Arsip untuk Kategori 'Kajian Dimensi Populer'

Cinta

[Kupipes dari Catatan di Facebook, saya]
Bunga di Depan Rumah

Bunga di Depan Rumah

Sewaktu teman saya menulis ini akhir tahun lalu. Saya tidak merasakan adanya manfaat, ketertarikan, bahkan juga kepahaman dalam membaca ulasannya mengenai cinta. Walau tetap saya akui ulasannya itu menarik kala itu. Mendapati ulasan tentang cinta yang tidak menye-menye, menggunakan istilah-istilah yang tegas dan tidak mengambang seperti puisi membuat saya menghargai ulasan itu sebagai salah satu tulisan yang menarik. Tapi tetap saja saat itu saya membacanya saya belum mendapati manfaat yang turun ke hati. Seolah segala yang saya baca dari ulasan itu hanya tertahan di kulit kepala dan tidak berhasil menembus ke dalam hati.

Katarsis atau curcol? You decide..

Jodoh

“Kalau kau diberi kesempatan memilih, apa yang akan kau pilih?”

“Memilih apa?”

“Memilih dengan siapa kau…err… menikah. Coba kita bicarakan masalah percintaan.”

“Apa maksud pertanyaanmu? Kita bisa memilih untuk menikah dengan siapapun. Saat ini pun kalau aku ingin menikah denganmu pun aku bisa memilihnya.”

“Bukan begitu maksudku. Apa yang kumaksud adalah bagaimana jika saat ini, Tuhan muncul di hadapanmu dan memberikan satu kesempatan kepadamu untuk memilih jodoh untukmu. Kebetulan anggap saja Ia belum memilihkan jodoh untukmu.”

“Kau katakan itu masalah percintaan? Bukankah itu adalah masalah keimanan?”

“Ha?”

“Keimanan, seberapa besar keimanan kita kepada Tuhan. Sampai kita bisa mempercayakan segala keputusan-Nya untuk hidup kita. Bagiku siapapun jodoh yang diberikan Tuhan padaku tidak masalah. Karena toh Ia tahu mana yang terbaik.”

“Kau mengaburkan pertanyaanku. Anggap saja Ia belum memilihkan jodoh untukmu, sudah kubilang begitu kan?”

“Kalau memang begitu… Aku tidak akan memilih, biarkan saja aku tidak memiliki istri. Karena aku tidak yakin pilihanku dapat menandingi pilihannya.”

“Tampaknya kau begitu mempercayakan segalanya pada Tuhan ya?”

“Asal kau tahu saja, aku begitu bukan karena itu. tetapi karena aku tidak percaya dengan jodoh.”

“Apa maksudmu?”

“Karena menurutku jodoh itu sesuatu yang bodoh. Karena jodoh itu adalah cinta, tetapi kenapa ketika cinta ada kalanya tidak jodoh? Jodoh hanya merusak cinta, sesuatu yang murni dari hubungan pria dan wanita. Aku tidak menganggap homoseksual dalam ini.”

“Kalau begitu kenapa kau mempercayakan jodoh pada Tuhan? Ucapanmu cenderung kontradiksi.”

“Karena aku ingin tahu seberapa makhluk-kah Tuhan itu. Apakah Ia memang Tuhan atau kita perlu membuang huruf ‘H’ dari nama-Nya. Kalau Ia memang Tuhan maka Ia akan bersikeras dengan jodoh, bila Ia bukan, maka Ia pasti akan percaya pada cinta. Aku sendiri orang yang tidak percaya keduanya.”

“Bagaimana sih? Ucapanmu benar-benar berbelit-belit. Penuh kontradiksi.”

“Karena aku makhluk-Nya. Makhluk Sang Maha Kontradiksi, apa salahnya aku kontradiktif? Dalam masalah percintaan pun kita dihadapkan pada kontradiksi antara cinta dan jodoh tadi. Kau sendiri mana yang kau ikuti, cinta atau jodoh?”

