Ujang

Pertama-tama, saya mau menyampaikan permohonan maaf kepada Ujang. Berhubung saya telah memakai namanya secara sepihak untuk beberapa hal dalam tulisan kali ini.
Tulisan kali ini, seperti yang terjadi bulan lalu, tulisan penuh rasa iseng tanpa keinginan yang besar. Setelah dipikir-pikir rasanya saya sudah tidak memiliki keinginan besar lagi sejak beberapa bulan lalu. Saya sudah tidak ingin menjadi seorang polisi lagi. Saya sudah tidak ingin menjadi programmer lagi. Juga sudah lepas keinginan saya menjadi artis terkenal (bukan pemain film, apalagi di Endonesia. habisnya artis jadi memiliki konotasi jelek gara-gara pemain sinetron dan selebritis goblok itu). Apa yang tersisa hanya keinginan mencari kebijakan. Tapi sudahlah…

Kisahnya begini, bulan April lalu UN sudah saya lewati. Begitu pula Ujian Sekolah. Tanpa terasa juga rupanya Ujian Mandiri UGM pun sudah saya lakoni. Kemudian beberapa hari yang lalu Ujian Saringan Masuk FSRD ITB baru saja saya lewati, tak lupa Ujian Mandiri Bersama akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Seluruh ujian itu bisa dibilang ritual wajib anak kelas 3 SMA zaman sekarang. Banyak rupa-rupa ujian kita temui, dengan beragam mata pelajaran pula. Dari yang paling rumit seperti Fisika sampai paling tidak jelas seperti Agama atau Komputer. Satu kesamaan dari semuanya adalah seluruhnya adalah ujian tertulis, ujian tertulis yang tertutup. Tidak jelas seberapa transparan dan betapa lama menunggu hasilnya. Nah, ada apa sampai-sampai rasanya seluruh itu sakral sekali saya tulis? Lanjutkan saja.

Mungkin lebih seru bila Anda menempatkan diri sebagai siswa kelas 3 SMA yang sedang dag-dig-dug-dhuer menunggu hasil UN. Lebih baik lagi kalau Anda memang siswa kelas 3 SMA itu. Kenapa? Pernah bertanya tidak siapa yang memeriksa hasil ujian kita? Semua ujian itu, UN, US, UM. Baiklah mungkin bisa dirangkum begini,

  • UN diperiksa oleh rayon setempat (benar tidak?),
  • US oleh sekolah masing-masing (sekali lagi, Y/N),
  • dan UM oleh masing-masing perguruan tinggi yang bersangkutan.

TAPI ITU SEMUA MAJAS TOTEM PRO PARTE. Tahu kan? Majas yang menggunakan keseluruhan tapi pada kenyataannya hanya sebagian yang dimaksud. Hubungi guru Bahasa Indonesia masing-masing untuk keterangan lebih lanjut (ayolah, kalian sudah kelas 3 SMA kan?).

Apa maksudnya sih menyebut-nyebut majas segala padahal UN kan sudah lewat. Ngapain mikirin begituan lagi, masih ada SNMPTN ding. Yah, jadi sekedar pengingat kan? Kembali ke topik, meskipun jelas yang memeriksa ujian-ujian tadi adalah pihak-pihak tadi karena adanya majas tadi jelas juga tidak mungkin orang satu rayon (dari petinggi sampai cleaning service) menunggu di depan scanner. Jelas mustahil juga kalau dekan-dekan dan guru besar yang super sibuk itu mau menghabiskan waktu dengan bawahan mereka bersama-sama hanya untuk melihat satu lembar ujian masuk ke dalam scanner dan keluar hasilnya dari bit pertama sampai lengkap seutuhnya. Maksudnya itu kan ada ribuan…pastinya ada satu tim yang mewakilkan seluruhnya. Diberi amanat untuk memriksa lembar-lembar ujian itu dengan scanner. Kalau di sekolah saya pernah memergoki petugas TU mengemban amanat itu sendirian.

Nah, di sinilah Ujang muncul! Siapa sosok dibalik mesin scanner pernahkah kita melihatnya? Yang kita tahu hanya kita selesai menghitamkan bulatan-bulatan lucu itu sesuka hati kita, diberikan ke pengawas, dan berdoa. Beberapa minggu kemudian hasilnya muncul ke hadapan publik.
Pada saat itulah, dunia mengetahuinya! Padahal kalau hanya sekedar hasil ujian bukannya langsung bisa tergambar ketika lembar ujian selesai diperiksa? Anggaplah dalam Ujian Nasional. Di mana dalam ujian itu nilai minimum 4,5 harus dicapai. Jadi seharusnya ketika lembar ujian kita mengenai scanner dan keluar hasilnya itulah saat di mana kebenaran terungkap. Tentunya pada saat itu ada seseorang yang memasukkan kertas ke scanner dan mengatur input data di komputer, itulah Ujang.

Ironisnya, orang pertama yang mengetahui bagaimana nasib kita lima tahun ke depan bukan kita sendiri, juga bisa jadi bukan bambang Sudibyo, melainkan Ujang. Dipikir-pikir enak juga jadi Ujang. Bisa mengetahui nasib sekian banyak orang pertama kali bak peramal. Hebat…hebat…

p.s. Terserah mau menganggap ini tulisan goblok…wong emang yang bikin orangnya juga absurd kok.

6 Tanggapan ke “Ujang”


  1. 1 Xaliber von Reginhild Juni 6, 2008 pukul 7:58 pm

    Ujang itu Pak Gun.
    *ngawur*

    Ujang juga ngga merhatiin kali. :mrgreen: Sekian ribu orang begitu, saya rasa cuma skip-skip aja.

  2. 2 Aya Juni 15, 2008 pukul 12:09 am

    jadi petugas TU kah yg menyeken(?)–men scan–hasil ulangan anak-anak? baru tahu saya, kirain guru2..

    @xaliber: mungkin juga si ujang ga merhatiin. tapi mungkin juga si ujang tadi yang membikin saya lulus padahal saya goblok setengah mati di pelajaran matematika. hhe, kan mungkin..

  3. 3 Xaliber von Reginhild Juni 30, 2008 pukul 8:07 pm

    @Aya:
    Hmm.. bisa jadi? :P

    Btw setelah saya ngobrol-ngobrol sama guru, rupanya kalo skala besar kayak UN dan SPMB itu ada timnya per wilayah. Jadi nggak mewakilkan seluruhnya.

  4. 4 Lemon S. Sile Juni 30, 2008 pukul 10:05 pm

    Emang iya dutz… itu sih gua tau. Makanya kan gua bilang di rayon itu si Ujang itu dewa.

  5. 5 Xaliber von Reginhild Juni 30, 2008 pukul 11:48 pm

    Si Ujang tapi setim sama Ujang-ujang lainnya… jadi para ujang harus diskusi dulu. :?

  6. 6 cojones November 23, 2008 pukul 8:33 pm

    ga tahu ujang di sekolahku…:(


Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.