Seks

Judul di atas bukan sekedar cari sensasi.

Kejadiannya semalam (4/10) saya lagi enak-enak tidur di kamar saya. Tiba-tiba saja kakak saya datang membangunkan saya. Ada apa gerangan?

Ada yang dengan baik hati mengajak sekeluarga nonton, di bioskop. Tapi nonton opo tho? Beberapa hari yang lalu Laskar Pelangi sudah ditonton, saya ingat ada film lain. Film yang ada di urutan terbawah film-wajib-tonton saya, tak usah disebutkan lah apa filmnya.

Jadi dari hasil nonton (kurang lebih) 90 menit penuh dosa itu saya makin heran sama manusia dewasa :-?

Saya tidak melakukan riset atau pengumpulan data statistik apapun dalam membahas seks kali ini. Murni hanya ajakan renungan bersama, apa sih seks itu?

Kata KBBI Daring:

seks /séks/ n 1 jenis kelamin; 2 hal yg berhubungan dng alat kelamin, spt sanggama: – merupakan bagian hidup manusia; 3 berahi: -nya timbul ketika menonton film percintaan

Begitu rupanya. Tidak ada yang perlu dibahas lagi kalau begitu.

Bercanda ach :mrgreen:

Apa yang ingin sampaikan adalah sebuah pertanyaan mengapa seks seringkali dianggap tabu. Namun di sisi lain seks seringkali juga dijadikan sesuatu yang menyenangkan, memuaskan, terserah Anda mau pakai istilah apa. Kuncinya adalah yang paling saya dibuat heran adalah tentang film porno yang sering ditonton teman-teman saya di masa SMA (mungkin sekarang juga masih?) yang menyenangkan. Lebih sederhananya juga bagaimana teman-teman saya yang berjenis kelamin pria bisa naik turun detak jantung dan napasnya ketika melihat ada model perempuan telanjang (setidaknya berpakaian minim).

Oke, apa sudah bisa terbayang kasusnya? Pengantarnya sudah jelas. Berikutnya beralih pada kondisi belakangan ini. Kita sedang heboh pasca rilisnya film masterpis Riri Riza yang diangkat dari Novel Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Benar-benar brilian, film yang benar-benar bagus dari sineas berkualitas. Bersamaan dengan itu juga kita bisa mendapati bioskop-bioskop kita sedang dibanjiri oleh film lokal. Baiklah mungkin saya memang tidak menonton semuanya tapi ada satu film yang sudah saya tonton. Jenis film yang sudah saya tonton inilah permasalahannya. Sepertinya humor dewasa memang sedang marak ya? Beberapa tahun lalu film horor lokal menjamur, dan sekarang humor kacangan yang dibumbui aroma seks, dewasa, tabu, sedang marak. Sebatas pengetahuan cupu sempit saya, sudah saya dapati 2 (mungkin 3) judul. Salah satunya sudah rilis.

Humor Dewasa [hoeks]

Saya memang menikmati pelajaran biologi di sekolah.

Tapi saya tidak menikmati humor dewasa. Saya tidak suka penyiaran pornografi atau pornoaksi terselubung (peh..peh apapun itu). Apa yang membuat humor dewasa begitu menjual (sampai-sampai mendapat opsi tersendiri di The Sims).

Pada dasarnya seks itu (bebaskan pengertian dari daring di atas, ini pengertian saya sendiri) hanyalah sebuah alat. Tuhan memberi seks agar manusia tidak punah. Itu juga alasannya kenapa bersetubuh itu begitu nikmat, agar manusia suka dan terus-menerus baranak-pinak. Ya, Tuhan bukankah itu justru menjadi semacam kutukan? TwT

Kenapa seks menjadi sesuatu yang tabu? Kenapa banyak orang yang tergila-gila bahkan sampai menjadi budak seks?? Saya cuma bisa bertanya.

Kenapa harus menikmati tontonan syur yang dihiasi pakaian terbuka, tubuh semok, gerakan-gerakan mengundang. Mengapa kita menikmatinya? Ke mana emansipasi wanita kalau wanita masih saja mau dijadikan objek pemuas laki-laki. Lalu kenapa laki-laki masih saja mau jadi pemimpin yang tahan dihantam batu karang tapi jatuh kalau disenggol badan yang semok tadi? Makin terheran-heran.

