Cinta

[Kupipes dari Catatan di Facebook, saya]
Bunga di Depan Rumah

Bunga di Depan Rumah

Sewaktu teman saya menulis ini akhir tahun lalu. Saya tidak merasakan adanya manfaat, ketertarikan, bahkan juga kepahaman dalam membaca ulasannya mengenai cinta. Walau tetap saya akui ulasannya itu menarik kala itu. Mendapati ulasan tentang cinta yang tidak menye-menye, menggunakan istilah-istilah yang tegas dan tidak mengambang seperti puisi membuat saya menghargai ulasan itu sebagai salah satu tulisan yang menarik. Tapi tetap saja saat itu saya membacanya saya belum mendapati manfaat yang turun ke hati. Seolah segala yang saya baca dari ulasan itu hanya tertahan di kulit kepala dan tidak berhasil menembus ke dalam hati.

Barulah beberapa bulan setelah ulasan itu berdiam di blog pribadinya (dan beberapa minggu ke belakang jika dihitung dari sekarang) saya menemukan ulasan itu menyentuh hati saya. Seolah informasi yang ada di ulasan itu telat datang dan memasuki pikiran saya. Itu juga pun dimulai setelah perbincangan dengan penulisnya sendiri.

Tentang cinta, lama saya memercayai bahwa sekedar cinta platonis adalah cinta yang menyenangkan, alih-alih sempurna. Cinta platonis yang saya maksud adalah sebatas cinta yang sederhana. Cinta yang, gamblangnya, tidak membutuhkan seks atau kontak fisik lainnya dalam mewujudkan cinta tersebut. Setidaknya itulah pemahaman saya. Dalam artikel itu mungkin paling mendekati pada jenis companionate love, cinta yang tidak memiliki hasrat. Cinta yang berada dalam interaksi antar anggota-keluarga. Saya membatasi cinta pada tingkatan ini, saya memercayai bahwa cinta tidak mewajibkan hasrat dalam pembentuknya. Ya, saya merasa bahwa hasrat dalam bercinta adalah sebuah kebutuhan tersier saja. Tidak ada pun tidak apa.

Dalam pembicaraan melalui IM itu dimulai dari sekedar sharing dan akhirnya membawa pada bahasan cinta itu. Saya utarakan kepadanya mengenai pandangan saya terhadap cinta yang tidak memerlukan hasrat. Saya utarakan bahwa bagi saya cinta tak perlu dilengkapi dengan hasrat, terkecuali memang pada akhirnya muncul dari kedua belah pihak dikarenakan berbagai kondisi. Pada titik ini saya masih belum memahami arti sebenarnya dalam ulasan di artikel tersebut, kendati telah membaca artikel tersebut beberapa kali saya masih bersikeras pada cinta platonis adalah cinta yang sudah cukup. Barulah  Ia menjelaskan mengenai hasrat itu dan saya memahami ulasan itu. Saya pun mulai melihat kembali pemahaman saya mengenai cinta.

Cinta, apalah cinta itu?

Mengapa selama ini saya membatasi hasrat saya dalam perkara cinta? Alasan saya sederhana, rupanya hanya sekedar rasa takut. Rasa takut tak bermula tentang kontak fisik dengan orang lain. Bagi saya hasrat memerlukan sebuah kontak dan kontak itulah saya takuti. Saya pun mengutarakannya, bagaimana kalau selama ini memang saya tidak pernah memiliki hasrat? Keinginan saya dalam cinta hanyalah sekedar kebutuhan akan adanya pendamping, tidak lebih. Itu bukan cinta.

Sejenak saya terdiam. Kalau itu memang bukan cinta mengapa saya bisa begitu yakin malam itu? Ya, malam itu di kereta. Padahal malam itu saya yakin bahwa itulah cinta tetapi itu bukan cinta rupanya. Terdiam dan tertawa.

Maka apakah itu cinta?

Saya pun mulai mencari hasrat itu. Ke mana hasrat yang bisa melengkapi cinta dan membuat saya yakin bahwa saya telah mencintai seseorang. Tujuh belas tahun saya menemukan diri saya tertarik pada beberapa teman perempuan saya, dan kesemuanya adalah sekedar cinta platonis yang tak berhasrat. Saya pun mulai mencari-cari apa yang salah dengan diri saya hingga tak memiliki hasrat sementara semangat saya begitu menggebu-gebu tatkala saya menggandrungi sebuah topik politik, sastra, atau sekedar hobi. Apakah saya memang tak memiliki hasrat cinta?

