Arsip untuk Kategori 'Melirik Politik'

Tawon

Beberapa hari yang lalu saya menyumbang sebuah tulisan di politikana. Bukan tulisan yang berguna, apalagi berkelas seperti artikel-artikel lain buahan para sesepuh di sana. Bukan sebuah artikel yang saya tulis melainkan sebuah cerita. Cerita singkat yang lebih didominasi oleh dialog antar tokoh, di mana saya sebut dialog tersebut adalah dialog di luar akal nalar.

Cerita yang saya tulis tersebut sebenarnya adalah sebuah simbolisasi. Simbolisasi mengenai sudut pandang saya terhadap benturan antara, sebutlah, kaum kontemporer/moderat dengan fundamentalis. Ya, saya berbicara ini mengenai benturan yang juga sempat panas di situs tersebut mengenai khilafah melawan demokrasi. Saya bukan seorang yang sanggup berargumen kuat, saya masih muda dan tak pantas berdebat banyak. Tetapi entah kenapa saya akhirnya justru menuangkan pandangan saya dalama bentuk simbolisasi berupa cerita pendek tersebut.

Berikut di blog ini saya ingin membahas simbolisasi yang saya gunakan dalam cerita singkat tersebut.

Lanjut baca

Berisik!

Ah, saya tidak sedang membentak Anda kok. Itu kan cuma judul.

Beberapa malam yang lalu saya dengar berita yang cukup lucu di TV. Meski tidak bisa dibilang lucu juga, namanya politik kok dijadikan guyonan. Ah, sudahlah.

Berita mengenai Presiden yang menegur pendemo di depan Istananya. Sekilas saya merasa ini berita yang mengejutkan. Bayangkan saja, presiden menanggapi langsung pendemo yang sudah buang-buang tenaga, waktu, dan uang di depan Istananya sendiri. Meski setelah mendengar berita lengkapnya saya malah jadi senyum-senyum sinis, bahkan akhirnya tertawa juga.

Ternyata beliau menegur pendemo itu bukan karena beliau peduli pada aspirasi yang seharusnya disampaikan pendemo itu. Juga ternyata beliau tidak menegur langsung pendemo, ding. Beliau cuma menegur Kapolri karena pengeras suara pendemo itu mengganggu rapatnya beliau. Kebetulan rapatnya memang tidak ada hubungannya dengan yang diteriakkan para pendemo.

Kok agak lucu ya?

Yah, saya ini memang penganut aliran demo-itu-berisik-dan-cuma-mengganggu cuma saya mengerti. Namanya demo kalau tidak mengganggu dan menciptakan sebuah gelombang tersendiri pada harmoni kehidupan yang berjalan terus dan tidak menarik perhatian agak percuma juga jadinya. Tapi ternyata mereka-mereka itu sudah merencanakan mulai saat itu pendemo dilarang membawa (dan menggunakan?) pengeras suara saat berdemonstrasi.

Alasannya adalah sebagai pendemo mereka memiliki kewajiban untuk tidak mengganggu lingkungan. Yeah, kalau begitu seperti yang dikatakan komentator di TV. Jangan-jangan suatu hari ada Pejabat terkenal yang sedang pusing berat terganggu sama suara keras yang dikeluarkan gedung berkubah setiap pagi-pagi buta. Akhirnya penggunaan pengeras suara diharamkan di Indonesia. Ah, berlebihan amat sih kamu, Nas…

Saya membayangkan sebuah demonstrasi tanpa pengeras suara. Memang tidak jarang dan banyak juga demonstrasi seperti itu. Cuma untuk beberapa jenis demonstrasi yang ditujukan untuk orang-orang yang pendengarannya kurang atau kurang bisa memahami penyampaian visual benda itu dibutuhkan. Tanpa itu pendemo harus keluar biaya lebih untuk air minum, bisa-bisa dehidrasi terus karena kebanyakan teriak. Harus keluar biaya untuk ke dokter THT setelah demonstrasi karena siapa tahu tenggorokannya sobek setelah teriak-teriak gak karuan. Akhirnya sejak saat itu suara para pendemo keras mengecil perlahan-lahan, akhirnya demonstrasi yang biasanya disampaikan dengan tarik urat cuma disampaikan bisik-bisik saja. Jadi seperti gosip yang menyebar dari mulut ke mulut. Akhirnya ketika yang dibicarakan sampai ke telinga Pejabat-pejabat ganteng yang narsis itu mereka bisa dengan mudah berdalih,

“Ah, itu kan cuma gosip…”

…masuk infotainment deh, makin membaurkan kejelasan antara selebritas dengan politisi.