Seks itu hanya alat. Tapi juga kutukan. Saya rasa Tuhan tidak memberikan seks untuk hiburan, alam diciptakan untuk hiburan, seni untuk hiburan. Seks adalah naluri untuk berkembang biak. Saya mengambil pengertian seni dari Scott McCloud, menurut pemahaman saya dari pengertian seninya beliau seks tidak pantas dikategorikan seni. Jadi pornografi, pornoaksi, apapun itu bukan seni. Lalu mengenai nudisme dalam lukisan-lukisan itu memang bukan seni menurut saya yang biasa-biasa saja. Dalam foto-foto nudisme (setidaknya berpakaian minim) itu hanya alat. Dalam lukisan hanya sebuah gambar. Meskipun saya pikir lukisan La Maja Desnuda yang saya tahu dari novel Maya itu menarik juga, kisah di balik lukisannya.

Saya sendiri tidak merasa hubungan intim sesuatu yang menyenangkan. Pengalaman saya mendengar cerita-cerita tentang itu saya justru merasa malas membayangkannya. Saya memang cenderung moe, nijikon apapun itu. Abnormal.

Saya merasa malas membayangkan film bokep yang senang ditonton laki-laki. Saya lebih suka manteng di depan komputer melihat gambar bishoujo di wallpaper desktop. Saya selalu memikirkan bagaimana perasaan pasangan muda di malam pertamanya. Terlepas apakah mereka masih perawan apa tidak bagaimana perasaan mereka tiba-tiba mendapati diri mereka berhadapan, tak berbusana, dan akan melakukan sesuatu yang tidak pernah diajarkan. Kalau saya disuruh membayanginya…untung saya tidak epilepsi.

Tidak ada maksud melawan mainstream. Ini cuma renungan akan betapa seks sudah menjadi komoditi, hiburan, sesuatu yang lumrah untuk dijadikan pemuas. Seperti narkoba bedanya dalam suatu situasi seks itu dihalalkan, yaitu kepada pasangan yang sudah menikah. Seks juga telah menjadi sesuatu yang disukai khalayak banyak tanpa malu lagi. Humor dewasa sudah dijadikan bahan adonan utama. Katanya itu berani, menurut saya itu pengecut.

Akhir kata saya prihatin kepada sebuah kepulauan yang sudah termakan budaya seksualitas tak sehat. Saya tidak munafik, saya tetap laki-laki yang suka-suka saja melihat wanita cantik. Tapi kalau sampai seks dijadikan bahan publik maka itu tak lebih dari kebodohan. Kalau memang mau mengangkat seks sebagai cerita cobalah agar seks itu tidak hanya menjadi pemuas, coba jadikan seks itu bukan sesuatu yang menjijikkan. Jangan dijadikan seks sebagai batas pemisah antara laki-laki dan perempuan.

Satu kalimat yang saya simpan untuk diri saya sendiri sampai saat ini, “seks itu menjijikkan tapi bisa mendapatkan keturunan dari sana adalah sebuah keajaiban”. Saya selalu dihantui pertanyaan soal pernikahan, di satu sisi selayaknya manusia saya ingin pendampin hidup tapi di sisi lain hidup selibat tidak buruk juga. Toh, hidup ini bukan sekedar seks. Hidup ini indah karena memang indah bukan karena alasan muluk-muluk lainnya. Tanpa dunia kita bisa mati tapi tanpa seks dunia ini masih tetap ada…terlalu humanis ya -_-’

dan satu lagi! (aagh) Apa yang indah dari manusia bukanlah kelaminnya tetapi kecantikannya.

