesuatu yang disembah oleh manusia, tentu Tuhan harus jadi yang maha baik. Pemikiran sederhananya (dan paling standar), kalau Tuhan yang mahadewa itu ngga jadi yang paling baik, manusianya gimana?
Tapi itu kalau dilihat dari pandangan Tuhan sebagai entitas di atas manusia.
Kalau dari hakekatnya, ya kembali ke komen saya yang sebelumnya.
Postingan yang berat
*save-as*
@Xaliber:
Makanya di situlah kesalahan sini…dan mungkin juga kebanyakan orang. “Jangan mengundang Tuhan dalam hajatan manusia…” paham kan maksudnya?
@alex:
Apanya yg berat? Paling cuma beberapa gram…yah, tergantung jenis komputernya juga sih.
Pusing juga kalau mikirin masalah ini…
Jadi ingat puisi Tuhan karya Sutaradji Calzoem Bachrie (sp?).
“wah, saya dikunjungi dua “bintang pelem”!”
@Xaliber:
Apa? Tuhan…Hantu?