 

Katanya hiatus kamu, Nas?!

Habisnya pengeras suara para pendemo itu berisik sih, jadinya aku ga bisa rapat hiatus dengan tenang.

 

*pulang*

Mahasiswa

PERHATIAN: Baca ini dengan kepala dingin.

Baru beberapa jam berlalu. Beberapa jam yang lalu Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun. Judulnya Sumpah Pemuda memang berkaitan erat dengan pemuda. Saya rasa saya bisa mengingat ruang kelas SD saya yang di temboknya menggantung salinan teks Sumpah Pemuda yang dihiasi alakadarnya. Hanya saja sejak SMP saya tidak pernah menemukan teks itu lagi di dinding ruang kelas. Bahkan mungkin akan aneh kalau saya menanyakan kenapa tidak ada teks itu di ruang kelas saya di kampus. Padahal pemuda itu bukan anak-anak ingusan yang masih pakai celana/rok merah kan?

Baiklah intro yang terkesan nostalgia. Bicara SP (Sumpah Pemuda) di zaman sekarang saya selalu terbayang mahasiswa. Kita buat singkat saja, meskipun kondisi mahasiswa di zaman SP itu jelas beda dengan mahasiswa sekarang. Kita pasang mindset untuk mahasiswa zaman sekarang. Saya ingin ngomongin mahasiswa zaman sekarang…psst…this would rather be sarcastic or satire…so get a hang of it.

Jangan anggap saya mahasiswa atau pihak tertentu. Anggap saja saya orang luar yang bukan siapa-siapa dan sedang melihat dari luar.

Jujur kalau saya mendengar kata mahasiswa saya lantas terbayang beberapa hal. Salah satunya adalah demonstrasi. Mungkin ini adalah sebuah mindset yang tercipta akibat kejadian ‘98, di mana saat itu kita ingat mahasiswa berhasil ‘menjatuhkan’ sebuah tirani. Mengenang kembali masa ‘60an yang hanya saya ketahui dari buku-buku sejarah. Lama kelamaan sejak saat itu demonstrasi seolah menjadi tren bagi khalayak, tak terkecuali mahasiswa. Ada sedikit ketakcocokan, demo. Ada sedikit kecurigaan, demo. Memang bukan hanya mahasiswa yang demo, tapi yah terkadang mereka masih ikutan juga, demi almamater mereka.

Hmm, sebenarnya tugasnya mahasiswa itu apa sih? Mahasiswa itu siapa sih?

Well, to put it simple…I would like to share my opinion

nginggris dikit.

Lanjutkan membaca ‘Mahasiswa’

Zenobia

Pertama: JUDUL ENTRI INI “BUKAN” NAMA ORANG.

Kedua: INI ENTRI TENTANG PUISI LAGI KARENA ENTAH KENAPA SAYA JADI SUKA BERPUISI LAGI.