Sekian ah…

…hanya ocehan setelah menonton film yang benar-benar tidak bagus dari sineas dalam negeri

Ditulis sambil dengerin Laskar Pelangi yang dibawakan Nidji dari imeem. Santai~

46 Tanggapan ke “Seks”


  1. 1 Karina Nurunnisa Oktober 5, 2008 pukul 7:53 pm

    emang nongton apasih?
    ssti the movie ya? lol

  2. 2 isty Oktober 5, 2008 pukul 9:35 pm

    ahahaha.. film apa c?
    jadi penasaran..
    tai gw setuju, banyak bgt film indo bertema begitu, dan itu mnjijikkann..
    dulu jaman2 ayat2 cinta booming, tuh smwa film indo jadi religi.. waktu quickie express, muncul lah namaku dick, kawin kontrak dn smacamnya..
    pyuhh~~
    susah ama kehomogenan pikiran org indo..

  3. 3 lourdes Oktober 5, 2008 pukul 10:54 pm

    kamu sepertinya tidak suka sama cewek yah?

  4. 4 Lemon S. Sile Oktober 5, 2008 pukul 11:18 pm

    @Karina Nurunnisa:
    Saya ndak tahu ya… ;)

    @isty:
    Memang. Entah sampai kapan harus menunggu film yang benar-benar berkualitas.

    @lourdes:
    Ga, saya suka sama cewek kok. Cewek itu justru menjadi salah satu alasan saya masih pengen hidup. [lebai]

  5. 5 Xaliber von Reginhild Oktober 6, 2008 pukul 12:13 am

    Lha, bukannya tuhan sendiri justru menawarkan ribuan bidadari semok di surga nanti? :P :lol:

    Jadi terpikir. Sebenarnya yang memicu motif porno ini tuhan dengan imbauan bidadarinya itu atau manusia sendiri yang memang punya dasar nafsu? :?

  6. 6 fickry Oktober 6, 2008 pukul 12:40 am

    Saya sangat suka ini: “seks itu menjijikkan tapi bisa mendapatkan keturunan dari sana adalah sebuah keajaiban”.

    Semacam kutukan?? *sedang mencoba mengaanalisis*
    Yap…hanya disebut kutukan bagi mereka yang melakukan aktivitas seksual bukan untuk melanjutkan klan…hanya untuk bermandi lendir. Itu saja.

  7. 7 aRuL Oktober 6, 2008 pukul 2:29 am

    nah yang harus dilindungi itu adalah, para pelaku seks yang menyebabkan terjadi hal yg tidak2 misalnya pemerkosaan, perbuatan cabut dll.

  8. 8 p4ndu_454kura® Oktober 6, 2008 pukul 4:28 am

    Saya dari dulu nggak suka sebagian film bikinan lokal. Seperti yang dikatakan mbak isty, kehomogenan pemikiran produser yang menyebabkan itu. Mereka seolah dikejar deadline harus ada film dengan topik ini sebelum tanggal itu. Walhasil, kualitas film yang diluncurkan pun, IMO, tidak terlalu baik. :(

    Demi mengantisipasi turunnya pemasukan, dimasukkanlah unsur humor dewasa ke dalam film. Ah, Indonesia. Katanya mau meningkatkan moral bangsa, mana buktinya? :?

  9. 9 p4ndu_454kura® Oktober 6, 2008 pukul 4:29 am

    BTW, entri ini kayaknya agak ‘menjebak’ dari segi search engine. :lol:

  10. 10 fantasyforever Oktober 6, 2008 pukul 5:56 am

    Hmm..

    Satu kalimat yang saya simpan untuk diri saya sendiri sampai saat ini, “seks itu menjijikkan tapi bisa mendapatkan keturunan dari sana adalah sebuah keajaiban”. Saya selalu dihantui pertanyaan soal pernikahan, di satu sisi selayaknya manusia saya ingin pendampin hidup tapi di sisi lain hidup selibat tidak buruk juga. Toh, hidup ini bukan sekedar seks. Hidup ini indah karena memang indah bukan karena alasan muluk-muluk lainnya. Tanpa dunia kita bisa mati tapi tanpa seks dunia ini masih tetap ada…terlalu humanis ya -_-’

    Kalo menjijikkan saya juga setuju. Dan dunia bakalan ada kok kalo ga ada seks. Hehehe. Setuju banget 100%.

    dan satu lagi! (aagh) Apa yang indah dari manusia bukanlah kelaminnya tetapi kecantikannya.

