Arsip untuk Kategori 'Belajar Diajari'

Percikan

Tanpa awal dan akhir, agama akan tersesat.
Tapi siapalah yang tidak tersesat. Ketika kita tidak tahu dari mana harus bermula dan di mana kita harus berhenti.

Lanjutkan membaca ‘Percikan’

Mahasiswa

PERHATIAN: Baca ini dengan kepala dingin.

Baru beberapa jam berlalu. Beberapa jam yang lalu Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun. Judulnya Sumpah Pemuda memang berkaitan erat dengan pemuda. Saya rasa saya bisa mengingat ruang kelas SD saya yang di temboknya menggantung salinan teks Sumpah Pemuda yang dihiasi alakadarnya. Hanya saja sejak SMP saya tidak pernah menemukan teks itu lagi di dinding ruang kelas. Bahkan mungkin akan aneh kalau saya menanyakan kenapa tidak ada teks itu di ruang kelas saya di kampus. Padahal pemuda itu bukan anak-anak ingusan yang masih pakai celana/rok merah kan?

Baiklah intro yang terkesan nostalgia. Bicara SP (Sumpah Pemuda) di zaman sekarang saya selalu terbayang mahasiswa. Kita buat singkat saja, meskipun kondisi mahasiswa di zaman SP itu jelas beda dengan mahasiswa sekarang. Kita pasang mindset untuk mahasiswa zaman sekarang. Saya ingin ngomongin mahasiswa zaman sekarang…psst…this would rather be sarcastic or satire…so get a hang of it.

Jangan anggap saya mahasiswa atau pihak tertentu. Anggap saja saya orang luar yang bukan siapa-siapa dan sedang melihat dari luar.

Jujur kalau saya mendengar kata mahasiswa saya lantas terbayang beberapa hal. Salah satunya adalah demonstrasi. Mungkin ini adalah sebuah mindset yang tercipta akibat kejadian ‘98, di mana saat itu kita ingat mahasiswa berhasil ‘menjatuhkan’ sebuah tirani. Mengenang kembali masa ‘60an yang hanya saya ketahui dari buku-buku sejarah. Lama kelamaan sejak saat itu demonstrasi seolah menjadi tren bagi khalayak, tak terkecuali mahasiswa. Ada sedikit ketakcocokan, demo. Ada sedikit kecurigaan, demo. Memang bukan hanya mahasiswa yang demo, tapi yah terkadang mereka masih ikutan juga, demi almamater mereka.

Hmm, sebenarnya tugasnya mahasiswa itu apa sih? Mahasiswa itu siapa sih?

Well, to put it simple…I would like to share my opinion

nginggris dikit.

Lanjutkan membaca ‘Mahasiswa’

Fields

A voice echoes in my head…she said:

You know…

Life is like a very big plains,

where every people lives as one.

We share our place.

We share our food.

We share our water.

But we rarely share each other.

And someday,

the field will be full of people.

From that crowd,

maybe one of them will rise and starts to claim his land for his own.

Others will follow.

You may end up in one of the claimed land.

Your life will never be free anymore

and soon you’ll shift your mind.

You will have the thought to rise,

claim something.

Even though what you seek to claim is something you called ‘Ataraxia’.

For others…

It’s just another claimed land.

So there’s no field of ataraxia.

You’ll never find what you seek except you can sow your own seeds.

But God didn’t gives you that special seeds,

there’s only limited amount and types of seeds available.

Lanjutkan membaca ‘Fields’

Klarifikasi mengenai entri saya…

sebelumnya saya menyesal untuk entri ini saya tidak bisa menjalankan kebiasaan saya yaitu judul yang dengan hanya-satu-kata

Lanjutkan membaca ‘Klarifikasi mengenai entri saya…’

ITB

SELAMAT DATANG DI ITB!!

terus kenapa?

UPDATED 21 AUGUST 2008

Lanjutkan membaca ‘ITB’

FSRD!

Satu kata,

SIALAN!!!

Gajah Duduk

apa salah saya?

Lanjutkan membaca ‘FSRD!’