Ketiga: SILAKAN NIKMATI…tapi tahu diri :lol:

Untuk Kamu yang ada di atas

bagaimana kabar di atas
apakah angin yang bertiup sama
bagaimana guncangan terasa
seberapa menyenangkan di sana

maukah kau untuk turun dan lihat
sebuah taman yang urung kubuat
karena kau tak jelas minat
harus kutanamkan apa di darat
apakah air samudera harus kusiram di sini
kemudian haruskah kutebarkan biji surga

maukah kau turun dan lihat
sebuah lukisan yang tak kunjung usai
sebab tak ada yang dapat kugambar
di atas tanah pekat yang hanya hama menebar
perlukah kucari tinta pelangi
agar kau mau turun dan bisa kugambar rambut emasmu

maukah kau turun dan lihat
sebuah gaun yang tak bisa juga kumulai
karena aku kehilangan ukuran yang tak pernah kutahu
karena tidak ada yang bisa ku ukur selain keledai
apa aku harus merayumu dengan benang emas
agar kau rasa sepadan dengan tubuh indahmu

haruskah aku naik dan datang
agar dapat kutarik engkau ke bawah
membantuku menyelesaikan taman
agar dapat kulukis wajah indahmu
sehingga dapat selesai gaun untukmu
walau harus kupatahkan kedua kakiku
lebih baik tidak usah!
pergilah kau!
aku terlalu lelah menunggu hujan untuk tamanku
kanvasku sudah terlanjur lapuk dimakan usia
benang-benangku sudah terbang entah ke mana
lebih baik aku pergi
dari pada suaraku hilang memanggilmu yang tak kunjung turun

Annas A. Azis (c)26 Juli 2008

Untuk kali ini coba tafsirkan sendiri. Mungkin terkesan melankolis dan memang awalnya begitu maksudnya. Tapi setelah saya pikir rasanya cukup universal juga. Awalnya puisi ini mau saya beri judul, “Surat untuk penduduk Zenobia”. Bagi yang penasaran apa itu Zenobia bisa buka di wikipedia. Itu adalah nama yang ada di sebuah buku, nama kota. Deskripsi kotanya…siapa tahu ada yang tahu. Coba lain kali deh saya kasih tahu. Tapi menurut saya puisi ini dalam beberapa konteks cocok dikirimkan untuk penduduk Zenobia. ;)

Bukunya bagus karena isinya enggak jelas tapi bagus untuk dijadikan inspirasi.

Kebanggaan

Apalah arti sebuah nama kebanggaan?

Ya, apa artinya? Jawabannya seperti ini:

Ulama mode: “kebanggaan di mata manusia tidak ada artinya dengan keimanan di mata Allah swt.”

Ksatria negeri timur mode: “kebanggaanku adalah diriku, pedangku, ikat rambutku. aku rela mati demi kebanggaanku.”

Manusia Rendahan mode: “jangan rusak imejku sebagai orang yang keren! aku ini terkenal karena gayaku yang keren tahu!”

Mode saya…

Lanjutkan membaca ‘Kebanggaan’

Perang Dunia ke-3

Sebuah kutipan dari Kakek Einstein,

I do not know with what weapons World War III will be fought, but World War IV will be fought with sticks and stones.

Nonton berita di televisi belakangan ini. Sering dijumpai berita antara topik pemblokiran situs-situs atau film FITNA. Penasaran sama keduanya, dan kebetulan ada kaitannya juga dengan Youtube yang diblok gara-gara film itu. Makinlah penasaran, telusur punya telusur sampailah pada berita di Antara soal FITNA dan Youtube di Indonesia.

Lanjutkan membaca ‘Perang Dunia ke-3′

Indonesia: Sekuler atau Tidak?

aku, kembaliLogo(terus kenapa?)

update: perbaikan (seadanya) sesuai permintaan.

Sekuler, sebuah kata yang mungkin terbilang asing namun akrab. Seperti dekat tapi jauh. Sebuah istilah yang memang banyak dibicarakan terutama oleh negara yang memiliki basis agama. Meski pada akhirnya sekuleritas seringkali dianggap berbahaya. Namun sebenarnya apa sih sekuler itu? :-?

mana saya tahu…duh, kamu ini gimana sih?

mau membahas tapi tidak tahu dasarnya.

kan, supaya terlihat keren saja :D , buat judul yang ‘wuah!’.

…kamu ini.

Lanjutkan membaca ‘Indonesia: Sekuler atau Tidak?’

A Sweet Memories Called Opium

Marx once said, “A religion is the same as an opium”

So does he called an atheist afterwards. By those who conceal under the cloak of God. Those whom names are righteous owner of the law. Those who oppose him as a lord of the stage.