    Ini nih yang buat saya tertarik. :mrgreen:

  11. 11 fantasyforever Oktober 6, 2008 pukul 6:23 am

    @pandu, betul, dari judulnya yang paling menjebak ditambah lagi di keywordnya di pasang ‘film’.

  12. 12 temen tetangga Oktober 6, 2008 pukul 7:23 am

    aseeekkk!

    gaya tulisan lu oke banget,nas..

    lu emang hebat..

    karna itu gw salut..

    :)

    lanjut……

  13. 13 Mihael Ellinsworth Oktober 6, 2008 pukul 12:30 pm

    Jadi ini ngomongkeun masalah film berbau *ehm* atau *ehm* itu sendiri ?

    Aku bingung, kalau masalah film yang berkualitas sih, di Indonesia nihil, kecuali ada satu – dua tetes keajaiban yang membuat film menjadi saya sukai. Misalnya film LP kemarin, itu termasik keajaiban yang diusahakan. :D

  14. 14 Kancuters Oktober 6, 2008 pukul 1:40 pm

    pelem humor dewasa yak?

  15. 15 kuro Oktober 6, 2008 pukul 11:49 pm

    jadi penasaran nonton apaan :matabelo:

  16. 16 Lemon S. Sile Oktober 7, 2008 pukul 12:27 am

    @Xaliber von Reginhild:
    Apa itu indikasi berpikiran porno itu dibolehkan? :-?

    @fickry:
    Kutukan karena mengikatnya bagaimana? :|

    @aRul:
    Ara? Kok ada yang aneh?

    @p4ndu_454kura®:
    Makanya saya prihatin :(
    Tapi seringkali setiap ada film yang agak lain biasanya jadinya ‘norak’ karena masih kurang cerdik mengemasnya.

    menjebak? Saya tidak bermaksud…sumpah

    @fantasyforever:
    Tapi tanpa seks manusia punah…bingung deh -,-

    @Mihael Ellinsworth:
    Bisa dibilang sih saya bermaksud mengaitkan. Tapi gagal :lol:

    Emang keren tuh film, bro. :D

    @Kancuters:
    Iya, Mas :(

    @kuro:
    Hem, saya ndak mau nyebut ah :|

  17. 17 aRuL Oktober 7, 2008 pukul 1:22 am

    * sori salah ngoment, maksudnya bukan melindungi pelaku tetapi yang dilindungi adalah korban dan calon korban.
    makanya pelaku dan calon pelaku itu diberantas… :D

  18. 18 dodo Oktober 7, 2008 pukul 2:16 am

    @ Lourdes
    klo seandainya cwo ga suka cwe, bukan berarti “homogen” lho.. XD hehehe

    yaa klo ngeliat dari apa-apa tentang film indonesia, smp saat ini ga banyak yang bener2 bagus.. yg bikin gw jengkel tuh, pemunculan film2 indo yang jangka waktu ato jeda nya tuh bntar bgt.. >_<
    heran deh,,

    yaa mudah2an para movie maker indo yg masi mengenyam pendidikan di bwh kampus, nantinya bisa bikin film yang bner2 bagus yang ga hanya dari segi cerita juga.. ;)

  19. 19 Enny Oktober 7, 2008 pukul 9:58 am

    Bicara seks, ada sejak dunia ada

  20. 20 dumdum Oktober 7, 2008 pukul 3:37 pm

    Tah mau jadi apa negeri ini,
    klu yang ditampilkan yang bukanna mendidik,
    malah menghancurkan nilai moral,
    walaupun kategori film *untuk dewasa, bukti na anak anak tetep aja bisa nonton….
    arrggghhh…

  21. 21 isty Oktober 7, 2008 pukul 4:11 pm

    hahaha..
    iya, sebenernya kemaren cukup salut juga dengan film LP..
    moga-moga lain kali, film indonesia bisa didukung dengan nuansa-nuansa baru yang TIDAK MENJIPLAK..

    @dumdum..
    iya tuh..
    dulu waktu gw nonton Q*CK** *X*PR*S, ada aja anak kecil umur 7-9 tahunan masuk bioskop, mba2 nya membiarkan..
    cih!
    dari kecil diajarin ga benerr..
    gawat tuh anak kalo uda gede..