“Aku sendiri percaya pada cinta…tapi jodoh…”

“Kalau kau beriman kuat, saking kuatnya hingga kau rela membunuh dirimu untuk Tuhan mungkin kau lebih percaya pada jodoh. Kau akan apatis menunggu giliran Tuhan memberikan jodoh padamu. Tapi cinta adalah sesuatu yang dicari, dan dalam pencarian itu bisa jadi kau justru menjauhi jodoh.”

“…”

 

 

 

Grimoire of Insanity: part EIGHT

dialog dalam monolog yang sudah mendekam di HDD sejak 19 Februari 2008
perlu dicatat ini adalah dialog fiktif antara pria dan wanita yang bersahabat baik.

Action!

As the title goes…this is just another pointless rants.

Don’nt take it too seriously. Just yesterday I watched this movie “Doomsday”, a British flicks. I think I prefer British flick more than the Hollywood one lately. Ah, okay just a short rambling about the film.

A few days back before I watch the movie I ended up with this funny xkcd webcomic. [Check it] (Save Haven from Velociraptors!)

…and yes Summer Glau is great but I think this film ‘Doomsday’ answers the comic best for an actual flick. :lol:

The thing I disappointed with the movie is, for a post-apocalyptic movie it’s just too much pointless action and gore. But I didn’t say the movie is that bad, average score I would say. I mean the best part for post-apocalyptic movies is the story, the science, and the survival. The movie got an average score for action (so much action and violence) but it turned down the science and story.

If you want to check it out just make sure you’re okay with action and violence. If not maybe you sholdn’t watch it, as for a recommendation…Up to you.

p.s. taking a break from the WIP entry about Election..just way too confusing even without those nightmares. – -a

Plagiarisme

Yeah, saya memang orang yang menentang plagiarisme dan segala saudaranya. Tapi saya berusaha untuk tidak munafik. Pembajakan juga varietas lain dari plagiarisme toh. Sudah berapa banyak lagu yang saya unduh dari internet.

Bicara plagiarisme dan sinetron Indonesia. Seperti membicarakan Islam radikal, ada yang memuji ada juga yang mengutuk. Bagi yang memuji ya mereka memang menikmati, dalam beragam alasan tentunya. Ada yang memang seleranya rendahan, mengertinya cuma itu, atau mereka memang murni memuji sebagai bentuk penghormatan terhadap hasil karya dalam negeri.

Buat yang mengutuk…oh ya ada yang secara sederhana karena menentang plagiarisme atau carbon copy. Ada lagi yang membenci karena dibilang sinetron itu tidak mendidik. Ada alasan lainnya? Kualitas yang buruk, akor/aktris yang tidak kompeten, kru yang kacangan, silakan Anda tambahkan.

Silakan lanjut kalau mau..

Reminiscence

reminiscenceOkay here’s just a reminiscence as the title goes.

It’s newspaper clipping I took about a one or two years ago, not from the actual event that is happening right now. My point is: “Been a year already and the situation still the same.”

I know maybe the problem is way too complicated for me. So once again this is just a reminiscence, I didn’t intend to bring up something to be talked about from this photo.

In case you can’t read the text:

Baku tembak sporadis antara pejuang Palestina dan pasukan Israel terjadi di jalur gaza selama beberapa hari terakhir. Israel kemarin (26/12) mengumumkan pembentukan zona pengaman di utara Gaza.

I clip the photo from Kompas article (which it seems Kompas took it from AP Photo),so courtesy comes to anyone this photo belongs to.

Berisik!

Ah, saya tidak sedang membentak Anda kok. Itu kan cuma judul.

Beberapa malam yang lalu saya dengar berita yang cukup lucu di TV. Meski tidak bisa dibilang lucu juga, namanya politik kok dijadikan guyonan. Ah, sudahlah.

Berita mengenai Presiden yang menegur pendemo di depan Istananya. Sekilas saya merasa ini berita yang mengejutkan. Bayangkan saja, presiden menanggapi langsung pendemo yang sudah buang-buang tenaga, waktu, dan uang di depan Istananya sendiri. Meski setelah mendengar berita lengkapnya saya malah jadi senyum-senyum sinis, bahkan akhirnya tertawa juga.

