“Kalau kau diberi kesempatan memilih, apa yang akan kau pilih?”
“Memilih apa?”
“Memilih dengan siapa kau…err… menikah. Coba kita bicarakan masalah percintaan.”
“Apa maksud pertanyaanmu? Kita bisa memilih untuk menikah dengan siapapun. Saat ini pun kalau aku ingin menikah denganmu pun aku bisa memilihnya.”
“Bukan begitu maksudku. Apa yang kumaksud adalah bagaimana jika saat ini, Tuhan muncul di hadapanmu dan memberikan satu kesempatan kepadamu untuk memilih jodoh untukmu. Kebetulan anggap saja Ia belum memilihkan jodoh untukmu.”
“Kau katakan itu masalah percintaan? Bukankah itu adalah masalah keimanan?”
“Ha?”
“Keimanan, seberapa besar keimanan kita kepada Tuhan. Sampai kita bisa mempercayakan segala keputusan-Nya untuk hidup kita. Bagiku siapapun jodoh yang diberikan Tuhan padaku tidak masalah. Karena toh Ia tahu mana yang terbaik.”
“Kau mengaburkan pertanyaanku. Anggap saja Ia belum memilihkan jodoh untukmu, sudah kubilang begitu kan?”
“Kalau memang begitu… Aku tidak akan memilih, biarkan saja aku tidak memiliki istri. Karena aku tidak yakin pilihanku dapat menandingi pilihannya.”
“Tampaknya kau begitu mempercayakan segalanya pada Tuhan ya?”
“Asal kau tahu saja, aku begitu bukan karena itu. tetapi karena aku tidak percaya dengan jodoh.”
“Apa maksudmu?”
“Karena menurutku jodoh itu sesuatu yang bodoh. Karena jodoh itu adalah cinta, tetapi kenapa ketika cinta ada kalanya tidak jodoh? Jodoh hanya merusak cinta, sesuatu yang murni dari hubungan pria dan wanita. Aku tidak menganggap homoseksual dalam ini.”
“Kalau begitu kenapa kau mempercayakan jodoh pada Tuhan? Ucapanmu cenderung kontradiksi.”
“Karena aku ingin tahu seberapa makhluk-kah Tuhan itu. Apakah Ia memang Tuhan atau kita perlu membuang huruf ‘H’ dari nama-Nya. Kalau Ia memang Tuhan maka Ia akan bersikeras dengan jodoh, bila Ia bukan, maka Ia pasti akan percaya pada cinta. Aku sendiri orang yang tidak percaya keduanya.”
“Bagaimana sih? Ucapanmu benar-benar berbelit-belit. Penuh kontradiksi.”
“Karena aku makhluk-Nya. Makhluk Sang Maha Kontradiksi, apa salahnya aku kontradiktif? Dalam masalah percintaan pun kita dihadapkan pada kontradiksi antara cinta dan jodoh tadi. Kau sendiri mana yang kau ikuti, cinta atau jodoh?”
“Aku sendiri percaya pada cinta…tapi jodoh…”
“Kalau kau beriman kuat, saking kuatnya hingga kau rela membunuh dirimu untuk Tuhan mungkin kau lebih percaya pada jodoh. Kau akan apatis menunggu giliran Tuhan memberikan jodoh padamu. Tapi cinta adalah sesuatu yang dicari, dan dalam pencarian itu bisa jadi kau justru menjauhi jodoh.”
“…”
Grimoire of Insanity: part EIGHT
dialog dalam monolog yang sudah mendekam di HDD sejak 19 Februari 2008
perlu dicatat ini adalah dialog fiktif antara pria dan wanita yang bersahabat baik.