Saya pun mulai berpikir untuk menggariskan diri dari cinta. Dengan introspeksi atas apa yang telah saya perbuat saya pun menghasilkan sebuah batasan antara diri saya dan cinta. Saya tidak memiliki cinta dan tak akan bercinta. Selamanya bila saya tak bisa memiliki hasrat cinta itu hanya akan tertahan pada tahapan cinta platonis yang hampa dan introspeksi yang terlalu biru membuat saya semakin merendahkan diri saya dalam perkara cinta. Saya tidak akan bercinta, siapalah yang akan menaruh hasrat pada seorang yang tak berhasrat dan segudang dosa akibat kebodohan dirinya?

Namun saya kembali teringat. Siapa yang akan menaruh hasrat pada seorang yang (tampak) tak berhasrat? Ternyata orang itu saya sendiri.

Telah saya sebutkan bahwa saya selalu membatasi diri saya pada cinta platonis. Saya tidak menunjukkan atau bahkan tidak memiliki hasrat tiap kali saya tertarik pada seseorang. Karena alasan ketakutan akan kontak tersebut. Tapi yang saya rasakan ketika orang tersebut adalah sesuatu yang tidak saya akui keberadaannya. Perasaan untuk berada di dekatnya dan setidaknya memandanginya untuk memastikan keberadaannya. Apakah ini hasrat? Saya menanyakan ini kepada teman saya itu.

Kalau memang ini hasrat, mungkinkah saya benar-benar telah mencintai?

Tapi dari mana komitmen muncul?

Ah, saya jadi meras terpalingkan ketika membicarakan komitmen. Ada sebuah cinta yang tidak berkomitmen. Rupanya itu lebih menguntungkan ketimbang cinta platonis yang saya pendam selam berbelas tahun. Justru dari cinta tanpa komitmen itu, yang dialami teman saya yang lain, saya baru menyadari adanya keindahan dalam sebuah hasrat. Setelah ketakutan saya terhadap hasrat berubah menjadi sebuah phobia barulah saya menemukan keindahan hasrat, setelah melihat teman saya itu. Ia merasa dirinya tak beruntung, saya melihat cintanya tak berkomitmen dikarenakan sebuah halangan. Ia menyesali itu dan kacau karenanya. Tetapi saya melihat Ia jauh lebih beruntung karena menemukan apa itu hasrat dalam cinta.

Sebuah ironi memang. Tatkala bisa menemukan hasrat tetapi tak bisa berkomitmen. Namun kembali pada diri saya sendiri, jangankan komitmen hasrat saja tidak bisa saya temukan. Jadi rupanya perasaan saya kepadanya, yang saya utarakan malam itu, hanyalah sebuah intimasi. Saya hanya menganggapnya sebagai seorang teman, bukan seorang yang saya cintai sebagaimana saya katakan padanya malam itu. Saya telah membohongi dirinya malam itu, berkata bahwa saya menyukainya, menyintainya, namun rupanya Ia hanya teman bagi saya, dan itu tidak saya sadari.

Tapi saya bertanya-tanya. Setelah kejadian itu, apakah komitmen kami untuk tetap berteman baik seolah hal itu tak terjadi adalah sebuah “komitmen”? Komitmen yang bisa membentuk cinta tak berhasrat seperti yang selama ini saya percayai. Kami tetap berteman baik, itu saya syukuri. Lalu apakah saya akan berusaha mencari hasrat dan melengkapi cinta tersebut? Mungkin tidak, rupanya cinta tidak semudah itu terbentuk dari tiga unsur tersebut.

Teringat cinta yang tak dapat berkomitmen. Halangannya apa? Perlukah saya bahas di sini?

Pada garis terluar, kendala cinta mungkin perkara “dari mata turun ke hati”. Kasarnya bagaimana kita bisa menyukai/menyintai seseorang yang bahkan secara pandangan mata saja tidak menarik kita, bahkan membuat kita berkomentar, “duh, amit-amit ini orang mukanya!” (saya tahu ini kelewat sarkas). Dalam beberapa kasus bisa juga sebaliknya, mungkin pada pandangan pertama Ia biasa-biasa saja namun barulah setelah sekian lama muncul ketertarikan.