Ujang

Pertama-tama, saya mau menyampaikan permohonan maaf kepada Ujang. Berhubung saya telah memakai namanya secara sepihak untuk beberapa hal dalam tulisan kali ini.
Tulisan kali ini, seperti yang terjadi bulan lalu, tulisan penuh rasa iseng tanpa keinginan yang besar. Setelah dipikir-pikir rasanya saya sudah tidak memiliki keinginan besar lagi sejak beberapa bulan lalu. Saya sudah tidak ingin menjadi seorang polisi lagi. Saya sudah tidak ingin menjadi programmer lagi. Juga sudah lepas keinginan saya menjadi artis terkenal (bukan pemain film, apalagi di Endonesia. habisnya artis jadi memiliki konotasi jelek gara-gara pemain sinetron dan selebritis goblok itu). Apa yang tersisa hanya keinginan mencari kebijakan. Tapi sudahlah…

Kisahnya begini, bulan April lalu UN sudah saya lewati. Begitu pula Ujian Sekolah. Tanpa terasa juga rupanya Ujian Mandiri UGM pun sudah saya lakoni. Kemudian beberapa hari yang lalu Ujian Saringan Masuk FSRD ITB baru saja saya lewati, tak lupa Ujian Mandiri Bersama akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Seluruh ujian itu bisa dibilang ritual wajib anak kelas 3 SMA zaman sekarang. Banyak rupa-rupa ujian kita temui, dengan beragam mata pelajaran pula. Dari yang paling rumit seperti Fisika sampai paling tidak jelas seperti Agama atau Komputer. Satu kesamaan dari semuanya adalah seluruhnya adalah ujian tertulis, ujian tertulis yang tertutup. Tidak jelas seberapa transparan dan betapa lama menunggu hasilnya. Nah, ada apa sampai-sampai rasanya seluruh itu sakral sekali saya tulis? Lanjutkan saja.

Lanjutkan membaca ‘Ujang’

Saya Malass… [Perang Gila Episode 1: Virus Malas]

Ya, saya malas. Malas ngomong. Malas berpikir. Malas bernapas. Malas bergerak. Malas berkomunikasi. Malas ini-itu.

Kenapa malas? Karena saya malas… Karena saya malas jadi saya malas buat postingan belakangan ini. Malas onlain, malas menyalakan komputer, malas pulang ke rumah, malas pergi ke sekolah, malas jalan-jalan, malas tidur…

Malasologi

Lalu kenapa bisa semalas itu sih? Karena saya malas. Jangan tanya la… Saya malas jawabnya.

Malasologi

Tindakan Penekanan di Sekolah? Ada Campur Tangan Guru Juga!

Menanggapi sebuah komentar di entri saya sebelumnya. (~Ah, apalah artinya?) Saya memutuskan untuk membuat entri ini.

Menyoroti dunia pendidikan Indonesia. Tetapi tidak berkaitan dengan kurikulum seperti yang sudah sering saya sampaikan tetapi menyoroti sesuatu yang lebih manusiawi yaitu penekanan yang diikuti penghinaan. Sebenarnya saya agak kesulitan mencari terjemah istilah ini. Istilah yang satu ini asal-usulnya dari kata bahasa Inggris, bullying.

Yo!

Indonesia, tanah air beta…alfa, gamma, phi, dst

Bukan rumus…ngapain saya ngucapin istilah haram itu di sini.

Sementara itu, saya kembali berbahasa Indonesia! Bahasa Nusantara! :D :D :D

Sebenarnya saya kesambet setan koboi ksatria mana sih jadi banyak ngoceh pakai bahasa Pangeran Charles belakangan ini? Cuma gara-gara sebuah game. Sebuah game pun bisa mengubah pikiran bocah ini. Betapa lugunya kau ini, Nak…

Kalau sudah begini kasusnya saya bisa-bisa saya dicap begini sama golongan bernama orang dewasa, guru, ilmuwan, dan orang-orang tukang berpikir haram. Bakalan nasibnya dibilang begini,

orang tua: “kalau belajar aja malas! main terus kamu!”

guru: “mau jadi apa kamu?!”

orang pintar (ngarep menang nobel fisika): “buang-buang waktu saja kamu, bukannya baca buku pelajaran”

orang entah dari mana: “kafir kamu!”

Lha, apa salah saya? Saya tidak membuat anak kecil menangis dengan tatapan membunuh saya, saya tidak memecahkan kaca jendela dan menuduh Nobita yang melakukan, dan yang terpenting saya tidak mengakibatkan kematian seseorang.

Tapi mereka akan tetap berkilah dengan ucapan ini,

semua (kayaknya): “sebagai pelajar wajib belajar! supaya bisa berguna di masa depan”

Yah, mau gimana lagi kalau saya berkata…

Lanjutkan membaca ‘Indonesia, tanah air beta…alfa, gamma, phi, dst’

Halaman Berikutnya »


Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.