PERHATIAN: Baca ini dengan kepala dingin.
Baru beberapa jam berlalu. Beberapa jam yang lalu Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun. Judulnya Sumpah Pemuda memang berkaitan erat dengan pemuda. Saya rasa saya bisa mengingat ruang kelas SD saya yang di temboknya menggantung salinan teks Sumpah Pemuda yang dihiasi alakadarnya. Hanya saja sejak SMP saya tidak pernah menemukan teks itu lagi di dinding ruang kelas. Bahkan mungkin akan aneh kalau saya menanyakan kenapa tidak ada teks itu di ruang kelas saya di kampus. Padahal pemuda itu bukan anak-anak ingusan yang masih pakai celana/rok merah kan?
Baiklah intro yang terkesan nostalgia. Bicara SP (Sumpah Pemuda) di zaman sekarang saya selalu terbayang mahasiswa. Kita buat singkat saja, meskipun kondisi mahasiswa di zaman SP itu jelas beda dengan mahasiswa sekarang. Kita pasang mindset untuk mahasiswa zaman sekarang. Saya ingin ngomongin mahasiswa zaman sekarang…psst…this would rather be sarcastic or satire…so get a hang of it.
Jangan anggap saya mahasiswa atau pihak tertentu. Anggap saja saya orang luar yang bukan siapa-siapa dan sedang melihat dari luar.
Jujur kalau saya mendengar kata mahasiswa saya lantas terbayang beberapa hal. Salah satunya adalah demonstrasi. Mungkin ini adalah sebuah mindset yang tercipta akibat kejadian ‘98, di mana saat itu kita ingat mahasiswa berhasil ‘menjatuhkan’ sebuah tirani. Mengenang kembali masa ‘60an yang hanya saya ketahui dari buku-buku sejarah. Lama kelamaan sejak saat itu demonstrasi seolah menjadi tren bagi khalayak, tak terkecuali mahasiswa. Ada sedikit ketakcocokan, demo. Ada sedikit kecurigaan, demo. Memang bukan hanya mahasiswa yang demo, tapi yah terkadang mereka masih ikutan juga, demi almamater mereka.
Hmm, sebenarnya tugasnya mahasiswa itu apa sih? Mahasiswa itu siapa sih?
Well, to put it simple…I would like to share my opinion
nginggris dikit.
Lanjutkan membaca ‘Mahasiswa’