  22. 22 Xaliber von Reginhild Oktober 7, 2008 pukul 6:39 pm

    @Lemon S. Sile:

    @Xaliber von Reginhild:
    Apa itu indikasi berpikiran porno itu dibolehkan?

    Nggak tahu ya. :?

    Question is, is it naturally, asides from God’s intervention, to be sexually passionate, or that passion is actually triggered by the God himself?

  23. 23 lukito Oktober 8, 2008 pukul 2:59 am

    wah guitu toh

  24. 25 Mihael Ellinsworth Oktober 9, 2008 pukul 10:58 am

    Wah, nijikon. Pantas berkomentar melawan arus begini… *ditampar* :mrgreen:

  25. 26 iing Oktober 10, 2008 pukul 2:54 pm

    Hha. Ketidakpahaman anda akan humor dewasa memperlihatkan bahwa anda tidak dewasa… tapi saya rasa anda cukup mempunyai kematangan dalam berpikir. Terlihat dari segi analisa anda dan kemampuan nonverbal (apalagi verbalnya) dalam mengintepretasikan isi otak ke dalam sebuah tulisan yang bisa dinikmati oleh orang lain. Saya cuma memberi informasi bahwa ada (minimal) 2 bentuk primitif dari pemenuhan kebutuhan manusia, yaitu: food and sex. Sebelum anda bisa mengiyakan komentar saya ini. Jangan memberikan komentar lebih jauh tentang comment saya ini ya. HHe

  26. 27 p4ndu_454kura® Oktober 10, 2008 pukul 3:39 pm

    @ iing

    ketidakpahaman anda akan humor dewasa memperlihatkan bahwa anda tidak dewasa…

    Begitukah? Bahkan jika humor itu ditonton anak di bawah umur? Lalu ukuran kedewasaan seseorang itu diukur dari apa?

    Saya kok merasa apa yang dikritik penulis ini adalah benar. Sebagian film Indonesia sudah tidak memedulikan unsur edukasi. Mereka rela memasukkan seks sebagai topik, asalkan pemasukan mereka bertambah. Kualitas film mereka juga saya rasa tidak terlalu bagus kalau dibandingkan dengan Laskar Pelangi. Terlalu monoton.

    Saya cuma memberi informasi bahwa ada (minimal) 2 bentuk primitif dari pemenuhan kebutuhan manusia yaitu: food and sex

    Memang benar, tapi terlalu sempit cakupannya kalau cuma manusia. Soalnya itu merupakan kebutuhan biologis kingdom animalia.

    BTW, yang dibahas penulis disini tentang film, lho. Bukan tentang s3ks-nya.

  27. 28 p4ndu_454kura® Oktober 10, 2008 pukul 4:02 pm

    @ Lemon S. Sile
    Er… film yang agak lain? Genre-nya atau apa? :?

  28. 29 Xaliber von Reginhild Oktober 11, 2008 pukul 12:02 am

    @p4ndu_454kura:
    Tampaknya benar kata mas har, fallacy juga membawa dampak buruk ke diri sendiri. :P

  29. 30 Lemon S. Sile Oktober 11, 2008 pukul 5:00 pm

    @aRul:
    Koreksi diterima :D

    @dodo:
    Mungkin itu adalah efek samping dari euforia sejak suksesnya film AADC (atau Petualangan Sherina?). Heboh mbikin film sampai-sampai berlomba yang penting jadi. Halaah, ngawur Kau, Nas…

    @Enny:
    Memang.

    @dumdum:
    Saya sudah 17 tahun sih, tapi masih di bawah batas 18 tahun. Saya sudah dewasa? Kayaknya belum -__-

    @isty:
    …dan kreativitas serta kemampuan mengemas yang memadai.

    @Xaliber von Reginhild:
    Thus God is the true contradiction. [blasphemy mode: off]

    Well God do allow us to have those passion, in order to…yah, you know what I mean. Without the passion to do ‘that’ human will be long gone.

    @lukito:
    Apa yang begitu? :-?

    @nyurian:
    Apanya yang aneh?

    @Mihael Ellinsworth:
    *tampar*
    Tapi saya masih punya ketertarikan normal kok… -__-;

    @iing:
    Wah, kesimpulan yg hebat.