Garis berikutnya saya tak begitu tahu banyak mengenai kendala-kendala dalam cinta. Tetapi dari apa yang saya lihat dalam hubungan teman saya itu (dan perempuan yang “dicintainya”) kendala dalam komitmen adalah faktor ekstrinsik, intrinsik, atau faktor apapun itu. Ia menganggap hubungan itu cacat karena tidak bisa membentuk komitmen, dikarenakan faktor eksternal. Ada hal yang membuat mereka tidak bisa berkomitmen.

Jadi apakah yang paling penting dari sebuah cinta? Komitmen? Hasrat?

Rupanya pemahaman saya mengenai cinta masih sangat jauh dari titik terang. Setidaknya itu pikir saya. Rupanya rangkaian kata-kata melankolis yang biasa saya tulis itu tak menggambarkan cinta. Kendati pun memang rangkaian kata-kata melankolis itu adalah cinta, adakah hasrat dalam rangkaian itu?

Perlukah saya mencari cinta itu? Apakah pada akhirnya ketaksanggupan saya melawan rasa takut akan hasrat akan membatasi diri saya dari cinta? Seberapa pentingkah cinta itu?

Tentang cinta.

 

 

p.s. ini kayaknya otak gua keracunan kafein deh.

14 Tanggapan ke “Cinta”


  1. 1 judge April 25, 2009 pukul 5:21 am

    cinta itu sesuatu yang tidak dapat lihat, disentuh, diraba, didengar dicium, tetapi dapat dirasakan getarannya didalam dada.. salam kenal

  2. 2 Lemon S. Sile April 25, 2009 pukul 5:24 am

    @judge:
    Hahah, ini entri katarsis lho. Tapi memang ngomongin cinta yang general.
    Yah, cinta bukan makanan kan? :p

  3. 3 Taruma April 25, 2009 pukul 7:17 am

    cinta itu air. biarlah air itu mengalir. ada waktunya di hulu dan di hilir.. semuanya mempunyai waktunya.

    setelah dibaca berkali-kali…

    saya setuju, bahwa anda keracunan kafein. wkwkwkkw. *ditendang*

  4. 4 Lemon S. Sile April 25, 2009 pukul 7:19 am

    Kok saya malah bingung ya baca komentar Anda :lol:

  5. 5 Panggil aku "Bintang" April 25, 2009 pukul 7:28 am

    Kl dah ngomongin topik “cinta” jadi rumit…
    karena cinta itu memang sulit dimengerti. saat belum ada cinta kita merasa sangat mengenal orang itu tapi setelah adanya cinta kita justru tak bisa memahami dia. tuh..rumit kan^_^

    tp karena cinta itu sudah rumit jadi jgn dibuat lbh rumit..dirasakan aja pahit manisnya.hehe kayak kopi:-)

  6. 6 Taruma April 25, 2009 pukul 5:46 pm

    wakkakak.. jadi rumit yah… hehehe.. kayaknya saya juga keracunan kafein.. jadi ngaco komentarnya…

  7. 7 hariadhi April 26, 2009 pukul 12:56 am

    Buat gw komitmen atau ga itu tergantung dari pribadi orangnya. Hasrat atau ga pun tergantung orangnya. Cinta, hasrat, dan komitmen cuma tiga variabel yang bisa lu pilih sendiri nilainya.

    Tapi kebanyakan orang ga akan bisa membagi tiga angka yang sama ke tiga variabel itu. Biasanya harus milih salah dua. Lebih enteng lagi kalau cuma konsentrasi di satu hal. IMHO, itu bisa menjelaskan kenapa lu merasa lebih senang dengan cinta yang tidak perlu diekspresikan. :)

    Sebenarnya lu sudah menggambarkan definisi cinta dengan tepat di bagian tengah tulisan. Lebih jujur dan sederhana.

  8. 8 hariadhi April 26, 2009 pukul 1:10 am

    omong-omong soal intimacy gw pikir itu lebih ke jam terbang sebuah hubungan. Persahabatan pun bisa punya intimacy kuat kalau udah sama-sama tau luar dalam.

    Dah ah.. ga mau bikin tulisan lu soal cinta ini tambah ribet. Nikmati aja sesederhana mungkin. :)

  9. 9 Lemon S. Sile April 26, 2009 pukul 1:12 am

    @Bintang:
    Kalau itu perkara intimasi semu bukan cinta namanya. Intimasi mulai dari perkenalan kalau kita hanya “merasa” mengenal saya rasa belum ada ketertarikan. Hanya ilusi dari hasrat kita terhadap orang tsb. Jelas itu masih jauh dari cinta :)

    @Taruma:
    ngopi yuks..