Ternyata beliau menegur pendemo itu bukan karena beliau peduli pada aspirasi yang seharusnya disampaikan pendemo itu. Juga ternyata beliau tidak menegur langsung pendemo, ding. Beliau cuma menegur Kapolri karena pengeras suara pendemo itu mengganggu rapatnya beliau. Kebetulan rapatnya memang tidak ada hubungannya dengan yang diteriakkan para pendemo.

Kok agak lucu ya?

Yah, saya ini memang penganut aliran demo-itu-berisik-dan-cuma-mengganggu cuma saya mengerti. Namanya demo kalau tidak mengganggu dan menciptakan sebuah gelombang tersendiri pada harmoni kehidupan yang berjalan terus dan tidak menarik perhatian agak percuma juga jadinya. Tapi ternyata mereka-mereka itu sudah merencanakan mulai saat itu pendemo dilarang membawa (dan menggunakan?) pengeras suara saat berdemonstrasi.

Alasannya adalah sebagai pendemo mereka memiliki kewajiban untuk tidak mengganggu lingkungan. Yeah, kalau begitu seperti yang dikatakan komentator di TV. Jangan-jangan suatu hari ada Pejabat terkenal yang sedang pusing berat terganggu sama suara keras yang dikeluarkan gedung berkubah setiap pagi-pagi buta. Akhirnya penggunaan pengeras suara diharamkan di Indonesia. Ah, berlebihan amat sih kamu, Nas…

Saya membayangkan sebuah demonstrasi tanpa pengeras suara. Memang tidak jarang dan banyak juga demonstrasi seperti itu. Cuma untuk beberapa jenis demonstrasi yang ditujukan untuk orang-orang yang pendengarannya kurang atau kurang bisa memahami penyampaian visual benda itu dibutuhkan. Tanpa itu pendemo harus keluar biaya lebih untuk air minum, bisa-bisa dehidrasi terus karena kebanyakan teriak. Harus keluar biaya untuk ke dokter THT setelah demonstrasi karena siapa tahu tenggorokannya sobek setelah teriak-teriak gak karuan. Akhirnya sejak saat itu suara para pendemo keras mengecil perlahan-lahan, akhirnya demonstrasi yang biasanya disampaikan dengan tarik urat cuma disampaikan bisik-bisik saja. Jadi seperti gosip yang menyebar dari mulut ke mulut. Akhirnya ketika yang dibicarakan sampai ke telinga Pejabat-pejabat ganteng yang narsis itu mereka bisa dengan mudah berdalih,

“Ah, itu kan cuma gosip…”

…masuk infotainment deh, makin membaurkan kejelasan antara selebritas dengan politisi.

 

Katanya hiatus kamu, Nas?!

Habisnya pengeras suara para pendemo itu berisik sih, jadinya aku ga bisa rapat hiatus dengan tenang.

 

*pulang*

Astaghfirullah…

Tobat, Nas?

Enggak. Itu sih masih seribu tahun lagi *ditendang*

Ah, baiklah. Saya memang masih belum siap untuk tobat. Saya tidak bermaksud memancing keributan dengan judul yang terkesan religius seperti di atas. Judul di atas itu adalah ucapan yang terlontar di dari mulut hati saya ketika saya melihat sesuatu yang…bener deh, ampun…

Tahu kisah terbaru tentang kartun Nabi Muhammad kan? Saya dapat beritanya dari milis ITB, penasaran saya bukalah. Maka komentar saya Astaghfirullah…

Sekian dulu, besok mungkin baru akan saya perbarui entri ini, kalau bisa saya cantumkan komentar lengkap saya tentang kartun itu. Permisi…

p.s. Apakah Pemerintah RI bakal memblokir Worpress gara-gara kejadian ini seperti ketika film FITNA beredar di Youtube? :-?

Update

Mahasiswa

PERHATIAN: Baca ini dengan kepala dingin.