    Saya sih paham saja maksud humornya tapi saya tidak suka. That’s it. Karena tidak suka saya jadi tidak paham esensi kendapa humor itu ada.

    Memang benar 2 hal yg utama dalam hidup manusia adalah itu. Apa yang saya tekankan di sini adalah ketika seks menjadi sesuatu yang seperti makanan, semakin berkadar semakin nikmat. Padahal ketika melakukan hubungan itu pria mengeluarkan banyak mineral melalui semennya (sok jadi murid biologi).
    Intinya…kenapa seks menjadi seperti sekarang? Kenapa berlebihan mungkin?

    @Pandu:
    Ara…Saya kurang tahu juga ya. Mungkin 9 Naga, kalau dikemas lebih dengan kemampuan yang lebih baik saya rasa menarik. Saya enggak nonton film itu secara lengkap sih (9 Naga).
    Tapi daripada menjual ’seks’ dengan humor lebih baik membuat humor beneran. Janji Joni?

    @Xaliber von Reginhild:
    Tampaknya Anda senang sekali. :-?

  30. 31 fantasyforever Oktober 12, 2008 pukul 12:56 pm

    @iing, hmm.. Tidak paham akan humor dewasa? Semua orang tahu bagaimana humor dewasa itu (kecuali anak di bawah umur). Kalo memang menurut anda ini humor dewasa, humor anak kecil memangnya itu yang bagaimana? Saya kurang setuju dengan komentar anda bahwa kebutuhan manusia itu minimal food dan sex, kebutuhan manusia yang paling mendasar adalah food and social. Tanpa sex’pun manusia bisa hidup (sex yang saya maksud di sini bukan sex jenis kelamin). Tapi tanpa social dijamin 100 persen ndak bakalan bisa hidup. Belum ada bukti nyata kalo kebutuhan manusia terdapat sex.

    Kita bukan binatang/hewan yang cuma memikirkan itu saja. Kita ini manusia kok.

  31. 32 str★nger。 Oktober 12, 2008 pukul 6:49 pm

    Ah..setuju.
    Seks itu menjijikan !
    Walopun suatu hari aku akan melakukannya dgn suamiku.

    Otakku agak ngeres juga seh :mrgreen:

  32. 33 hariadhi Oktober 13, 2008 pukul 8:45 pm

    Humor dewasa? Kalau versi visual sih gw ga pernah nikmatin. Mending nontong bokep sekalian didampingin sama Mr Bean deh. Lebih lucu.

    Tapi kalo humor dewasa dalam bentuk teks gw suka. Lebih suka lagi kalau rada-rada pinter yang bikinnya, ga terlalu vulgar. Kalau bisa yang 5 jam dipikirin baru bisa ketawa (agak hiperbolis, tapi kalau memang ada gw kasih jempol deh).

  33. 34 fickry Oktober 15, 2008 pukul 12:07 pm

    mengikatnya bagaimana?? kan komitmen bro..gk ada sesuatu yang berhak dipertaruhkan selain komitmen sebuah hubungan.

  34. 35 Strife Leonhart Oktober 15, 2008 pukul 1:41 pm

    “daftar terbaawah” ?

    berarti emang mau nonton kan? :) )

    *ditendang*

  35. 36 Datyo Oktober 17, 2008 pukul 12:26 pm

    Heran dengan malam pertama ? hmmm memang kalo tanpa cinta, seks seperti neraka. Tapi kalo dengan cinta, tentu berbeda…

    Mengenai body bahenol ? hmmm memang itu kodrat laki laki untuk suka. Saya sendiri juga heran. Sudah setua ini masih juga suka melihat body Megan Fox…eh tapi ada perkecualian. Saya sungguh gak suka lihat Dewi persik megal megol…pengen muntah.
    Btw masa kamu bener bener gak suka lihat yang cantik cantik ? sexy yang berseni dan sexy yang norak tentu berbeda kan ?

    Kalo humor seX di film indo memang payah deh…norak banget. untuk ini aku setuju dengan kamu.