    @hariadhi:
    Masalahnya komitmen sendiri kadang diperdebatkan antara komitmen riil dan enggak riil lho. Komitmen riil yang berupa peresmian dari kedua belah pihak (seperti perjanjian bilateral yang diratifikasi) atau komitmen yang muncul tanpa kita sadari dan akui. Jadi susah juga kalau dibilang komitmen itu tidak dibutuhkan. Di saat kita bilang butuh tapi tak bisa direalisasikan, kita merasa putus asa. Tapi ketika kita putus asa dan terus terikat pada orang tsb justru di situlah komitmen muncul, komitmen kita untuk tetap terikat. Yah, meski memang jenis komitmennya berbeda.

    Cinta platonis? Saya sudah jelaskan alasannya kenapa saya membatasi diri pada cinta platonis di tulisan itu. Apa jangan-jangan Anda punya kelainan seperti saya juga? :lol:

  10. 10 Lemon S. Sile April 26, 2009 pukul 1:16 am

    @hariadhi [2]:
    Gpp, udah ribet dari sananya kok.
    Intimacy itu kan bisa disebut keakraban juga. Tanpa ada hasrat sebenarnya intimacy yang tinggi bisa jadi persahabatan. Perkara jam terbang iya juga. Biasanya kita akan akrab dengan teman lama. Bisa juga faktor-faktor lain seperti kecocokan atau apa lah ;D

    Kalau ibarat di game The Sims variabelnya ditentukan oleh Zodiak, Interest, dan Wataknya (trait). Kemudian tinggal bagaiman intensitas hubungan sosialnya saja. Semakin sering maka akan semakin cepat pula mencapai poin 100 :D

  11. 11 hariadhi April 26, 2009 pukul 1:18 am

    Platonik? Ya ya ya… gw juga dulunya terjebak hal yang sama. :D

    Sama, karena gw juga takut komitmen dan hasrat. Lebih parah lagi gw menganggap konsekuensi dari komitmen adalah akan saling menyakiti. Ga mungkin mengharapkan intimacy, karena kita jarang ketemu. Tapi gw dan dia sama-sama ngerti ada cinta.

    There goes the mistake, gw memilih hanya konsentrasi di satu variabel. Cinta doang.

    :)

    *ga usah terlalu dipusingin apakah komitmen itu harus riil atau ga riil. Kalau komitmen udah dimulai, lu akan ngalamin keduanya sekaligus :D

  12. 12 Lemon S. Sile April 26, 2009 pukul 1:22 am

    Pada dasarnya sih saya tidak takut pada komitmen. Justru saya lebih mengharapkan komitmen, bagi saya intimasi itu ya seperti perkara jam terbang tadi.
    Saya justru lebih menghindari hasrat dengan alasan-alasan yang mungkin tidak manusiawi. Nah, jutru dari ketakutan akan hasrat itu kacamata orang lain mengaitkannya dengan ketakutan akan komitmen juga. Atau mungkin juga karena mindset komitmen dibutuhkan dalam menjalankan hasrat atau vice versa. Jadinya ya begitu. Meskipun untuk komitmen sendiri sih saya tidak memusingkannya.

    …yang pusing soal komitmen itu bukan saya. Tapi teman saya yang saya ceritakan. :|

  13. 13 hariadhi April 26, 2009 pukul 6:07 pm

    Lhooo… Biasanya cowo preferensinya adalah takut komitmen tapi gila hasrat. Lu pasti spesies langka ya? :) Too bad, cewe itu pasti ga lucky banget, ga jadi sama lu.

    Kalau baca lagi yang di blog infinite.inficio, soal variable Cinta = hasrat + komitmen + intimacy… Hmm kadang kita terlalu ketakutan dengan kriteria jenis-jenis cinta itu. Dari ketiganya sebenarnya cuma hasrat yang agak-agak sulit dikendalikan. Soal komitmen dan intimacy itu bisa dibangun, kita sendiri yang menentukan mau seberapa besar. Asal ada niat aja.

    The Sims? hehehehe. Yupe, itu game yang cukup lucu untuk mensimulasi hubungan di dunia real :)

  14. 14 Rian Xavier Mei 2, 2009 pukul 4:30 pm

    komitmen yang penting. =)


Tinggalkan Balasan

Anda harus login untuk menuliskan komentar.




Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.