On this modern world. Opium is more than just an opium. Opium is a business, something sweet and enjoyable. The runaway of those who trapped in the distress. A runaway for those who shed the blood of the innocent. A mere tool for recreation, life, and identity. Opium is the solution for identity crisis, while it creates the crisis.

How opium destroys a society in anything they called. Opium is just a drugs. Drugs compounded from a weak beautiful flower bearing the name, ‘Poppy’. The common understandings of opium, sometimes leads us to war. An ideological war against the power of sweet memories.

Opium offers us a sweet memories. Though just an illusion it is still something sweet. Human sometimes can’t resist and always fell apart against a seduction of the sweetness of life. So do someone said that “happiness leads to unawareness, and it leads to annihilation”.

For that reason Marx stated his statement. A short statement misused by the regime to deploy the power against religion. Against the will of God, bearing the name as an atheist.

While we modern peoples simply described Marx as an atheist through the story of the regime. Not through Marx itself.

The sweet memories is the true power of opium and religion. Both of them offers sweetness that no any human could resists. Both of them could lead a society into a calm power that someone could easily take over to. Combined with principle of Machiavelli. Marx and Machiavelli, their principles combined is the perfect recipe to control the people power.

Machiavelli, long before Marx stated his statement, said that a lord should use and may use anything and any kind of method to control and somehow manipulate his society.

And Marx stated it specifically. Use religion as an opium, a drugs that should control and cage the peoples mind. Holding the power tangled with the sweetness of religion.

Machiavelli and Marx, much more resembles Newton and Einstein. Newton stated the law of himself, while then only to be broke by Einstein.
So one more the philosophy of life we could learn from them. The previous generations may have created the law but the next generations may break it as we evolve.
Machiavelli may have the statement of is own, may have been used by the lord to legitimate all of their will. But then Marx said to control and cage the people power only religion that is necessary.

So why would we call Marx as an atheist? He soften the statement founds within the Il Principe. So why should we brand him clueless?

Those who conceal under the name of God, clueless by the sweetness of opium they made by themselves.
Those whom names are the righteous owner of law, clueless by the height of the law.
Those who oppose Marx as a lord and brand him an atheist, truly you are the atheist for obliterating the essence of God within your principles.

*Gila lu, Nas… Udah lama ngilang muncul-muncul ngoceh aneh pake bahasa Inggris pula. [sedang bingung karena nilai TOEFL dibilang bagus]*

jangan protes kalo bahasa Inggrisnya ngawur, terjemahannya ngaco, kutipannya ngasal, dsb…

–end of transmission–
coming back in approx. 7 days, due to the mission at hell

further thought about relationship between religion and society, may be accessed as the previously locked entry has been unlocked.

Busway Koridor XCIX: Solusi Mudik dan Arus Balik


“our so-called hero…”

versi singkat entry ini bisa dibaca di halaman prenster saya.

Hari ini saya terkejut ketika membaca koran. Sebenarnya rasa terkejut ini sudah dimulai dari kemarin. Tidak lain tidak bukan karena pernyataan sangat mengejutkan dari orang paling tenar di Jakarta, Sutiyoso atau yang akrab dipanggil Bang Yos.

Apa sih pernyataannya? Masa gatau?!

Filosofi Teh dan Gula: Bagian 1, Politik

Hmm, kembali membicarakan filosofi eh?

Ide filosofi ini datang belum lama. Asal usulnya dari yah mungkin bisa dibilang sekolah. Bukan maksudnya sekolah memberi pelajaran tentang ini. Hare gene mana ada sih sekolah yang memberi pelajaran filosofi? Apalagi kelas ilmu alam…
Di mana siswanya dituntut berpikir serasional mungkin di saat fakta diputarbalikkan di dunia ini.

Ah, sudahlah…

Yah, silakan lanjutkan saja…

Lanjutkan membaca ‘Filosofi Teh dan Gula: Bagian 1, Politik’

Halaman Berikutnya »


Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.