  36. 37 yoto Oktober 18, 2008 pukul 10:31 pm

    Wkwkw.. Gw suka gaya lo nulis. Keren bet. Sumpah, berbakat jadi penulis luw. Btw, gw tadi baca jg tulisan luw yg “fsrd!”. Hha, hell yeah.. Kadang pening yeh kalo yg baca tulisan lo itu kga ngerti inti yg lo omongin. =D wkwkw.. Ngeluh tentang bokap aj disangka apa segala macem. Ampe dua ratusan kb gitu gw buka pake opmin ajeh. =D

  37. 38 Lemon S. Sile Oktober 19, 2008 pukul 8:33 pm

    @str★nger。:
    :-?

    @hariadhi:
    Saya sih mending nonton Tom & Jerry, biar kata rasis.

    Memang ada yang seperti itu ya? :-?

    @fickry:
    Komitmen dalam pernikahan memang sesuatu yang mengikat. Tapi pernikahan juga kalau dinikmati (bukan sekedar malamnya saja) juga tidak akan terasa mengikat, IMO.

    @Strife Leonhart:
    *tendang*

    @Datyo:
    Saya suka kok lihat yang cantik-cantik. Hanya saja seringkali cantik itu relatif kayaknya… *melirik header*

    @yoto:
    Wah, paham maksudnya ya? :D

  38. 39 ucok Oktober 31, 2008 pukul 5:49 pm

    sore…dunia ini lelah tapi bergenjot target loh.bahaya bila kita mencoba crossover terhadap satu kajian paradoksal dengan intensitas unreality solving.idealis akan terjawab bila empiris kita ada,hinggap,dan berbaur didalamnya…yah,memang harapan itu selalu berbalik badan dengan realitas. Tapi memahami realitas dengan sikap pasrah terhadap YANGDIATAS (hehehe ngutip Cak Nur)adalah suatu pilihan hidup untuk menjadi bijak.BE WISe. ok salam kenal ya…

  39. 40 Wirawan Winarto November 2, 2008 pukul 2:13 am

    Seks itu hanya alat. Tapi juga kutukan. Saya rasa Tuhan tidak memberikan seks untuk hiburan, alam diciptakan untuk hiburan, seni untuk hiburan. Seks adalah naluri untuk berkembang biak.”

    Seks itu lelucon Tuhan untuk umat manusia.
    kadang kita terlalu meremehkan selera humor-Nya.

  40. 41 Lemon S. Sile November 2, 2008 pukul 9:47 pm

    @ucok:
    Apakah intinya adalah berat untuk melawan realitas mainstream? Memang berat, saya akui itu.
    Saya ingin menjawab begini:

    Satu kebenaran tidak berarti di hadapan sepuluh kesalahan

    Pesimistik? Sesat? Terserah lah, tapi saya rasa Indonesia cukup demokratis untuk menerima kalimat itu. No offense.

    @Wirawan Winarto:
    Selera humor Tuhan… Mungkinkah hidup ini seluruhnya hanya permainan Yang Di Atas?

  41. 42 restlessangel November 10, 2008 pukul 12:17 am

    mengapa lemon memandang seks sbg hal yg menjijikkan ??
    apa krn melihat di sekiling, seks ‘dijual’ sbg komoditi ??

    menurut aku sendiri, seks itu indah dan (sangat bisa) bersifat spiritual.
    ada misteri di sana. misal, dari jutaan sel sperma mengapa hanya satu yang berhasil lolos menembus satu sel telur. ini kl bicara seks=intercurse.

    seks itu buat aku, takkan terjadi tanpa proses take and give.

    tp seks kan ga melulu intercourse dkk bukan ??

  42. 43 Lemon S. Sile November 10, 2008 pukul 9:46 am

    @restlessangel:
    Bisa dibilang, ya.

    Bila dilihat dar sudut pandang seperti itu memang menakjubkan.

    “seks itu menjijikkan tapi bisa mendapatkan keturunan dari sana adalah sebuah keajaiban”

    Seks memang tidak selalu intercourse, saya juga tidak memberi pernyataan bahwa seks itu harus intercourse. Dan kalau bicara soal take and give dalam seks, saya jadi menyambungkannya dengan cinta. Cinta adalah sesuatu yang suci (bagi beberapa?) namun dalam pendapat saya, kesucian itu terkadang ternoda oleh seks yang tidak ‘indah’ juga. Misalnya ketika cinta itu hanya untuk seks atau apalah. Begitu.