Baru beberapa jam berlalu. Beberapa jam yang lalu Sumpah Pemuda genap berusia 80 tahun. Judulnya Sumpah Pemuda memang berkaitan erat dengan pemuda. Saya rasa saya bisa mengingat ruang kelas SD saya yang di temboknya menggantung salinan teks Sumpah Pemuda yang dihiasi alakadarnya. Hanya saja sejak SMP saya tidak pernah menemukan teks itu lagi di dinding ruang kelas. Bahkan mungkin akan aneh kalau saya menanyakan kenapa tidak ada teks itu di ruang kelas saya di kampus. Padahal pemuda itu bukan anak-anak ingusan yang masih pakai celana/rok merah kan?

Baiklah intro yang terkesan nostalgia. Bicara SP (Sumpah Pemuda) di zaman sekarang saya selalu terbayang mahasiswa. Kita buat singkat saja, meskipun kondisi mahasiswa di zaman SP itu jelas beda dengan mahasiswa sekarang. Kita pasang mindset untuk mahasiswa zaman sekarang. Saya ingin ngomongin mahasiswa zaman sekarang…psst…this would rather be sarcastic or satire…so get a hang of it.

Jangan anggap saya mahasiswa atau pihak tertentu. Anggap saja saya orang luar yang bukan siapa-siapa dan sedang melihat dari luar.

Jujur kalau saya mendengar kata mahasiswa saya lantas terbayang beberapa hal. Salah satunya adalah demonstrasi. Mungkin ini adalah sebuah mindset yang tercipta akibat kejadian ‘98, di mana saat itu kita ingat mahasiswa berhasil ‘menjatuhkan’ sebuah tirani. Mengenang kembali masa ‘60an yang hanya saya ketahui dari buku-buku sejarah. Lama kelamaan sejak saat itu demonstrasi seolah menjadi tren bagi khalayak, tak terkecuali mahasiswa. Ada sedikit ketakcocokan, demo. Ada sedikit kecurigaan, demo. Memang bukan hanya mahasiswa yang demo, tapi yah terkadang mereka masih ikutan juga, demi almamater mereka.

Hmm, sebenarnya tugasnya mahasiswa itu apa sih? Mahasiswa itu siapa sih?

Well, to put it simple…I would like to share my opinion

nginggris dikit.

Lanjutkan membaca ‘Mahasiswa’

Kematian

Puisi untuk orang yang akan mati malam ini.

Lanjutkan membaca ‘Kematian’

Aku

Siapakah aku?
Aku adalah seseorang yang selalu menempel bersama dirimu. Aku lahir bersamamu, hidup bersama, dan mati bersama. Kau berkerja bersama Aku, suksesmu tak jauh dari Aku, dan ketika kau gagal (atau Aku gagal) Aku juga bersamamu.

Lalu siapakah aku?
Aku adalah Aku. Kamu adalah Aku dan Aku adalah kamu. Apa yang Aku lakukan menjadi apa yang kamu lakukan tetapi apa yang kamu lakukan menjadi yang kamu lakukan. Kamu bukan aku tetapi Aku adalah kamu. Aku seperti mata, tangan, kaki, dan mulut yang selalu bersamamu. Tanpa Aku kamu bukan apa-apa tapi tanpa kamu Aku tetap kamu.

Lalu kenapa aku ada kalau Aku ada?
Karena Aku ada untuk kamu berada. Sudah dikatakan tanpa Aku kamu bukan apa-apa. Kalau Aku tidak ada kamu siapa? Aku terikat denganmu, Aku akan selalu bersamamu. Seperti sebuah dosa yang mengikat Adam hingga anak cucunya. Apapun yang Aku lakukan akan berakibat padamu tetapi Aku akan tetap sebagaimana adanya apapun yang kamu lakukan.

Bagaimana agar aku ada?
Kamu tidak pernah ada…yang ada hanya Aku.

 

…gila, jangan hiraukan.

Halaman Berikutnya »


Short Description [ENG]

Writer with eccentric way of thinking.
Always have a thought that this world is no more than a fake play.
Officially a college student,
.
.
.
unofficially a writer.

My Friendster Profile
deviantART page
Plurking Plurker
I'm on Twitter!

Sedang mengutip…

"Nothingness means there's absolutely nothing, so maybe there's no need to understand it or imagine it."

Quoted from from After Dark.