  43. 44 zakheus Juli 3, 2009 pukul 5:04 am

    (“seks itu menjijikkan tapi bisa mendapatkan keturunan dari sana adalah sebuah keajaiban”)

    Note: dilihat dari sisi mana seks itu dipandang, kalau dari sisi seorang ibu yang mengandung anak dari hasil pernikahan dgn suami yang dicintainya meskipun melahirkan anak cacat tapi masih mau membesarkannya dgn kasih sayang apa itu bisa dibilang hasil dari tindakan menjijikan ? contohnya kalian semua yang menulis coment disini termasuk saya, apa kalian sadar dan coba tanyakan kpd ibu kita masing2 apa yg dia rasakan pada saat membesarkan kita dan pada saat mengandung kita setelah melakukan hal yg menjijikan.
    aku yakin kalian semua bukan terlahir cacat, tanpa mengurangi rasa hormat mohon maaf sebelumnya.

    (Tanpa dunia kita bisa mati tapi tanpa seks dunia ini masih tetap ada…terlalu humanis ya -_-’)

    Note: humanis tdk jg, buktinya ada contoh film Tarzan yg bs hidup sendiri & pny byk tmn binatang tapi ada jg film Tarzan bosen hidup sendiri jadi Tarzan masuk kota.
    Memang kita mati tanpa dunia, tetapi dunia akan mati juga kalau tanpa kita. Bagi yang mengerti hal ini beritahukanlah kepada mereka yang tidak tau!

    Salam damai ^_^V

  44. 45 Gunawan Rudy Juli 5, 2009 pukul 6:53 am

    Sampai saat ini masih bersepakat dengan budhe Medeni “restlessangel” Wulandari, seks itu indah, nggak menjijikkan/jorok. Juga tentunya nikmat. Dan pastinya bukan soal kenikmatan birahi atau fisik saja.

    Hanya saja, beberapa unsur seks memang hanya khusus untuk orang ‘dewasa’ yang bisa bertanggungjawab pada diri sendiri. Tanggung jawab secara lahir dan batin tentu. Misalnya bagi cowok, jika belum mampu/dewasa dalam urusan kemapanan (berkaitan dengan penghasilan dan kemampuan menafkahi keluarga), lantas ngentot dengan pacar sampai akhirnya si cewek hamil, ya itu akan merepotkan namanya. Bertanggungjawab dengan dirinya saja tidak bisa, apalagi terhadap orang lain.

    Untuk pembicaraan seputar selangkangan dan daerah di sekitarnya, memang ada beberapa pembagian. Ada yang memang tujuannya pembelajaran, misalnya seminar seputar kamasutra. Ada juga yang sekadar hiburan, ya itu, humor dan guyon seks. Nggak ada yang salah dengan keduanya. Yang bisa menjadi salah adalah ketika nggak tepat menempatkannya, misal sangat serius dalam perihal seks, namun ikut nimbrung dalam kerumunan yang lagi guyon soal selangkangan, jelas ndak nyambung dan bakal risih.

    Film (terlebih lagi film komersil), sebagai sebuah produk budaya, di dalam masyarakat yang sedang berkembang tentu punya 2 pilihan: mengikuti selera masyarakat atau menyetir selera masyarakat. Keduanya bias, karena toh bisa saja film menyetir selera dan ketika selera itu berkembang, film-film lain hanya mengikuti selera itu saja. Film nasional sedang kembali ke era 80an dan awal 90an, ketika yang ditawarkan ke publik adalah film setan dan esek-esek. Dulu genre macam ini laris bak kacang goreng. Entah sekarang, bisa jadi produsen film ingin menyetir selera masyarakat kembali ke era-era tersebut sehingga produknya kembali laris manis. Inilah dunia komersial, masalah manajemen selera komsumen.

  45. 46 Gunawan Rudy Juli 5, 2009 pukul 6:55 am

    KAMPRET KOK BISA2NYA GW NGETIK KOMEN PANJANG!


Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.